SoraHita Bantu Anak Tunagrahita di SLB BC Mekarsari 2 Bogor Memahami dan Sampaikan Kebutuhan

Septi Nulawam Harahap • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 20:07 WIB
Tim PKM-PM IPB University menghadirkan SoraHita, program penguatan komunikasi fungsional melalui Picture Exchange Communication System berbasis Applied Behavior Analysis guna meningkatkan keterampilan sosial tunagrahita SLB BC Mekarsari 2 Bogor. (Dok. PKM PM IPB)
Tim PKM-PM IPB University menghadirkan SoraHita, program penguatan komunikasi fungsional melalui Picture Exchange Communication System berbasis Applied Behavior Analysis guna meningkatkan keterampilan sosial tunagrahita SLB BC Mekarsari 2 Bogor. (Dok. PKM PM IPB)

RADAR BOGOR - Komunikasi bukan sekadar kemampuan  berbicara, bagi anak tunagrahita, kemampuan memahami pesan, menyampaikan kebutuhan, menentukan pilihan, dan berinteraksi dengan orang lain menjadi bagian penting agar mereka dapat berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Namun, kemampuan tersebut masih menjadi tantangan bagi sebagian anak tunagrahita di SLB BC Mekarsari 2 Bogor. 

Berdasarkan hasil wawancara dengan pengajar pada 13 Februari 2026, sebagian anak memang mampu memberikan respons yang tampak sesuai, tetapi belum selalu memahami pesan yang diterima secara utuh. 

Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan dan respons anak tidak jarang menjadi tidak sesuai sehingga memicu kesalahpahaman dalam interaksi. Anak juga cenderung mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya. 

Baca Juga: Melalui GIVORUSH 2026, OSIS SMA Quran Asy Syahid Bogor Gelar Kampanye Anti Perundungan

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PM IPB University menghadirkan SoraHita, program penguatan komunikasi fungsional melalui Picture Exchange Communication System berbasis Applied Behavior Analysis guna meningkatkan keterampilan sosial tunagrahita SLB BC Mekarsari 2 Bogor.

Program ini melibatkan 14 anak tunagrahita dengan pendampingan lima fasilitator, guru, dan orang tua. 

Nama SoraHita merepresentasikan semangat untuk menghadirkan “suara bagi sesama”. 

Sora menggambarkan suara dan komunikasi, sementara Hita dimaknai sebagai kebaikan dan manfaat bagi sesama. 

Melalui program ini, anak tidak hanya diarahkan untuk mampu berbicara, tetapi juga memahami bahwa  komunikasi dapat digunakan untuk menyampaikan  kebutuhan dan berinteraksi dengan lingkungan

Salah satu inovasi SoraHita terletak pada penggabungan Picture Exchange Communication System (PECS) dengan pendekatan Applied Behavior Analysis (ABA). 

PECS digunakan untuk membantu anak membangun komunikasi fungsional melalui pertukaran gambar, sedangkan prinsip ABA diterapkan  melalui latihan, prompting, dan penguatan secara  bertahap sesuai kemampuan anak.

Pendekatan tersebut kemudian dikemas dalam berbagai aktivitas yang menyenangkan dan dekat dengan kebutuhan anak.  

Tim juga mengembangkan media secara mandiri, seperti AcceSora Card, SenSora Card, KataSora Card, KataSora Board, boneka SoHi, dan Buku Jejak Sora.

"Program ini kami rancang agar anak tidak hanya mengetahui cara berkomunikasi, tetapi juga memahami kapan dan untuk apa komunikasi tersebut digunakan," ujar Ketua Tim SoraHita, Anjani Natalia, Senin, 24 Agustus 2026.

SoraHita dilaksanakan melalui empat rangkaian yang saling berkesinambungan, yaitu SoraBina: Pintu Makna, SoraDaya: Jelajah Aksi, SoraCakra: Jejak Misi, dan SoraKata: Suara Asah. 

Menurut Anjani, SoraBina membantu anak memahami fungsi komunikasi untuk memperoleh kebutuhan. Lalu SoraDaya mengajarkan bahwa kebutuhan dapat diperoleh melalui usaha dan interaksi.

Selanjutnya, SoraCakra melatih anak membandingkan dan menentukan pilihan sesuai keinginan sekaligus membangun kerja sama. 

"Pada tahap SoraKata, anak belajar mengenali subjek, kata aksi, hingga menyusun kata secara utuh untuk  menyampaikan kebutuhan dalam konteks sederhana," jelasnya.

Rangkaian tersebut membuat proses komunikasi  dibangun secara bertahap, mulai dari memahami  kebutuhan, menentukan pilihan, berusaha  memperoleh sesuatu, hingga menyampaikan keinginan secara lebih jelas. 

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 100 persen sasaran mengalami peningkatan kemampuan, meskipun tingkat perkembangannya berbeda pada setiap anak. Perubahan juga terlihat dalam interaksi sehari-hari. 

Sekitar lima anak yang sebelumnya sangat sulit berinteraksi dengan orang lain selain orang tua mulai menunjukkan kemauan untuk berkomunikasi secara bertahap.

"Setelah mengikuti kegiatan, anak saya mulai tahu bagaimana menyampaikan apa yang memang dia inginkan," tutur salah satu orang tua sasaran.

Bagi orang tua, perubahan tersebut menjadi hal yang berarti. Sebagian dari mereka sebelumnya menghadapi kesulitan dalam memahami kondisi anak. 

Bahkan beberapa anak pernah mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran di sekolah umum dan  mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari lingkungan sekitarnya

Kehadiran SoraHita juga mendapat respons positif dari pihak sekolah. Guru merasa terbantu dengan adanya kegiatan dan media baru yang dapat mendukung pembelajaran komunikasi anak. 

"Kami sangat bersyukur dengan adanya program ini. Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara yang sesuai dengan kemampuan mereka," ungkap salah satu guru SLB BC Mekarsari 2 Bogor. 

Bagi tim SoraHita, program tidak berhenti setelah  intervensi selesai. Media yang telah dikembangkan diharapkan dapat terus digunakan oleh guru dan orang tua sehingga kemampuan komunikasi anak dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Melalui SoraHita, komunikasi tidak lagi dipandang hanya sebagai kemampuan untuk berbicara, tetapi sebagai jembatan agar anak dapat menyampaikan kebutuhan, dipahami, dan terlibat dalam lingkungan sosialnya.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
tunagrahita SoraHita SLB BC Mekarsari 2 bogor