Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Warung Kopi Cibulao, Etalase Perjuangan Petani dari Lereng Puncak Bogor

Muhammad Ali • Kamis, 27 November 2025 | 22:37 WIB
Ketua Kelompok Tani Cibulao Hijau Karyono saat menyampaikan keterangan kepada Radar Bogor.
Ketua Kelompok Tani Cibulao Hijau Karyono saat menyampaikan keterangan kepada Radar Bogor.

RADAR BOGOR - Di tepi jalan berliku menuju kawasan Puncak, aroma kopi hangat tercium dari sebuah warung sederhana berdinding kayu.

Di sanalah, Karyono sosok di balik nama besar Kopi Cibulao menyeduh cita rasa khas lereng Bogor yang kini dikenal hingga ke berbagai daerah hingga mancanegara

Namun bagi Karyono, warung kopi bukan sekadar tempat berjualan, ia menyebut kedainya sebagai etalase perjuangan untuk memperkenalkan hasil bumi dan jati diri petani Cibulao.

“Warung kopi itu salah satu jadi etalase untuk kita perjuangkan, untuk mengenalkan diri, karena selain punya produk kita juga harus memperkenalkan jati diri, salah satunya lewat warung kopi ini,” ujar Karyono kepada Radar Bogor.

Warung kopi pertamanya berdiri di kawasan Cisarua pada 2020 dan dari situlah perjalanan usahanya dimulai, diikuti dua cabang lain yang kemudian dibuka di Cipayung dan kawasan atas Cibulao.

“Inspirasi awalnya karena saya ingin ngangkat kopi itu bukan cuma buat di sini aja, masyarakat banyak mau enggak mau harus punya tempat untuk mengenalkan produk minimal dengan etalase, orang jadi tahu dan kopi kita dikenal,” katanya.

Meski kini Kopi Cibulao dikenal luas, Karyono tidak berjalan sendiri, ia tetap membuka ruang bagi petani lain untuk turut memasarkan hasil panennya di warung miliknya.

“Kalau permintaan banyak, ya kita ambil juga dari teman-teman sekitar, masyarakat di sini semuanya bisa menjual, kita sebagai ketua ya narik yang di belakang, bantu promosikan,” ujarnya.

Karyono mengaku perjalanan membangun warung kopi tidak selalu mudah, selain biaya besar, ia juga harus beradaptasi dengan kebiasaan baru di tengah pandemi.

“Kalau dibilang sulit ya sulit, tapi tergantung orangnya, kalau hidup dibawa enjoy ya enjoy aja, walaupun banyak tantangan, kalau dinikmatin ya enak,” tuturnya.

Modal awal yang dikeluarkannya pun tak sedikit, dari tiga kedai yang pernah dibangun, total biaya mencapai sekitar Rp400 juta sampai Rp 500 juta. Salah satunya bahkan sempat tutup karena pandemi, sebelum kemudian dibuka kembali di lokasi berbeda.

Kini, Karyono mempekerjakan tiga orang di kedai kopi dan dua orang di kebun, tetapi yang membuatnya bangga bukan soal omzet, melainkan perubahan sosial di lingkungannya.

“Dulu anak-anak di sini banyak yang putus sekolah, sekarang banyak yang jadi barista, punya skill, bahkan ada yang kerja di luar daerah dan luar negeri, jadi nilai plus dari kopi itu bukan cuma soal jualan,” ungkapnya.

Warung kopi Cibulao juga menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda desa untuk belajar tentang kopi, mulai dari penyeduhan hingga pemasaran. Menunya pun beragam, dari seduhan robusta dan arabika hingga aneka makanan sarapan khas kampung.

“Kalau soal menu kopi, sekarang saya serahkan ke anak-anak muda, mereka lebih paham soal barista dan metode seduh. Kita yang tua fokusnya di budidaya,” katanya.

Meski begitu, Karyono tak menampik bahwa pendapatan dari warung kopi masih terbilang kecil.

“Omzet kotor dari kedai aja paling sekitar sepuluh juta per bulan tapi itu belum potong gaji karyawan dan belanja bahan, jadi anggap aja kedai ini alat promosi, bukan sumber utama,” ujarnya.

Bagi Karyono, kopi bukan hanya soal minuman atau penghasilan, di balik setiap cangkirnya, ada nilai gotong royong, semangat berbagi, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.

“Tujuan saya bukan cuma ekonomi, kalau kita dibutuhkan masyarakat, ya kita bantu, enggak harus dengan uang, tapi lewat pengalaman dan ilmu yang bisa dibagikan,” tutupnya. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #puncak #cibulao #kopi