RADAR BOGOR - Buah jambu biji yang masih muda, selama ini lebih sering dipandang sebagai bagian dari tanaman yang belum siap dikonsumsi.
Namun, di Tiongkok, buah tersebut mulai dilirik sebagai bahan baku teh yang berpotensi dikembangkan menjadi minuman fungsional.
Pemanfaatan jambu biji muda sebagai teh menarik perhatian karena buah pada fase awal pertumbuhan justru menyimpan sejumlah senyawa bioaktif.
Potensi tersebut dinilai masih terbuka untuk dikembangkan, termasuk di Indonesia.
Baca Juga: Ratusan Pramuka Ramaikan FOCUS 8.0 di Bogor, Adu Keterampilan hingga Ketangkasan
Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Sandra Arifin Aziz, mengatakan jambu biji muda memiliki kandungan senyawa bioaktif yang cukup beragam.
Meski demikian, manfaatnya bagi kesehatan manusia masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut melalui penelitian klinis.
Kandungan Bioaktif Jambu Biji Muda Cukup Tinggi
Menurut Prof. Sandra, teh yang berasal dari buah jambu biji muda memiliki karakteristik yang tidak sama dengan teh berbahan daun jambu maupun buah jambu yang sudah matang.
Dikutip dari laman resmi IPB, oerbedaan tersebut terlihat dari jenis dan kadar metabolit sekunder, cita rasa, hingga karakteristik fisik bahan yang digunakan.
Pada tahap pertumbuhan tersebut, buah jambu biji belum mengalami pembentukan gula secara optimal.
Kondisi inilah yang membuat rasanya cenderung lebih sepat dibandingkan jambu biji matang.
Di sisi lain, buah muda justru memiliki akumulasi sejumlah senyawa yang dihasilkan tanaman sebagai bagian dari mekanisme pertahanannya.
Beberapa di antaranya adalah tanin dan senyawa fenolik.
Prof. Sandra menjelaskan, jambu biji muda mengandung sejumlah komponen bioaktif, antara lain tanin, asam galat, asam elagat, flavonoid, dan pektin.
Ketika diolah menjadi teh dalam bentuk bahan kering, senyawa fenolik tersebut dinilai dapat tetap relatif stabil sehingga berpotensi memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan.
Berpotensi mendukung pengendalian gula darah
Kajian fitokimia menunjukkan adanya sejumlah potensi dari seduhan teh berbahan jambu biji muda.
Salah satunya berkaitan dengan kemampuan senyawa tertentu dalam menghambat enzim yang berperan dalam proses pemecahan karbohidrat.
Baca Juga: Bansos Hari Ini: BPNT Rp600 Ribu Tahap 3 Cair di KKS Bank BSI
Mekanisme tersebut secara teoritis berpotensi membantu mengendalikan kadar gula darah.
Selain itu, kandungan tanin pada jambu biji muda juga dikaitkan dengan potensi dalam mendukung kesehatan saluran pencernaan.
Sementara itu, kelompok senyawa fenolik diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Kombinasi berbagai senyawa tersebut membuat jambu biji muda menarik untuk diteliti lebih jauh sebagai bahan baku minuman fungsional.
Namun, Prof. Sandra menekankan, potensi tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan manfaat kesehatan yang telah terbukti pada manusia.
Penelitian mengenai seduhan teh dari buah jambu biji muda pada manusia masih relatif terbatas. Kondisi ini berbeda dengan penelitian terhadap ekstrak daun jambu yang sudah lebih banyak dilakukan.
Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan, khususnya uji klinis, untuk mengetahui efektivitas dan keamanan konsumsi teh jambu biji muda pada manusia.
Buah hasil penjarangan bisa punya nilai ekonomi
Potensi pengembangan teh jambu biji muda ternyata tidak hanya berkaitan dengan kandungan bioaktifnya.
Produk ini juga dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan buah yang selama ini belum optimal.
Dalam proses budidaya jambu biji, petani biasanya melakukan penjarangan atau fruit thinning.
Baca Juga: Setelah Bank Mandiri, Bank Himbara Ini Gantian Mendominasi Pencairan Bansos PKH BPNT Tahap 3
Proses tersebut dilakukan untuk mengurangi jumlah buah sehingga tanaman dapat menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik.
Buah yang disisihkan dalam proses tersebut umumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kondisi ini membuka peluang untuk mengolah jambu biji muda menjadi produk bernilai tambah, termasuk teh.
Menurut Prof. Sandra, gagasan tersebut sejalan dengan tren upcycling food components, yakni mengolah bagian tanaman yang sebelumnya berpotensi terbuang menjadi produk baru dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Jika dikembangkan secara serius, pemanfaatan buah hasil penjarangan tidak hanya berpotensi menghasilkan inovasi pangan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi sektor pertanian.
Tantangan Pengembangan Teh Jambu Biji Muda
Meski memiliki prospek, pengembangan teh dari jambu biji muda bukan tanpa kendala. Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah konsistensi bahan baku.
Standardisasi ukuran, tingkat kematangan, serta kandungan senyawa aktif menjadi bagian penting agar kualitas produk yang dihasilkan tetap seragam.
Proses pengolahan juga perlu memperhatikan risiko pencokelatan pada bahan.
Selain itu, rasa sepat yang cukup kuat pada buah muda perlu diatasi melalui formulasi yang tepat agar produk dapat diterima oleh konsumen.
Baca Juga: Bansos Sudah Cair di 80 Lebih Daerah, Ini Baru Termin 1 PKH dan BPNT Tahap 3
Prof. Sandra menilai, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan riset terkait komoditas tersebut.
IPB University, menurutnya, memiliki kapasitas untuk mendukung penelitian mulai dari teknologi pascapanen, pengujian khasiat, formulasi produk, hingga proses hilirisasi bersama mitra industri.
Dengan dukungan riset yang memadai, buah jambu biji muda yang selama ini kurang mendapat perhatian berpeluang diolah menjadi produk pangan inovatif.
Namun, sebelum dipasarkan dengan klaim manfaat kesehatan tertentu, bukti ilmiah melalui penelitian yang lebih kuat tetap menjadi bagian penting dalam pengembangannya. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti