RADAR BOGOR – Jalan Dulu Nanti Ketemu Jalan menjadi prinsip yang dipegang Kepala Desa Gunung Putri, Daman Huri, dalam membawa perubahan di wilayah yang dipimpinnya.
Berbekal semangat tersebut, ia mendorong pembangunan desa berbasis potensi dan partisipasi masyarakat, hingga mengantarkan Desa Gunung Putri menorehkan berbagai prestasi di tingkat nasional. Sebelum menjadi kepala desa, Daman Huri merupakan seorang pendidik anak-anak TK/TPA.
Kiprahnya di dunia pendidikan Al-Qur'an membawanya bergabung dengan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al-Qur'an Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (LPPTKA-BKPRMI) di Jakarta sejak 1994 hingga 2002.
Setelah itu, Daman Huri turut mengembangkan lembaga tersebut di Kabupaten Bogor dan Depok. Selama 10 tahun berturut-turut, ia ikut membawa nama Kabupaten Bogor harum di tingkat nasional.
Baca Juga: Kecelakaan di Klapanunggal Bogor, Penyeberang Jalan Meninggal Tertabrak Truk
Perjalanan Daman Huri menjadi kepala desa bermula dari dorongan masyarakat. Pada Pilkades 2019, warga meminta dirinya maju meski sempat beberapa kali menolak.
Namun, dorongan masyarakat yang semakin kuat dan kencang, akhirnya membuat Daman Huri menerima pinangan tersebut. Ia pun membawa tekad untuk melakukan perubahan besar di Desa Gunung Putri.
“Dengan mengucapkan Innaa Lillahi wa Innaa Ilaihi Raji'un, pinangan masyarakat tepat pukul 00.00 saat itu saya terima,” ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat, 7 Agustus 2026.
Saat itu, Daman Huri melihat perkembangan Desa Gunung Putri masih berjalan lambat dan belum menunjukkan perubahan signifikan.
Dari kondisi tersebut, muncul keinginannya untuk menjadikan Gunung Putri sebagai desa yang tidak hanya dikenal di tingkat daerah, tetapi juga nasional hingga internasional.
"Dimulai dari niat ikhlas dan semata-mata ibadah mengejar ridho Alloh SWT yang melandasi pergerakan di gerbong perubahan besar Desa Gunung Putri mulai saya gaungkan secara masif ke warga desa," imbuhnya.
Ia menambahkan, membangun desa tidak cukup hanya dengan mengandalkan anggaran pemerintah, hal yang jauh lebih penting adalah mengubah pola pikir masyarakat agar mau terlibat langsung dalam pembangunan.
“Membangun fisik dengan ada anggaran pemerintah adalah hal yang biasa dan mudah. Namun membangun mindset, cara pandang, cara berpikir, atau paradigma baru dalam memandang pembangunan di desa adalah suatu hambatan yang paling berat,” katanya.
Karena itu, salah satu prioritas awal kepemimpinannya adalah membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa. Ia melakukan pembenahan tata kelola pemerintahan sekaligus restrukturisasi jabatan dan personel.
Sekitar 80 persen generasi muda kemudian masuk dalam struktur pemerintahan desa, langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mempersiapkan pemerintahan desa menghadapi tantangan 10 hingga 20 tahun ke depan.
Daman Huri juga mendorong lahirnya berbagai inovasi, salah satunya melalui program Smart Village dengan pembangunan 14 tiang dan jalur telekomunikasi di 14 RW serta pemasangan 64 titik CCTV yang tersebar di 46 RT.
Transformasi digital tersebut dilakukan agar pelayanan dan tata kelola desa dapat mengikuti perkembangan zaman.
Selain teknologi, Daman Huri juga mengembangkan pembangunan berbasis masyarakat melalui program Kampung Ramah Lingkungan yang tersebar di 14 RW.
Program tersebut menjadi salah satu motor penggerak pemerataan pembangunan sekaligus mendorong masyarakat kembali menghidupkan semangat gotong royong.
Ia menilai, menggerakkan masyarakat bukan perkara mudah. Kearifan lokal berupa gotong royong sempat bergeser karena masyarakat terbiasa dengan pola lama dan kurang peduli terhadap lingkungan.
Pendekatan komunikasi dan personal pun dilakukan, termasuk kepada generasi muda. Pemerintah desa kemudian membuat berbagai program inovatif berbasis masyarakat agar warga terlibat secara bertahap.
“Dengan motto Jalan Dulu Nanti Ketemu Jalan menjadi motto kepala desa bergerak dengan berbasis potensi bukan berbasis anggaran,” ungkapnya.
Daman Huri juga berusaha memberikan teladan dengan memulai berbagai gerakan dari dirinya sendiri. Baginya, seorang pemimpin harus mampu menjadi contoh agar perangkat desa dan masyarakat ikut bergerak menjalankan program yang telah dicanangkan.
Perubahan yang dilakukan secara bertahap tersebut kemudian membuahkan hasil, Desa Gunung Putri dua kali meraih Juara 1 Desa Terbaik tingkat Kabupaten Bogor.
Di tingkat Provinsi Jawa Barat, Desa Gunung Putri meraih Juara 3 Lomba Desa serta Juara 3 Anugerah Gapura Sri Baduga (AGSB) 2025.
Prestasi juga ditorehkan di tingkat nasional. Pada 2025, Desa Gunung Putri meraih penghargaan sebagai desa terbaik tingkat nasional yang mewakili BNN RI, penghargaan tersebut diterima dari Menteri Dalam Negeri di Sumedang.
Desa Gunung Putri juga dua kali meraih penghargaan terbaik tingkat nasional dalam rangka Hari Anti Narkotika Internasional yang digelar di Riau dan Jakarta.
Tak berhenti di sana, pada 2026 Desa Gunung Putri dipercaya mewakili Provinsi Jawa Barat dalam penjaringan Desa atau Kelurahan Berprestasi tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri, proses tersebut saat ini masih dalam tahap seleksi.
Keberhasilan Desa Gunung Putri juga menarik perhatian dari berbagai daerah, Daman Huri mencatat sebanyak 1.588 desa dari seluruh Indonesia telah berkunjung untuk melakukan studi tiru.
Bahkan, inovasi Desa Gunung Putri turut menarik perhatian mancanegara, desa tersebut telah menerima kunjungan studi banding dari Malaysia dan Afghanistan.
Bagi Daman Huri, berbagai prestasi tersebut merupakan buah dari proses panjang membangun kepercayaan dan partisipasi masyarakat.
Ia ingin pembangunan Desa Gunung Putri tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga mampu menciptakan perubahan pola pikir, meningkatkan kepedulian masyarakat, serta menjadikan warga sebagai bagian penting dalam setiap proses pembangunan.
Dengan prinsip Jalan Dulu Nanti Ketemu Jalan, Daman Huri percaya keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Sebab, menurutnya, pembangunan desa harus dimulai dari keberanian untuk melangkah, memanfaatkan potensi yang ada, dan mengajak masyarakat berjalan bersama.
"Membangun Desa tidak dapat dilakukan oleh satu kelompok, membangun membutuhkan kolaborasi seluruh stakeholder yang ada didesa. Mari kita tingkatkan semangat soliditas kebersamaan dan loyalitas dalam membangun Desa ini," tutupnya. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati