Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

IPB University Ajak Pemerintah Kabupaten Bogor Kolaborasi, Cegah Pernikahan Anak Melalui Program Sekolah Pra Nikah

Kholikul Ihsan • Minggu, 14 Desember 2025 | 15:05 WIB
Beberapa para peserta program sekolah pra nikah yang diselenggarakan Kabupaten Bogor dan IPB University.
Beberapa para peserta program sekolah pra nikah yang diselenggarakan Kabupaten Bogor dan IPB University.

RADAR BOGOR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor bersama IPB University kolaborasi melalui program edukatif bertajuk Sekolah Pra Nikah, ribuan generasi muda dibekali pengetahuan, nilai kehidupan, dan kesiapan menuju keluarga berkualitas.

Program inovatif Sekolah Pra Sekolah ini, bukti keseriusan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bogor berkolaborasi dengan Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) serta FEMA IPB University.

Kegiatan puncak berupa Wisuda Sekolah Pra Nikah Tahun 2025 berlangsung di SG 1 Cibinong, Bogor, Sabtu, 13 Desember 2025.

Bekal Generasi Muda Hadapi Tantangan Zaman

Mewakili Bupati Bogor, Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, menyebut program Sekolah Pra Nikah sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga dan perlindungan anak.

Menurutnya, remaja saat ini menghadapi tantangan serius seperti pola konsumsi yang tidak sehat, pengaruh gaya hidup hedonistik, degradasi nilai keimanan, serta dampak negatif media sosial.

“Sekolah pra nikah ini menanamkan pemahaman bahwa pernikahan bukan sekadar urusan sesaat, melainkan perjalanan panjang yang sarat tanggung jawab, baik di dunia maupun di akhirat,” tegas Ajat, dikutip dari laman bogorkab.go.id.

Ajat juga menyoroti demografi Kabupaten Bogor yang mayoritas berusia produktif. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, menurutnya, menjadi kunci agar permasalahan sosial seperti pernikahan anak dan pengangguran tidak menghambat Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Jawa Barat Tertinggi Nasional untuk Pernikahan Anak

Baca Juga: KPM Jangan Salah Paham! Survei BPS 2026 Bukan Syarat Dapat Bansos, Penerima PKH Bisa Dicoret Jika Abaikan Aturan Ini

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bogor, Sussy Rahayu Agustini, mengungkapkan bahwa dari total penduduk Kabupaten Bogor sekitar 5,8 juta jiwa, sekitar 1,78 juta di antaranya merupakan anak di bawah usia 18 tahun.

Sayangnya, Jawa Barat masih mencatat angka pernikahan anak tertinggi secara nasional, dimana Kabupaten Bogor termasuk daerah dengan kasus terbanyak.

Sussy menjelaskan, pernikahan anak memiliki dampak besar terhadap kesehatan, pendidikan, dan psikologis anak, terutama bagi perempuan.

“Risiko kehamilan di usia muda, kematian ibu dan anak, serta kekerasan dalam rumah tangga merupakan dampak nyata yang perlu kita hindari,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan penyebab utama pernikahan anak antara lain kemiskinan, rendahnya akses pendidikan, tekanan budaya, serta pengaruh media sosial. Karena itu, DP3AP2KB bersama IPB University mendorong pendidikan pranikah sebagai bentuk preventive action.

IPB University: Pemkab Bogor Visioner Siapkan Generasi Berkualitas

Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, Prof. Sofyan Sjaf, menilai langkah Pemkab Bogor sangat visioner. Program Sekolah Pra Nikah dinilainya bukan hanya solusi jangka pendek, melainkan investasi sosial untuk mencegah lahirnya “generasi hilang”.

“Kabupaten Bogor sudah berpikir jauh ke depan. Jika anak-anak menikah terlalu dini, kualitas sumber daya manusianya akan menurun. Itu risiko serius bagi masa depan bangsa,” ujar Prof. Sofyan.

Menurutnya, kolaborasi antara DP3AP2KB dan Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University sangat penting agar proses edukasi dan pendampingan bagi remaja berjalan berkelanjutan. IPB berperan memberikan pendekatan akademik dan riset berbasis data dalam setiap tahapan pelatihan.

Prof. Sofyan juga mengingatkan soal fenomena generasi hilang, di mana usia produktif yang meninggalkan desa untuk bekerja di kota justru tidak mampu terserap di dunia kerja akibat rendahnya kualitas SDM.

“Inilah pentingnya pendidikan pra nikah membentuk karakter dan kesiapan hidup sejak dini,” tambahnya.

Lebih Siap Hadapi Masa Depan

Baca Juga: Jelang Nataru, Harga Cabai Rawit Merah Makin Pedas, Tembus Rp90 Ribu per Kilogram

Salah satu peserta, Sinta Ariyani Irawan, mengaku kegiatan ini memberi makna mendalam dalam membentuk pribadi yang lebih matang dan bertanggung jawab.

“Saya semakin memahami bahwa pernikahan bukan sekadar urusan cinta, tetapi sebuah komitmen besar yang menuntut kesiapan mental, pengetahuan, serta kondisi keuangan yang mapan. Menunda bukan berarti menolak, tapi menyiapkan diri agar mampu membangun keluarga yang kuat,” ujarnya.

Sinergi Pemerintah dan Kampus Jadi Model Nasional

Baca Juga: Talkshow hingga Career Fair, Kejar Mimpi Fest 2025 Jadi Ruang Tumbuh Anak Muda

Kegiatan wisuda turut dihadiri oleh unsur Forkopimcam, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Bogor, para akademisi IPB University, dan tokoh masyarakat.

Kegiatan ini diharapkan menjadi role model kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mencegah pernikahan dini.

Melalui pendekatan holistik edukasi, riset, dan pendampingan psikologis program Sekolah Pra Nikah dinilai mampu melahirkan agen perubahan yang menularkan nilai positif di lingkungannya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #sekolah pra nikah #ipb university