RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa kedisiplinan merupakan salah satu upaya untuk kemajuan bangsa.
Meski program pendidikan di barak militer diwarnai pro kontra dari berbagai pihak, Dedi Mulyadi tetap melanjutkannya melalui program pendidikan berkarakter.
“Hari ini kita disadarkan pada sebuah peristiwa di mana kita sering buta mata, sering tuli telinga kita, sering gagu lidah kita, ketika anak-anak berteriak di jalanan mengusung sangkur, celurit berkejaran, orang menjerit kita hanya bisa diam,” ungkapnya dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Lebih lanjut ia mengungkapkan saat mereka di sudut-sudut kota menenggak obat terlarang, minuman alkohol lalu pulang marah ke orang tua, semua nyaris hanya terdiam. Termasuk ada kasus anak yang tega menganiaya sang kakek gara-gara dilarang main game online.
Saat semua sikap negatif generasi penerus bangsa itu terjadi, kata Dedi tidak ada solusi tepat, hanya dua saja, bisa berpeluang tidak sembuh atau malah makin menjadi.
“Ketika anak-anak kita menghabiskan waktu main game online sampai jam 4 pagi, tidak masuk sekolah, di rumah ngamuk mengancam orang tuanya kita hanya bisa diam. Proses hanya dua pidana dan penjarakan dalam penjara anak,” ungkap Dedi.
Padahal menurutnya, semua akibat negatif terjadi karena tidak paham adanya lorong-lorong kegelisahan pada mereka yang bermasalah dan masih usia sekolah.
Ia memaparkan bahwa selama ini, mereka yang terpinggirkan di rumah maupun sekolah, tidak ada seseorang atau pihak memberikan solusi bijak.
“Orang-orang yang terpinggirkan di rumah, orang-orang yang terpinggirkan di sekolah. Semua orang hanya memberikan pengamatan analisis kajian,” ujarnya.
“Itulah metodologi yang dikembangkan bangsa ini tetapi tidak ada yang berani mengambil solusi,” sambungnya.
Menurut pendapatnya kedisiplinan militer merupakan harga mati bagi kemajuan bangsa bukan musuh. Mereka yang menolak, kata Dedi berarti tidak suka anak Indonesia bangkit.
Selain itu menurutnya, mengatasi anak bermasalah dengan mengikuti pendidikan militer bukan termasuk pelanggaran hak, justru hak mereka terpenuhi. Sedangkan semangat militer yang ditanamkan dalam benak mereka usia sekolah, justru menjadikan karakter lebih baik.
“Semangat militer bukan militerisasi, kalau anak-anak dibangunkan jam 4 subuh di mana letak salahnya dan di mana letak pelanggarannya. Kalau anak-anak dibangunkan kemudian disuruh membersihkan tempat tidur apa salahnya,” ujar Gubernur Jawa Barat.
Banyak contoh perilaku rutin keseharian dari subuh sampai malam menjelang tidur termasuk makan bergizi, olahraga, belajar, yang disebutkan Dedi Mulyadi saat anak-anak SMP, SMA bermasalah ikut pendidikan di barak.
Menurut pendapatnya, dari hal-hal seperti itu, hak anak otomatis terpenuhi, bukan hanya fisik, tetapi mental, moral dan spiritual.
“Justru hak-hak anak terdapat di barak pendidikan TNI dan hak itu tidak mereka dapatkan di rumah,” ungkap Dedi Mulyadi saat menghadiri upacara Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2025 di Lapangan Gasibu, Halaman Gedung Sate, Kota Bandung.***
Editor : Eka Rahmawati