Sekda Diperintahkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Bongkar Bangunan Liar dan Tambang sekitar Legok Nangka

Lucky Lukman Nul Hakim • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 20:05 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi perintahkan Sekda bongkar bangunan liar.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi perintahkan Sekda bongkar bangunan liar.

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi meminta penataan menyeluruh di kawasan sekitar Legok Nangka, Kabupaten Bandung. 

KDM (sapaan kang Dedi Mulyadi) menyoroti keberadaan bangunan liar serta aktivitas penambangan yang dinilai berpotensi mengancam keselamatan infrastruktur dan meningkatkan risiko bencana di masa mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menghadiri acara Groundbreaking Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka, Rabu (29/7/2026).

Bangunan Liar dan Tambang Jadi Sorotan

Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi mengaku, selalu memperhatikan kondisi lingkungan di sepanjang perjalanan menuju lokasi acara. 

Baca Juga: Kisah Sukses Rosidah UMKM Asal Sumenep, 2 Dekade Berjuang Besarkan Usaha Gula Merah dan Berkembang Berkat KUR BRI

Dari pengamatannya, ia menemukan kawasan di sekitar jembatan menuju terowongan Legok Nangka telah dipenuhi bangunan liar yang berkembang tanpa pengendalian.

Karena itu, Dedi Mulyadi langsung meminta Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat segera mengambil langkah penertiban terhadap bangunan-bangunan tersebut agar tidak semakin meluas dan mengganggu fungsi kawasan.

"Saya selalu memperhatikan kondisi di kanan dan kiri jalan. Di sekitar jembatan menuju terowongan Legok Nangka, bangunan liar sudah mulai tumbuh tidak terkendali. Ini harus segera dibersihkan," ujar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Selain bangunan liar, Dedi Mulyadi juga menyoroti aktivitas penambangan yang berada di sekitar infrastruktur vital tersebut. 

Menurut KDM, kegiatan tambang yang disertai penggunaan bahan peledak dapat membahayakan konstruksi jembatan maupun terowongan apabila tidak segera dikendalikan.

Mitigasi Dinilai Lebih Penting daripada Penanganan Bencana

Dedi Mulyadi menegaskan, pemerintah harus mengedepankan langkah pencegahan dibanding hanya fokus pada penanganan setelah bencana terjadi.

Ia mengingatkan, kerusakan infrastruktur akibat aktivitas yang tidak terkendali dapat memicu longsor, keruntuhan jembatan, hingga kebakaran.

"Mitigasi jauh lebih penting daripada menangani bencana. Biaya pencegahan tentu jauh lebih kecil dibanding biaya yang harus dikeluarkan setelah terjadi kerusakan," kata KDM.

Baca Juga: Bank bjb Catat Kinerja Positif, Aset Tembus Rp228,2 Triliun, Laba Tumbuh 58,8 Persen

Ia pun meminta, aktivitas penambangan di kawasan tersebut segera dievaluasi dan ditertibkan demi menjaga keselamatan masyarakat serta keberlangsungan infrastruktur strategis.

Kawasan Diusulkan Menjadi Ruang Terbuka Hijau

Lebih lanjut, Dedi Mulyadi berharap, penataan ruang di sekitar Legok Nangka diarahkan menjadi kawasan hijau yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Menurutnya, area yang selama ini dimanfaatkan untuk aktivitas tambang sebaiknya dialihkan menjadi ruang terbuka hijau (RTH) sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengurangi risiko bencana.

Dalam kesempatan itu, Dedi Mulyadi juga menyampaikan, harapannya agar kebijakan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam memperkuat perlindungan lingkungan. 

Dengan gaya khasnya, ia menutup pernyataan dengan selipan humor mengenai kecintaan masyarakat Sunda terhadap pemandangan yang hijau.

"Kata orang Sunda, lamun ningali duit sok hejo," katanya.

Pesan tersebut menegaskan komitmen Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bahwa pembangunan harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan, penataan ruang yang baik, dan langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya bencana di masa depan. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
dedi mulyadi Legok Nangka KDM gubernur jawa barat PSEL