RADAR BOGOR – Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha untuk mencetak lulusan yang siap memasuki pasar kerja.
Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan MoU antara pengelola Sekolah Maung (Manusia Unggul) dengan puluhan perusahaan dan pelaku industri di Jawa Barat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih selaras dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga lulusan SMK memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan industri.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mengatakan penandatanganan kerja sama kali ini melibatkan 13 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maung dan 26 mitra industri dari berbagai sektor.
Sejumlah perusahaan yang bergabung di antaranya PT Solu Filantropi Teknologi, PT Usaha Adi Sanggoro, Hotel Novotel Bogor, hingga PT Sepa Coklat Indonesia.
Menurut Purwanto, Jawa Barat memiliki potensi besar untuk memperkuat pendidikan vokasi karena terdapat sedikitnya 1.123 perusahaan yang berpeluang menjadi mitra pengembangan kompetensi siswa.
Baca Juga: Perpustakaan Gasibu Bertransformasi jadi Digital, Pemprov Jabar Siapkan Layanan Keliling
Sementara itu, 13 SMK Maung saat ini memiliki 99 konsentrasi keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
"Perusahaan-perusahaan ini dapat menjadi laboratorium pembelajaran nyata bagi para siswa. Dengan begitu, mereka memperoleh pengalaman langsung sekaligus memahami keterampilan yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia industri," ujar Purwanto di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Senin 13 Juli 2026.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menilai kerja sama tersebut merupakan salah satu strategi untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan yang masih dihadapi daerah.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri harus terus diperkuat agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif.
Herman menuturkan, Indonesia akan memasuki periode bonus demografi dalam beberapa tahun mendatang.
Kondisi tersebut harus dimanfaatkan dengan menyiapkan generasi muda agar memiliki kemampuan bekerja maupun berwirausaha.
"Target kita adalah melahirkan generasi yang pada tahun 2045 mampu menjadi pemimpin masa depan, bukan justru menghadapi kesulitan karena tidak memiliki daya saing. Untuk itu, mereka harus dibekali kompetensi yang relevan sejak di bangku sekolah," kata Herman.
Baca Juga: Rayakan Ultah ke 26 Tahun, Syifa Hadju Dibanjiri Doa dari Warganet
Ia juga mengingatkan bahwa bonus demografi dapat berubah menjadi tantangan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, tanpa kesiapan yang matang, Indonesia berpotensi menghadapi jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Melalui kolaborasi yang semakin erat antara SMK dan dunia industri, Pemprov Jawa Barat berharap lulusan pendidikan vokasi memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sekaligus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan daya saing bangsa. (***)
Editor : Yosep Awaludin