RADAR BOGOR — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan seruan moral dan budaya dalam kunjungannya ke Talaga Manggung, Kabupaten Majalengka.
Acara yang dihadiri ribuan warga ini menjadi momentum penguatan kembali nilai-nilai tradisi, budaya , pendidikan anak bangsa, dan pelestarian lingkungan.
Dalam orasinya, Dedi Mulyadi menyuarakan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan alam.
Ia menegaskan bahwa mencintai tradisi Sunda tidak cukup hanya pada seremonial, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga gunung, hutan, sungai, dan sawah.
“Gunung Ciremai itu indung urang. Ulah diruksak gunungna, susukanana, walunganana,” ujar Dedi Mulyadi, menegaskan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari identitas Sunda.
Dedi Mulyadi juga mengumumkan rencana kerja sama dengan para bupati dan Polda Jabar untuk menerapkan restorative justice terhadap pelaku pelanggaran ringan, khususnya pencurian kecil.
Ia menawarkan pendekatan baru, yaitu pelatihan disiplin ala militer sebagai pengganti hukuman penjara.
“Daripada maling hayam dipenjara, mending dibarak militerkeun, sina kuli, sina diajar kerja. Lebih murah, lebih manusiawi, dan menyelamatkan masa depan keluarganya,” katanya.
Isu pendidikan menjadi perhatian utama Dedi, terutama untuk anak-anak korban musibah dan dari keluarga miskin.
Ia mendorong warga untuk menyiapkan generasi muda yang disiplin, terdidik, dan bebas dari pengaruh negatif seperti game daring, narkoba, atau tawuran.
“Budak urang kudu bisa sakola nepi ka sarjana. Disiplin ku tentara, diajar mencintai lemah cai."
Tak lupa, Dedi Mulyadi juga menekankan pentingnya keteladanan gaya hidup sederhana dan produktif.
Dedi Mulyadi mencontohkan dirinya sendiri yang beternak dan berkebun sebagai bagian dari filosofi hidup Sunda yang membumi.
Dari pesan yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, perihal Lingkungan, Budaya, dan Pendidikan bisa menjadi suntikan semangat untuk kemajuan Majalengka dan Jawa Barat.***
Editor : Eli Kustiyawati