RADAR BOGOR – Upaya mengurangi timbulan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat terus dikembangkan di Kabupaten Bogor.
Salah satunya melalui kehadiran Rumah Maggot Rancage di Kampung Ramah Lingkungan (KRL) RW 08, Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.
Rumah Maggot Rancage resmi diluncurkan PT Raharja Energi Cepu bersama Leads Indonesia pada Kamis 13 Agustus 2026.
Program tersebut menjadi langkah kolaboratif untuk mendorong masyarakat mengolah sampah organik secara mandiri agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan sampah.
Selain membantu mengatasi persoalan lingkungan, pengelolaan sampah melalui budidaya maggot juga diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi bagi warga.
Peluncuran Rumah Maggot Rancage turut dihadiri Direktur PT Raharja Energi Cepu Alexandra Sinta Wahjudewanti, perwakilan Yayasan Leads Indonesia, Kepala UPT DLH Wilayah IV Kabupaten Bogor Doni Romadoni, perwakilan DLH Kecamatan Tamansari, pengurus KRL Rancage, serta masyarakat Desa Sukajadi.
Baca Juga: PKH BNI dan BRI Cair Serentak di Berbagai Daerah 13 Agustus 2026, Ini Bukti Saldonya
Direktur PT Raharja Energi Cepu Alexandra Sinta Wahjudewanti mengatakan, program tersebut dirancang bukan hanya untuk menjawab persoalan sampah organik di Desa Sukajadi.
Menurutnya, Rumah Maggot Rancage diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah yang nantinya dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.
Alexandra menjelaskan, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman bahwa sampah organik tidak selalu menjadi limbah yang harus dibuang.
Dengan pengelolaan yang tepat, sampah tersebut justru dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
“Kami berharap edukasi mengenai pengelolaan sampah organik ini terus berkembang. Tidak berhenti di Sukajadi, tetapi dapat diterapkan di berbagai wilayah sehingga sampah bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Alexandra.
PT Raharja Energi Cepu sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di sektor energi, khususnya minyak dan gas bumi (migas).
Perusahaan tersebut memiliki sejumlah wilayah operasi, antara lain di Bojonegoro, Cepu, Jambi dan Madura.
Sementara itu, Perwakilan dari PT Raharja Energi Cepu, Supriyanti Priandini mengungkapkan, Desa Sukajadi dipilih setelah dilakukan pengamatan untuk mengetahui kebutuhan masyarakat di tingkat desa.
Ia menyebut, proses tersebut penting agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Penentuan lokasi dilakukan melalui observasi terhadap kebutuhan masing-masing desa. Di Sukajadi, kami melihat ada wadah yang tepat melalui Yayasan Leads Indonesia sehingga program ini dapat dijalankan,” jelas Suprianti.
Baca Juga: Hari Pramuka ke-65, Kwarcab Kota Bogor Ziarah ke TMP Dreded
Suprianti menambahkan, Rumah Maggot Rancage saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan.
Evaluasi akan dilakukan dengan melihat perkembangan budidaya maggot, dampak program terhadap lingkungan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dalam tahap berikutnya, perkembangan program akan menjadi bahan pertimbangan untuk memperluas Rumah Maggot Rancage ke wilayah lain.
“Untuk sekarang kami masih melihat proses dan perkembangannya. Tahun depan akan dievaluasi sejauh mana hasil budidaya maggot dan dampaknya. Jika menunjukkan hasil positif, program ini berpeluang diperluas ke desa lain. Fokus awal kami adalah lingkungan dan penguatan sumber daya manusia,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Kepala UPT DLH Wilayah IV Kabupaten Bogor Doni Romadoni.
Ia menilai keberadaan Rumah Maggot Rancage dapat menjadi salah satu alternatif dalam menangani persoalan sampah di tingkat masyarakat.
Doni berharap konsep serupa dapat berkembang dan diterapkan di wilayah lain, terutama desa-desa yang berada di Kecamatan Tamansari.
“Program ini merupakan langkah positif dalam pengelolaan sampah. Kami berharap Rumah Maggot di Sukajadi dapat menjadi contoh yang kemudian dikembangkan di desa lainnya,” ungkap Doni.
Di lokasi yang sama, Bidang Pengolahan Sampah KRL Rancage Altayani menjelaskan, pembangunan Rumah Maggot Rancage terlaksana melalui dukungan program CSR dari PT Raharja Energi Cepu dibantu dilaksanakan dan disalurkan melalui Leads.
Menurut Altayani, budidaya maggot dapat menjadi solusi untuk mengurangi volume sampah organik yang selama ini dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Baca Juga: Kota Bogor Dapat Apresiasi KemenPANRB, Inovasi Jadi Sorotan
Program tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi masyarakat.
“Rumah Maggot ini menjadi stimulan agar masyarakat mulai terbiasa mengolah sampah. Harapannya, kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah semakin tumbuh dan dapat dilakukan secara berkelanjutan,” tutur Altayani.
Ia menilai keterbatasan tempat pembuangan sampah menjadi salah satu alasan masyarakat perlu mengubah pola pengelolaan sampah dari sekadar membuang menjadi mengolah.
Dengan konsep tersebut, sampah organik yang dihasilkan masyarakat diharapkan dapat ditangani sedekat mungkin dari sumbernya sehingga tidak semuanya harus dibawa ke luar wilayah.
“Yang kami dorong adalah bagaimana sampah tidak hanya dipindahkan atau dibawa keluar wilayah, tetapi diolah terlebih dahulu hingga memiliki nilai dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” katanya.
Lebih lanjut, Altayani menerangkan bahwa maggot hasil budidaya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan untuk berbagai jenis hewan ternak, seperti ayam, bebek dan ikan.
Sementara itu, sisa dari proses budidaya maggot juga berpotensi dimanfaatkan sebagai media tanam.
Dengan demikian, pengolahan sampah organik dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai guna sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga.
“Dari maggot, masyarakat dapat mengembangkannya menjadi pakan untuk ayam, bebek maupun ikan. Sisa proses budidayanya juga masih dapat dimanfaatkan sebagai media tanam sehingga memiliki nilai tambah,” jelasnya.
Altayani berharap Rumah Maggot Rancage tidak berhenti sebagai program percontohan di Desa Sukajadi.
Baca Juga: Aranya Nusantara Foundation Bersama Aqua Gelar Conservation Journey di Pancawati Bogor
Ke depan, konsep tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dapat diterapkan di berbagai desa dan kampung.
Ia juga berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam pengolahan sampah sehingga persoalan lingkungan dapat ditangani bersama sekaligus memberikan manfaat ekonomi.
“Harapannya, Rumah Maggot Rancage dapat terus berkembang dan direplikasi di desa maupun kampung lainnya. Dengan begitu, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan semakin kuat dan pengelolaan sampah bisa memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkasnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin