RADAR BOGOR - Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKN-T Inovasi) IPB University tahun 2025 melaksanakan pemasangan dan sosialisasi Automatic Weather Station (AWS) di Dusun Kedungpoh Kidul, Kelurahan Kedungpoh, Kabupaten Gunungkidul.
Pemasangan AWS yang dilakukan mahasiswa KKN-T Inovasi IPB University ini untuk mendukung pertanian presisi yang adaptif terhadap perubahan iklim dengan menyediakan data cuaca aktual dan prakiraan harian yang dapat diakses masyarakat secara daring.
Pemasangan AWS dan sosialisasi dihadiri Ketua Badan Permusyawaratan Kelurahan (Bamuskal), Kepala Dusun se-Kelurahan Kedungpoh, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), dan sekitar 50 orang warga.
Baca Juga: Pria Terduga Jaringan Teroris Ditangkap Densus 88 Polri, Baru Tinggal 6 Bulan di Rumpin Bogor dan Jualan Tanaman Hias
Dalam pemasangan AWS dilakukan pada pukul 08.00 - 10.00 Wib di area Lumbung Mataraman, kemudian dilanjutkan sosialisasi dan pelatihan penggunaan data cuaca pada pukul 10.00 - 12.30 Wib di Balai Dusun Kedungpoh Kidul.
Muchayat Aziz Syahputra salah satu mahasiswa KKN IPB University mengungkap, AWS yang dipasang itu merupakan bagian dari program Empowering Agromaritime Society for Socio-Economic Resilience.
"Alat ini mampu merekam data seperti suhu udara, kelembaban, curah hujan, intensitas cahaya matahari, serta kecepatan dan arah angin," ujarnya kepada Radar Bogor, Minggu 20 Juli 2025.
"Dengan dukungan dari platform Sinaubumi sebagai mitra penyedia server, data yang terekam dapat dipantau secara real-time dan digunakan untuk memprediksi kondisi cuaca hingga 10 hari ke depan," sambung dia.
Baca Juga: Penerapan Jam Malam di Depok Belum Maksimal, Banyak Remaja Nongkrong Hingga Larut Malam, Begini Penampakanya
Kemudian, kata Aziz dalam acara sosialisasi juga berjalan secara interaktif. Para warga memberikan antuasias yang tinggi.
"Warga dikenalkan pada komponen AWS, cara membaca data, serta potensi pemanfaatannya dalam menentukan waktu tanam, menyusun strategi irigasi, dan mengantisipasi risiko pertanian," jelas dia.
Bahkan, kata dia, dalam momen itu ada hal menarik terjadi ketika saat Ketua Bamuskal, Prapto Sediyono dengan nada bercanda menanggapi data perkiraan.
"Dari data ramalan, tanggal 27 itu hujan ya, awas kalau salah ya," tutur dia.
Kata dia, sontak gurauan itu disambut tawa riuh dari peserta. Tim mahasiswa menjelaskan bahwa akurasi prediksi akan meningkat seiring waktu, idealnya setelah pengumpulan data harian selama tiga bulan hingga satu tahun.
Sementara itu, Ketua RW 001 sekaligus Ketua Kelompok Tani Suyadi mengatakan, para petani berharap keberadaan AWS dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan serta membuka ruang diskusi lanjutan.
"Termasuk integrasi data cuaca dengan sistem peringatan dini hama tanaman," ujar Suyadi.(rp2)
Editor : Alpin.