RADAR BOGOR - Kuliah Kerja Nyata atau KKN kerap dipahami sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat.
Selama beberapa pekan, mahasiswa hadir di tengah masyarakat, menyusun program, menjalankan berbagai kegiatan, kemudian kembali ke kampus.
Siklus tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman pendidikan tinggi di Indonesia.
Namun, ada satu pertanyaan yang semestinya tidak berhenti ketika masa KKN berakhir: setelah mahasiswa pergi, apa yang tersisa?
Pertanyaan ini penting karena keberhasilan KKN seharusnya tidak semata-mata diukur dari berapa banyak program yang terlaksana, berapa kegiatan yang didokumentasikan, atau berapa masyarakat yang hadir dalam sebuah acara.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah kehadiran mahasiswa meninggalkan pengetahuan, kebiasaan, keterampilan, atau inovasi yang dapat terus dikembangkan masyarakat.
Baca Juga: Lolos Seleksi Belum Tentu Selesai, Ini Tahapan yang Harus Dilalui CPNS hingga Resmi Menjadi ASN
Dengan kata lain, KKN semestinya tidak berhenti pada aktivitas, tetapi menghasilkan keberlanjutan.
Selama kurang lebih satu bulan berada di Desa Tugu Jaya, kami menemukan bahwa pengabdian tidak dapat dilakukan dengan pendekatan satu arah.
Masyarakat bukan sekadar penerima program, sementara mahasiswa bukan pihak yang datang membawa seluruh solusi. Keduanya berada dalam posisi sebagai mitra yang sama-sama belajar.
Keberagaman karakter, latar belakang, dan kemampuan dalam kelompok mahasiswa menjadi bagian dari proses tersebut.
Kami belajar membagi peran, menghadapi perbedaan pendapat, beradaptasi dengan kondisi lapangan, serta membangun komunikasi dengan masyarakat.
Pada saat yang sama, interaksi dengan masyarakat membuat kami memahami bahwa persoalan di desa tidak selalu dapat diselesaikan dengan gagasan yang dibawa dari kampus.
Ada pengetahuan lokal, kebiasaan, potensi, serta persoalan yang hanya dapat dipahami ketika mahasiswa benar-benar hadir dan mendengarkan.
Salah satu persoalan yang kami temui adalah pengelolaan lingkungan, khususnya sampah.
Persoalan sampah menunjukkan bahwa kebersihan bukan semata-mata persoalan kesadaran individu.
Ia juga berkaitan dengan pengetahuan, kebiasaan, fasilitas, serta sistem pengelolaan yang memungkinkan masyarakat melakukan perubahan secara konsisten.
Baca Juga: Kenapa Desil Tinggi Bisa Turun Otomatis? Ini Penyebab dan Cara Cek Kelayakan Bansos
Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar mengajak masyarakat untuk “tidak membuang sampah sembarangan”, melainkan memperkenalkan cara sederhana agar sampah dapat dipilah, dikelola, dan dimanfaatkan sesuai jenisnya.
Dari kebutuhan tersebut lahirlah SAJI (Sampah Jadi Air Lindi) dan SAKTI (Sampah Kering Terintegrasi).
Kedua program tersebut diarahkan untuk memperkenalkan pengelolaan sampah basah dan kering secara lebih terarah.
Gagasan utamanya bukan sekadar menyelesaikan persoalan sampah selama mahasiswa berada di desa, melainkan membangun pemahaman dan kebiasaan yang memungkinkan masyarakat melanjutkannya secara mandiri.
Perspektif yang sama juga diterapkan dalam melihat potensi teknologi dan kreativitas masyarakat.
Desa bukan ruang yang identik dengan keterbatasan. Di dalamnya terdapat potensi yang dapat dikembangkan apabila memperoleh pengetahuan, pendampingan, dan ruang untuk berinovasi.
Melalui LITERA (Literasi Teknologi dan Karya) serta PIONIR (Peningkatan Nilai, Inovasi, dan Branding), mahasiswa berupaya mendorong pemanfaatan teknologi, kreativitas, serta potensi masyarakat agar memiliki nilai yang lebih besar.
Teknologi ditempatkan bukan sekadar sebagai alat, tetapi sebagai sarana untuk membuka peluang produktivitas dan pengembangan potensi lokal.
Dari pengalaman tersebut, kami semakin memahami bahwa persoalan utama dalam pengabdian bukan sekadar apa yang dapat diberikan mahasiswa, melainkan apa yang dapat dilanjutkan oleh masyarakat.
Inilah yang sering kali menjadi tantangan terbesar KKN. Mahasiswa memiliki keterbatasan waktu.
Baca Juga: PNS Tua Pensiun, Ini Kriteria Calon ASN yang Dicari Pemerintah
Masa pengabdian hanya berlangsung sementara, sedangkan kehidupan masyarakat berjalan setiap hari.
Program yang terlihat berhasil ketika mahasiswa masih berada di lokasi belum tentu memberikan dampak jangka panjang apabila tidak ada pengetahuan, kebiasaan, atau mekanisme yang dapat diteruskan.
Karena itu, orientasi KKN perlu bergeser: dari “menyelesaikan program” menjadi “membangun keberlanjutan.”
Perubahan orientasi tersebut juga berarti bahwa masyarakat perlu ditempatkan sebagai subjek utama pengabdian.
Mahasiswa dapat membawa gagasan dan pengetahuan akademik, tetapi masyarakatlah yang paling memahami konteks kehidupan mereka sendiri.
Ketika masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap sebuah program, peluang keberlanjutannya akan jauh lebih besar.
Empat program yang dijalankan di Desa Tugu Jaya—SAJI, SAKTI, LITERA, dan PIONIR—pada akhirnya memiliki benang merah yang sama.
Mendorong masyarakat agar tidak berhenti sebagai penerima manfaat, tetapi memiliki kemampuan untuk melanjutkan dan mengembangkan apa yang telah diperkenalkan.
Pada titik inilah KKN semestinya dimaknai lebih jauh. Pengabdian bukan tentang seberapa lama mahasiswa tinggal di sebuah desa.
Bukan pula tentang seberapa banyak kegiatan yang dapat diselesaikan dalam satu bulan.
Baca Juga: PNS Tak Lagi Bisa Hanya Mengandalkan Masa Kerja? Ini Arah Baru Sistem Merit ASN
Pengabdian adalah tentang seberapa berarti kehadiran mahasiswa bagi proses perubahan yang dapat terus berjalan setelah mereka kembali ke kampus.
Mahasiswa pada akhirnya akan pergi. Spanduk kegiatan akan diturunkan, dokumentasi akan tersimpan, dan agenda KKN akan selesai.
Namun, jika setelah itu masyarakat masih memilah sampah, masih memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan potensi, masih menerapkan pengetahuan yang diperoleh, atau bahkan mampu mengembangkan inovasi baru secara mandiri, maka di situlah jejak pengabdian benar-benar terlihat.
Sebab, KKN yang baik bukanlah KKN yang meninggalkan banyak kegiatan, melainkan KKN yang meninggalkan kemampuan.
Dan mungkin, pertanyaan paling penting setelah mahasiswa kembali ke kampus bukanlah “Apa saja yang sudah kami lakukan?”, melainkan “Apa yang masih hidup setelah kami pergi?”
Jika jawabannya adalah pengetahuan, kebiasaan, kemandirian, dan inovasi yang terus berkembang di tengah masyarakat, maka pengabdian telah menemukan maknanya. (***)
Oleh : Mahasiswa KKN FISIP Universitas Djuanda, di Desa Tugujaya Kecamatan Cigombong Kabupaten Bogor
Editor : Yosep Awaludin