FFKB 2026 Bidik Bogor Jadi Kota Film dari Cerita Sederhana

Muhammad Nasir Arbain • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 08:57 WIB
SERIUS : Penjurian FFKB 2026.  (Nasir/ Radar Bogor)
SERIUS : Penjurian FFKB 2026. (Nasir/ Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Festival Film Kabupaten Bogor (FFKB) 2026, kembali digelar dengan membawa misi yang lebih besar.

Bukan sekadar menjadi ajang kompetisi dan pemutaran film, festival ini ingin menjadi ruang tumbuh bagi sineas lokal sekaligus mendorong geliat ekonomi kreatif di Kabupaten Bogor.

Dengan mengusung semangat kemandirian, FFKB 2026 membuka ruang bagi para pelaku film dari berbagai wilayah di Kabupaten Bogor untuk menunjukkan karya dan cerita yang lahir dari lingkungan mereka sendiri.

Ketua Panitia FFKB 2026, TB Ule Sulaeman mengatakan, festival tersebut menjadi panggung bagi sineas dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor.

Baca Juga: BTS Tutup Tur ARIRANG di Amerika Utara, 31 Konser Ditonton 1,92 Juta Penggemar

Menurutnya, potensi perfilman daerah tidak kalah besar jika diberi ruang untuk berkembang.

Kabupaten Bogor dinilai memiliki kekayaan cerita, talenta kreatif, sekaligus potensi industri yang dapat dibangun dari daerah sendiri.

“Kami ingin membuktikan bahwa Kabupaten Bogor punya cerita, punya talenta, dan punya industri yang bisa kita bangun sendiri,” kata TB Ule Sulaeman kepada wartawan, Sabtu, 12 September 2026.

FFKB 2026 Angkat Cerita Sederhana dari Bogor

Tahun ini, FFKB mengusung tagline “From A Simple Story”.

Tema tersebut dipilih untuk mengajak sineas mengangkat kisah-kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat Kabupaten Bogor.

Bagi TB Ule, sebuah film tidak selalu membutuhkan cerita yang rumit untuk bisa menyentuh penonton.

Justru kehidupan sehari-hari masyarakat dapat menjadi sumber cerita yang kuat.

Sawah, pegunungan, budaya lokal, hingga kehidupan manusia Bogor menjadi bagian dari potensi cerita yang bisa diterjemahkan ke layar lebar.

“Kita tidak perlu cerita yang ribet. Cerita sederhana tentang sawah, gunung, budaya, dan manusia Bogor justru yang paling kuat. Dari situlah industri perfilman kita bisa tumbuh,” ujarnya.

Baca Juga: Inovasi MUNVERSE Karya Siswa SMA 5 Bogor, Bikin Belajar Diplomasi Lebih Mudah

Konsep tersebut sekaligus menjadi upaya FFKB untuk mendorong sineas daerah agar berani menggali identitas lokal dan menjadikannya sebagai kekuatan dalam karya film.

Tak Hanya Lomba, Ada Pembinaan Sineas

FFKB 2026 tidak berhenti pada kompetisi dan pemutaran film.

Panitia juga menyiapkan sejumlah kegiatan pendukung untuk membantu meningkatkan kualitas karya para sineas Kabupaten Bogor.

Rangkaian kegiatan tersebut mencakup workshop, monitoring lokasi, hingga pembinaan.

Langkah ini diharapkan, dapat memberikan pengalaman sekaligus pendampingan bagi para sineas agar mampu menghasilkan karya yang semakin matang.

Dengan pola tersebut, FFKB ingin membangun ekosistem perfilman secara bertahap.

Bukan hanya mencari film terbaik, tetapi juga menciptakan ruang belajar dan kesempatan bagi talenta baru untuk berkembang.

Film Hidup, Ekonomi Kreatif Ikut Bergerak

Di balik penyelenggaraan festival film, terdapat potensi ekonomi yang cukup luas.

Menurut TB Ule, perkembangan industri film dapat memberikan dampak kepada berbagai sektor yang saling berkaitan.

Ketika produksi film berjalan, bukan hanya pemain dan sutradara yang terlibat.

Baca Juga: Catat! Pembaruan 14,1 Juta Data Bansos dan Uji Coba Perlinsos di 42 Daerah

Kru produksi, penyedia perlengkapan, vendor, pelaku usaha lokal hingga sektor pariwisata juga berpotensi mendapatkan manfaat.

“Kalau filmnya hidup, krunya hidup, vendornya hidup, pariwisatanya juga hidup. Ini menjadi efek berganda,” kata TB Ule.

Karena itu, FFKB 2026 diarahkan tidak hanya sebagai agenda budaya, tetapi juga bagian dari gerakan penguatan ekonomi kreatif di Kabupaten Bogor.

Membawa Semangat Kembali ke Jati Diri

Semangat lokal semakin diperkuat dengan filosofi Sunda “Mulih Ka Jati, Mulang Ka Asal” yang dijadikan salah satu benang merah FFKB 2026.

Filosofi tersebut dimaknai sebagai ajakan untuk kembali mengenali jati diri dan akar budaya sendiri.

Dalam konteks perfilman, semangat itu diterjemahkan melalui karya yang berangkat dari Bogor, mengangkat cerita masyarakat Bogor, dan pada akhirnya dapat menjadi kebanggaan daerah.

“Kembali ke jati diri. Bikin film yang berakar di Bogor, untuk Bogor, dan dibanggakan oleh Bogor,” tegas TB Ule.

Satu Kecamatan Ditargetkan Lahirkan Satu Film

Untuk memperluas partisipasi, panitia FFKB 2026 juga menargetkan lahirnya setidaknya satu karya film dari setiap kecamatan di Kabupaten Bogor.

Target tersebut menjadi bagian dari visi besar menjadikan Kabupaten Bogor sebagai salah satu daerah yang memiliki ekosistem perfilman kuat.

Dengan 40 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Bogor, potensi cerita yang bisa diangkat tentu sangat beragam.

Baca Juga: Intip Spesifikasi Audi Q5 Black Edition, SUV Premium dengan Mesin 2.0 TFSI 196 PS

Setiap wilayah memiliki karakter, budaya, lanskap, dan kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi sineas lokal.

“Target kita jelas. Menjadikan Kabupaten Bogor sebagai Kota Film. Dan itu akan dimulai dari FFKB,” pungkasnya.

FFKB 2026 pun diharapkan menjadi titik awal bagi semakin banyak cerita lokal untuk hadir ke layar, sekaligus membuka jalan bagi tumbuhnya talenta dan industri kreatif dari Kabupaten Bogor. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
FFKB 2026 bogor film