Dedi Mulyadi Ingatkan Orang Tua Batasi Gawai pada Anak, Ini Alasannya

Eka Rahmawati • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 15:59 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengimbau orang tua untuk membatasi penggunaan gawai. (Dok. Pemprov Jabar)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengimbau orang tua untuk membatasi penggunaan gawai. (Dok. Pemprov Jabar)
RADAR BOGOR - Pola hidup anak yang terlalu sering menggunakan gawai menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan menurutnya, kebiasaan tersebut dapat memicu berbagai persoalan kesehatan karena anak-anak menjadi kurang aktif bergerak sehingga nutrisi yang masuk ke dalam tubuh tidak dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi.

Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, menyampaikan kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit pada usia dini. Bahkan, sejumlah penyakit yang selama ini identik dengan orang dewasa, seperti diabetes dan gagal ginjal, mulai banyak ditemukan pada anak-anak. Selain gangguan fisik, kurangnya aktivitas juga dinilai berpengaruh terhadap kestabilan emosi anak.

"Ancaman masa depan bukan hanya kekurangan gizi, tetapi nutrisi dan gizi yang tidak dikelola jadi energi," ujar Dedi Mulyadi saat menghadiri Seminar Nasional dan Deklarasi Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045 bertema "Membangun Bangsa yang Sehat, Mandiri, Inovatif, dan Berdaya Saing Global" di Gedung GBI Bethel Summarecon, Kota Bandung, belum lama ini sebagaimana dilansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Baca Juga: Viral Mobil Melintasi Jembatan untuk Motor, Dedi Mulyadi: Perilaku Warga Harus Diluruskan

Untuk mencegah kondisi tersebut, KDM mengimbau para orang tua agar membiasakan anak menjalani pola hidup yang lebih aktif dan mendorong keluarga mengurangi waktu penggunaan gawai dan memperbanyak aktivitas fisik, sekaligus memperhatikan pola konsumsi dengan membatasi makanan maupun minuman yang mengandung gula tinggi dan kurang menyehatkan.

Pada kesempatan yang sama, KDM mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang menyiapkan kebijakan guna memperkuat pemenuhan gizi bagi ibu hamil.

Melalui skema yang tengah dirancang, ibu hamil yang membutuhkan asupan tambahan nantinya diharapkan dapat memperoleh akses lebih mudah terhadap makanan bergizi sebagai bentuk perlindungan dari negara.

"Ketika yang hamilnya bermasalah maka dia boleh ke toko, minimarket atau ke manapun untuk mengambil makanan yang dikonsumsi selama hamil. Ini sedang kita rumuskan karena tanggung jawab negara," jelasnya.

Lebih lanjut, KDM menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, negara harus memastikan setiap warga memperoleh akses terhadap pangan bergizi, minuman yang layak dikonsumsi, serta lingkungan dengan kualitas udara yang baik demi mendukung kesehatan masyarakat.

"Seluruhnya negara harus bertanggungjawab terhadap itu. Memperhatikan aspek material manusia perkembangannya dalam setiap waktu," katanya.

Editor : Eka Rahmawati
dedi mulyadi gawai