RADAR BOGOR - Telur menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Namun, masih banyak yang bertanya-tanya, mana yang lebih sehat antara telur ceplok dan telur dadar, terutama bagi mereka yang sedang menjalani pola hidup sehat atau menjaga berat badan.
Menjawab pertanyaan tersebut, Karina Rahmadia Ekawidyani, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University menjelaskan, secara umum kedua olahan telur tersebut memiliki kandungan gizi yang hampir sama.
Baca Juga: IPB Bongkar Rahasia Mutu Kopi, Ini Kunci Produk Bernilai Tinggi
Informasi itu disampaikan melalui keterangan yang dikutip dari laman resmi IPB University.
Menurut Karina Rahmadia Ekawidyani, perbedaan utama antara telur ceplok dan telur dadar bukan terletak pada kandungan protein maupun vitaminnya, melainkan pada jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan saat proses memasak.
Ia menerangkan, telur dadar umumnya mengandung kalori dan lemak lebih tinggi karena menyerap lebih banyak minyak.
Selain itu, penggunaan bahan tambahan seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang juga dapat meningkatkan kandungan energi dalam sajian tersebut.
Proses Memasak Justru Membuat Protein Lebih Mudah Diserap
Karina Rahmadia Ekawidyani menjelaskan, memasak telur tidak mengurangi manfaat proteinnya.
Baca Juga: Usai Komisi Aplikasi Turun 8 Persen, Begini Cara Ojol di Bogor agar Penghasilan Stabil
Sebaliknya, proses pemanasan membuat struktur protein mengalami denaturasi sehingga lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.
Ia menyebutkan, protein pada telur matang memiliki tingkat penyerapan sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya mencapai sekitar 51 persen.
Kondisi tersebut menjadikan telur matang sebagai pilihan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan protein harian.
Meski demikian, ia mengingatkan agar telur tidak dimasak menggunakan suhu yang terlalu tinggi dalam waktu lama.
Baca Juga: Di Balik Aksi Sleding Pagar Penjual Ketoprak di Bogor yang Viral di Media Sosial
Menurutnya, suhu ideal memasak telur berada pada kisaran 60 hingga 80 derajat Celsius.
Jika dipanaskan di atas 150 sampai 160 derajat Celsius, sebagian asam amino berpotensi mengalami kerusakan sehingga kualitas gizinya dapat menurun.
Cara Memasak Berpengaruh pada Kalori
Bagi masyarakat yang sedang mengontrol berat badan, Karina menyarankan metode memasak tanpa minyak, seperti merebus, membuat poached egg, atau mengukus.
Cara tersebut dinilai mampu menjaga asupan kalori tetap rendah tanpa mengurangi manfaat gizi telur.
Meski begitu, ia menegaskan, telur ceplok maupun telur dadar tetap dapat menjadi pilihan sehat apabila penggunaan minyak dibatasi.
Salah satu caranya, memanfaatkan wajan anti lengket atau menggunakan minyak semprot agar jumlah minyak yang terserap lebih sedikit.
Kuning Telur Tidak Perlu Dihindari
Dalam kesempatan tersebut, Karina Rahmadia Ekawidyani juga meluruskan, anggapan bahwa kuning telur sebaiknya dihindari karena mengandung kolesterol.
Menurutnya, kuning telur justru kaya akan berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Berdasarkan sejumlah penelitian terbaru, konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang sehat.
Ia menjelaskan, peningkatan kadar kolesterol darah lebih banyak dipengaruhi oleh pola makan yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans, bukan semata-mata karena mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol seperti telur.
Baca Juga: Kemensos Hadirkan Bansos dan Tebus Ijazah di Bogor
Karena itu, Karina mengimbau, masyarakat agar tidak ragu menjadikan telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara yang tepat, telur tetap menjadi sumber protein berkualitas yang bermanfaat bagi kesehatan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim