RADAR BOGOR - Penggunaan antibiotik dalam pengendalian penyakit selama ini masih menjadi andalan, baik di sektor kesehatan manusia maupun akuakultur.
Namun, pendekatan tersebut dinilai tidak lagi relevan untuk jangka panjang karena berisiko memicu resistensi antimikroba serta meninggalkan residu pada produk perikanan.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Sri Nuryati menegaskan, ketergantungan terhadap antibiotik perlu segera dikurangi bahkan ditinggalkan.
Baca Juga: Terjebak Paradox Pembiayaan, Guru Besar IPB Tawarkan Solusi Revolusioner untuk Kredit Petani
Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar yang digelar di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga pada 25 April 2026, ia menyampaikan, penggunaan antibiotik merupakan paradigma lama yang tidak sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Menurut Prof. Sri Nuryati, masa depan akuakultur harus mengarah pada sistem yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa fokus pengelolaan budidaya tidak lagi bertumpu pada pengobatan penyakit, melainkan pada upaya pencegahan sejak dini guna menjaga kesehatan organisme dan keamanan pangan.
Baca Juga: Timnas Esports Indonesia Umumkan Daftar Pelatih untuk ENC 2026, Cek di Sini Nama-namanya
Pendekatan preventif tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan imunostimulan, probiotik, hingga vaksinasi.
Dikutip Radar Bogor di laman resmi IPB, ia menyontohkan keberhasilan Norwegia dalam mengurangi penggunaan antibiotik di sektor akuakultur dengan mengoptimalkan vaksin.
Negara tersebut bahkan telah hampir sepenuhnya meninggalkan antibiotik karena vaksin terbukti mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan.
Baca Juga: Cek Ciri KPM yang Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 Cair Akhir April 2026, Status SIKS-NG Sudah Berubah
Lebih lanjut, Prof. Sri Nuryati menerangkan bahwa vaksin bekerja dengan melatih sistem imun organisme budidaya agar mampu merespons serangan patogen secara lebih cepat dan kuat.
Mekanisme ini serupa dengan vaksin pada manusia yang bertujuan meningkatkan kesiapan sistem kekebalan tubuh.
Perkembangan menarik juga terjadi pada penelitian vaksin untuk udang.
Baca Juga: Harga Beras SPHP Sesuai HET, Pemerintah Batasi Pembelian Maksimal 25 Kilogram
Sebelumnya, udang dianggap tidak dapat divaksin karena hanya memiliki sistem imun bawaan.
Namun, temuan terbaru menunjukkan adanya mekanisme trained immunity yang memungkinkan udang membentuk respons perlindungan terhadap infeksi berulang.
Ia menambahkan, temuan ini membuka peluang besar dalam pengembangan teknologi vaksin pada komoditas udang, yang selama ini rentan terhadap serangan penyakit.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya risiko wabah penyakit, transformasi menuju sistem akuakultur berbasis pencegahan dinilai semakin mendesak.
Integrasi inovasi teknologi, penerapan praktik budidaya yang baik, serta kesiapan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor ini.
Baca Juga: Belum Cair per 26 April 2026? Ini Penjelasan Status Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 di SIKS-NG
Prof. Sri Nuryati menekankan bahwa arah pengembangan akuakultur ke depan harus berfokus pada pencegahan, karena langkah tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan mengobati penyakit setelah terjadi. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti