Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sumur Kering Imbas Musim Kemarau, Masjid Rafifah di Cijayanti Bogor Mengalirkan Harapan untuk Warga

Muhammad Ali • Selasa, 14 Juli 2026 | 17:51 WIB
Warga mengambil air di Mesjid Afiffah, Cijayanti, Kabupaten Bogor, Selasa, 14 Juni 2026. (Hendi Novian/Radar Bogor)
Warga mengambil air di Mesjid Afiffah, Cijayanti, Kabupaten Bogor, Selasa, 14 Juni 2026. (Hendi Novian/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Kemarau belum mencapai puncaknya, tetapi dampaknya sudah dirasakan warga Kampung Pasir Karet, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Sejumlah sumur mulai kehilangan debit air, memaksa warga mencari sumber air bersih lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kondisi itu, Masjid Rafifah menjadi tempat yang tak hanya didatangi untuk menunaikan ibadah. Mata air yang mengalir ke masjid tersebut kini menjadi tumpuan harapan warga. 

Setiap hari, terutama menjelang malam, halaman masjid dipenuhi warga yang datang membawa jeriken, ember, hingga galon untuk mengambil air.

Bagi Bahrudin, marbot Masjid Rafifah, pemandangan itu sudah menjadi rutinitas sejak sekitar tiga pekan terakhir. 

Baca Juga: Polres Bogor Sambangi Kodim 0621, Kompak Kawal Program Prioritas Nasional dan Stabilitas Daerah

Ia melihat semakin banyak warga yang bergantung pada pasokan air dari masjid karena sumur di rumah mereka mulai mengering.

"Kurang lebih sudah tiga minggu warga sekitar, apalahi dari Kampung Pasir Karet, sudah pada mengambil air ke masjid, alhamdulillah air di sini masih ada, biarpun sekarang sudah terbatas," ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa, 14 Juli 2026.

Menurutnya, sumber air Masjid Rafifah berasal langsung dari mata air pegunungan yang masih terlindungi kawasan hutan di bagian atas kampung, itulah yang membuat aliran air tetap bertahan meski musim kemarau mulai mengurangi debitnya.

Masjid Rafifah ternyata sudah lama menjadi tempat warga mencari air ketika musim kemarau datang, fenomena itu berulang hampir setiap tahun, terutama saat sumber air di permukiman mulai mengering.

"Kalau dari warga sudah kekurangan air, jadi larinya ke masjid ini," tuturnya.

Ia mengungkapkan, kesibukan di halaman masjid justru meningkat saat malam hari. Selepas bekerja, warga bergantian mengisi wadah yang mereka bawa, aktivitas itu bahkan kerap berlangsung hingga larut malam.

"Gak tentu (waktunya), kadang-kadang siang, barusan juga kan ada. Tapi kebanyakan malam jam sebelas atau jam dua belas sudah mengambil, apalagi kan pada kerja kalau siang, jadi mengambilnya waktu malam hari," ungkapnya.

Air yang dibawa pulang digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci hingga keperluan sehari-hari.

Seluruhnya berasal dari mata air yang hingga kini masih mampu mengalirkan kehidupan bagi warga sekitar.

Di tengah kemarau yang perlahan mengeringkan sumur-sumur warga, Masjid Rafifah menghadirkan makna lain sebagai ruang kebersamaan dan kepedulian. 

Dari mata air yang mengalir di kaki pegunungan, warga menemukan harapan bahwa di tengah keterbatasan, masih ada sumber kehidupan yang dapat mereka andalkan. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
bogor Cijayanti sumur kemarau