Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Polemik Lagu Pejabat Jadi Sorotan, IPB Beri Peringatan

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 18 Juli 2026 | 08:12 WIB
ILUSTRASI : Lagu yang dinyanyikan pejabat jangan menuai kontroversi.
ILUSTRASI : Lagu yang dinyanyikan pejabat jangan menuai kontroversi.

RADAR BOGOR - Kontroversi lagu yang dinyanyikan oleh seorang pejabat publik, dan dinilai memuat lirik yang merendahkan perempuan terus memicu perhatian masyarakat. 

Perdebatan yang berkembang tidak hanya menyoroti isi lagu, tetapi juga memunculkan diskusi lebih luas mengenai pentingnya membangun ruang publik yang sehat dan menghormati martabat setiap individu.

Menanggapi polemik tersebut, Dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Rahmi Damayanti, S.Si., M.Si., mengajak masyarakat melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas. 

Baca Juga: Glamping Puncak View: Wisata Camping dan Kuliner dengan View Gunung di Bogor

Dalam keterangan yang dikutip dari laman resmi IPB University pada Juli 2026, Rahmi menilai, polemik tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kualitas ruang informasi yang ramah terhadap keluarga.

Menurut Rahmi, keluarga tidak pernah terlepas dari pengaruh lingkungan informasi. 

Setiap hari, anggota keluarga menerima berbagai pesan melalui media massa, media sosial, karya seni, hingga berbagai bentuk komunikasi di ruang publik. 

Seluruh informasi tersebut kemudian dipahami dan secara perlahan dapat membentuk nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Liburan di Pineus Wetan Resort, Wisata Glamping dan Camping di Sentul, Bogor

Ia menilai, perhatian utama seharusnya bukan hanya tertuju pada kontroversi sebuah lagu, melainkan bagaimana seluruh pihak dapat bersama-sama menciptakan ruang informasi yang menghormati martabat manusia dan mendukung terbentuknya lingkungan yang sehat bagi keluarga.

Narasi di Ruang Publik Dinilai Berpengaruh pada Nilai Keluarga

Rahmi menjelaskan, setiap narasi yang merendahkan seseorang, baik terhadap perempuan maupun laki-laki, berpotensi memengaruhi cara keluarga memandang nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya menghadirkan konten di ruang publik yang mengedepankan penghormatan terhadap setiap individu. 

Menurutnya, karya yang beredar luas tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat membentuk cara pandang masyarakat terhadap sesama.

Respons Publik Dinilai Sebagai Sinyal Positif

Di sisi lain, Rahmi menilai, besarnya respons masyarakat terhadap polemik lagu tersebut justru menunjukkan adanya kepedulian terhadap nilai-nilai sosial.

Baca Juga: Curug Ciampea Bogor, Air Terjun Dua Tingkat di Kaki Gunung Salak yang Wajib Dijelajahi

Menurutnya, reaksi publik menjadi pertanda bahwa masyarakat masih memiliki sensitivitas terhadap informasi maupun karya yang dianggap bertentangan dengan nilai yang mereka yakini. 

Kepekaan tersebut dinilai, menjadi modal penting dalam menjaga lingkungan informasi yang sehat sekaligus membantu keluarga menanamkan nilai kehidupan kepada anggotanya.

Normalisasi Candaan Merendahkan Dinilai Berbahaya

Rahmi juga mengingatkan, apabila narasi yang merendahkan seseorang terus dianggap sebagai candaan atau sesuatu yang wajar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak yang menjadi sasaran.

Menurutnya, kebiasaan tersebut berpotensi mengikis nilai saling menghargai, saling menjaga, dan menghormati sesama sebagai pribadi yang memiliki martabat. 

Jika terus dinormalisasi, kondisi itu dikhawatirkan akan memengaruhi kualitas hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: Rothi Villa Cabin Puncak Bogor, Villa Modern dengan Kabin Bambu dan View 180 Derajat Pegunungan

Karena itu, ia memandang, polemik yang tengah berkembang dapat dijadikan momentum untuk kembali menegaskan peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam menanamkan penghormatan terhadap setiap manusia.

Semua Pihak Diminta Berkolaborasi

Menutup keterangannya, Rahmi berharap masyarakat semakin bijak, baik dalam menyikapi maupun menghasilkan karya yang dipublikasikan di ruang publik.

Ia menilai, setiap karya memang memiliki ruang untuk berekspresi, tetapi pada saat yang sama juga membawa tanggung jawab moral karena akan diterima dan dimaknai oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk keluarga.

Rahmi menambahkan, keluarga, media, masyarakat, serta para pembuat karya memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan informasi yang sehat. 

Baca Juga: Terungkap, Ini Motif Pelaku Teror Penjual Jamu dan Warung Madura di Citeureup Bogor

Melalui kolaborasi tersebut, ruang publik diharapkan mampu mendukung tumbuhnya nilai-nilai yang menghormati martabat manusia sekaligus memperkuat fondasi kehidupan berkeluarga. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
ipb Rahmi Damayanti institut pertanian bogor