RADAR BOGOR — Riuh bunyi terompet selalu menjadi penanda datangnya malam pergantian tahun. Suaranya memecah keheningan, menghadirkan euforia dan harapan baru.
Namun, di balik nyaringnya terompet yang ditiup anak-anak hingga orang dewasa, tersimpan kisah perjuangan para pengrajinnya yang menggantungkan hidup dari momen singkat di penghujung tahun.
Salah satunya Arif, pengrajin sekaligus penjual terompet keliling. Sejak 2010, ia menekuni pembuatan terompet secara mandiri.
Berawal dari sekadar ikut-ikutan teman, rasa penasaran membawanya mencoba membuat terompet sendiri hingga akhirnya menjadi mata pencaharian musiman yang terus ia jalani setiap akhir tahun.
“Ikut-ikut teman sih. Namanya kita orang lihat, oh caranya gini, nyoba kan iseng-iseng. Oh ternyata kayak gini, ya sudah dijalanin saja,” ujar Arif kepada Radar Bogor, Kamis 25 Desember 2025.
Bagi Arif, berjualan terompet hanya berlangsung dalam waktu singkat. Ia biasanya mulai berjualan sejak momen Natal, sekitar sepekan menjelang pergantian tahun. Puncak penjualan terjadi tepat pada malam tahun baru, sebelum kemudian aktivitas tersebut berhenti.
“Kalau kita keliling mah nggak tentu. Kadang masuk daerah sini, Cibinong, kadang Parung, kadang Depok, nggak tentu, namanya bukan makanan kan, maksudnya nggak di satu titik,” imbuhnya.
Cuaca menjadi kendala utama yang hampir selalu dihadapi setiap pergantian tahun, hujan kerap turun dan memaksa para pedagang menghentikan aktivitas lebih cepat dari rencana.
“Kita mah sudah terbiasa, namanya tahun baru kan nggak jauh-jauh sama hujan. Kalau hujan mah ya biasa, tetap saja bertahan,” ucapnya.
Terkait adanya imbauan atau larangan perayaan tahun baru dari pemerintah daerah, Arif menilai hal tersebut tidak terlalu berdampak pada penjualannya.
Ia tetap menyasar kampung-kampung dan anak-anak yang masih antusias membeli terompet.
“Keluhannya kita mah dihujan, kalau masalah larangan, selama belum dilarang total, kita mah ya harus makan kan. Ya sudah, tetap saja jalan. Bagaimana nanti saja, rezeki ada di depan,” tuturnya.
Untuk harga, Arif menawarkan terompet mulai dari Rp15 ribu untuk model standar.
Sementara terompet dengan bentuk unik, seperti ayam atau naga, dibanderol Rp25 ribu. “Barang kayak gini kan keluarnya setahun sekali, jadi orang-orang juga ngerti,” katanya.
Soal penjualan, jumlah terompet yang terjual setiap hari tidak menentu. Jika sedang ramai, Arif bisa menjual hingga dua kodi dalam sehari.
Namun saat sepi, ia tetap bersyukur selama hasilnya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Nggak tentu, namanya juga rezeki. Yang penting usaha. Buat makan mah ada,” pungkasnya sambil tersenyum.
Usai momen tahun baru berlalu, Arif tak lantas berhenti bekerja. Ia kembali berjualan mainan kerajinan tangan lainnya, seperti kapal-kapalan yang bisa berputar di air sambil mengeluarkan bunyi.
Bagi Arif, terompet bukan sekadar mainan penyemarak malam pergantian tahun. Terompet adalah simbol perjuangan, harapan, dan ketekunan dalam menjemput rezeki di tengah keterbatasan waktu dan cuaca.(cr1)
Editor : Alpin.