Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

IPB Ciptakan Cabai Habanero Lokal, Pedasnya Tembus 1,3 Juta SHU

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 18 Juli 2026 | 09:16 WIB
IPB menyiptakan cabai habanero lokal.
IPB menyiptakan cabai habanero lokal.

RADAR BOGOR - Setelah melalui proses penelitian selama 6 tahun, Institut Pertanian Bogor (IPB) University berhasil melahirkan inovasi baru di bidang hortikultura dengan merakit empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia.

Keempat varietas tersebut yakni Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB.

Keberhasilan ini menjadi tonggak penting karena seluruh varietas tersebut telah resmi terdaftar di Kementerian Pertanian Republik Indonesia serta memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).

Baca Juga: Suhu Tembus 40 Derajat, Kota di China Ini Pasang Kipas Kabut Raksasa

Kehadiran varietas baru ini diharapkan dapat memperkuat daya saing komoditas cabai nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap benih impor.

Prof Muhamad Syukur: Habanero Lokal Baru Pertama di Indonesia

Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Muhamad Syukur menjelaskan, Indonesia sebelumnya belum memiliki varietas habanero lokal yang mendapatkan perlindungan varietas tanaman seperti hasil pemuliaan yang dikembangkan tim IPB University.

Menurut Prof Syukur, yang juga merupakan ahli pemuliaan tanaman, selama ini hanya terdapat cabai Katokkon dari Sulawesi Selatan yang telah terdaftar.

Sementara itu, empat varietas hasil pemuliaan IPB menjadi habanero pertama yang memperoleh perlindungan varietas secara resmi di Indonesia.

Baca Juga: Kembali ke Masa Lalu, Gamplong Studio Alam, Wisata Lintas Zaman di Sleman, Yogyakarta

Pengembangan varietas tersebut merupakan hasil kolaborasi antara IPB University dan Pemerintah Provinsi Bali.

Dalam prosesnya, Gubernur Bali Dr Wayan Koster memberikan dukungan terhadap pengembangan cabai habanero tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh petani Bali maupun petani di berbagai daerah Indonesia.

Tingkat Kepedasan Capai 1,3 Juta SHU

Salah satu keunggulan utama varietas habanero IPB terletak pada tingkat kepedasannya yang jauh melampaui cabai rawit biasa.

Prof Syukur menjelaskan bahwa tingkat kepedasan cabai diukur menggunakan Scoville Heat Units (SHU).

Dari empat varietas yang dikembangkan, Tabia Sala 1 IPB menjadi yang paling pedas dengan tingkat kepedasan mencapai 1 hingga 1,3 juta SHU, atau sekitar lima kali lebih pedas dibandingkan cabai rawit pada umumnya.

Baca Juga: Ganti Nama Setelah 50 Tahun, Bandara di Florida Kini Pakai Nama Donald J Trump

Sementara itu, Margi 2 IPB memiliki warna buah peach dengan tingkat kepedasan sekitar 350 ribu hingga 500 ribu SHU.

Tingkat kepedasan serupa juga dimiliki Tabia Sala Oranye IPB yang berwarna oranye serta Tabia Sala Kuning IPB yang memiliki warna kuning cerah.

Adaptif di Iklim Tropis dan Tahan Penyakit

Selain memiliki rasa pedas ekstrem, cabai habanero hasil pemuliaan IPB juga dirancang agar mampu beradaptasi dengan kondisi iklim tropis Indonesia.

Prof Syukur mengungkapkan, sebagian besar habanero impor memiliki kemampuan adaptasi yang relatif rendah ketika dibudidayakan di Indonesia.

Sebaliknya, varietas IPB dikembangkan agar lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tropis sekaligus memiliki ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit keriting kuning.

Saat ini benih keempat varietas tersebut telah didiseminasikan melalui Benih Dramaga, sehingga petani di berbagai daerah sudah dapat mengakses dan membudidayakannya secara luas.

Berpeluang Masuk Industri hingga Pasar Ekspor

Prof Syukur optimistis cabai habanero lokal memiliki prospek pasar yang menjanjikan, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun pasar internasional.

Menurutnya, permintaan cabai dengan tingkat kepedasan tinggi terus meningkat karena mampu menghasilkan sensasi pedas maksimal dengan penggunaan bahan baku yang lebih sedikit.

Ia juga mengungkapkan, salah satu perusahaan pengolahan pangan di Bogor telah menunjukkan minat untuk mengembangkan produk cabai bubuk berbahan baku habanero IPB.

Selain pasar domestik, varietas tersebut juga memiliki peluang ekspor, salah satunya ke Korea Selatan sebagai bahan baku pembuatan hot pack, yakni penghangat tubuh yang banyak digunakan saat musim dingin.

Dikembangkan Selama Enam Tahun

Prof Syukur menjelaskan bahwa proses pemuliaan empat varietas habanero tersebut dimulai sejak 2020.

Selama 6 tahun penelitian, tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan pendanaan yang berkelanjutan, kebutuhan lahan dan rumah kaca, hingga keterbatasan tenaga pendukung penelitian.

Baca Juga: Glamping Puncak View: Wisata Camping dan Kuliner dengan View Gunung di Bogor

Selain itu, penelitian juga membutuhkan fasilitas laboratorium dengan peralatan khusus untuk mengukur tingkat kepedasan cabai yang memiliki biaya investasi cukup tinggi.

Meski menghadapi berbagai kendala, Prof Syukur bersama tim berhasil menyelesaikan proses pemuliaan hingga menghasilkan empat varietas habanero lokal yang kini siap dikembangkan secara luas. Inovasi tersebut sekaligus menambah daftar keberhasilan Prof Syukur yang telah melahirkan lebih dari 30 varietas cabai unggul di Indonesia. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
ipb bogor institut pertanian bogor cabai