RADAR BOGOR – Penanganan kebakaran di TPAS Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, masih berlangsung hingga hari kedelapan.
Untuk memastikan pemadaman kebakaran di TPAS Galuga tetap berjalan tanpa henti sekaligus menjaga kondisi fisik petugas, Pemkab Bogor menerapkan sistem kerja tiga shift.
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, pembagian tiga shift dilakukan karena proses pemadaman kebakaran TPAS Galuga berlangsung selama 24 jam.
Sistem tersebut dinilai penting agar petugas tetap dapat beristirahat setelah menjalankan tugas di lapangan.
Rudy menjelaskan, meski bekerja dalam kondisi lelah setelah beberapa hari menangani kebakaran, petugas tidak boleh dipaksakan bertugas secara terus-menerus. Karena itu, personel secara bergantian ditempatkan dalam tiga kelompok kerja.
Kebijakan tersebut disampaikan Rudy saat memantau penanganan kebakaran TPAS Galuga pada Senin 14 September 2026 dini hari.
Baca Juga: Tiang Misterius Tiba-tiba Dipasang Malam Hari di Cibeureum Bogor, Warga Heran
Dalam satu hari, tiga shift petugas bergantian menjalankan proses pemadaman. Setiap personel bertugas sekitar tujuh hingga delapan jam sebelum digantikan oleh petugas dari shift berikutnya.
Dengan pola tersebut, aktivitas pemadaman tetap berjalan selama 24 jam tanpa mengabaikan kebutuhan istirahat para petugas yang berada di garis depan.
Sumber Air Didekatkan ke Titik Kebakaran TPA Galuga
Selain mengatur pola kerja personel, Pemkab Bogor juga mencari cara untuk mempercepat pemadaman, terutama di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.
Salah satu strategi yang dilakukan adalah membuat sejumlah embung air sederhana di dalam kawasan TPAS Galuga.
Embung tersebut berfungsi sebagai titik penampungan sementara untuk mendekatkan sumber air dengan area yang masih membutuhkan proses pendinginan dan pemadaman.
Embung pertama berada sekitar satu hingga dua kilometer dari titik yang menjadi sasaran pemadaman. Dari lokasi tersebut, air kemudian dialirkan secara bertahap menuju embung berikutnya.
Rudy menjelaskan, air dari embung pertama dipompa menuju embung kedua. Penampungan kedua dibuat secara sederhana menggunakan terpal dengan kedalaman sekitar satu hingga dua meter.
Selanjutnya, air dari embung kedua kembali dialirkan menuju embung ketiga yang posisinya lebih dekat dengan titik kebakaran.
Proses pemindahan air dari satu embung ke embung lainnya menggunakan mesin alkon. Cara tersebut dilakukan agar air dapat lebih mudah dibawa mendekati lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Air yang telah didekatkan melalui sistem embung tersebut kemudian digunakan untuk membantu petugas menangani titik-titik kebakaran yang berada jauh dari akses kendaraan.
Baca Juga: Harga Yamaha NMAX Bekas Mulai Rp16 Jutaan, Bisa Jadi Pilihan Skutik Nyaman
Titik Timur TPAS Galuga Sulit Dijangkau
Salah satu area yang menjadi perhatian dalam proses pemadaman berada di bagian timur TPAS Galuga.
Lokasi tersebut merupakan bagian paling ujung kawasan sehingga kendaraan pemadam kebakaran mengalami kesulitan untuk mencapai titik api.
Untuk menangani area tersebut, petugas mengandalkan rangkaian embung yang telah dibuat dan mesin alkon untuk menyalurkan air. Upaya pemadaman juga diperkuat dengan penggunaan alat berat di lapangan.
Rudy berharap kerja keras seluruh tim gabungan yang bertugas siang dan malam dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam proses pemadaman kebakaran TPAS Galuga.
Ia juga mengapresiasi upaya seluruh personel yang terus bekerja menghadapi kebakaran yang telah berlangsung selama berhari-hari.
Kebakaran TPA Galuga Masuk Hari Kedelapan
Sebagai informasi, kebakaran TPAS Galuga mulai terjadi pada Senin 7 September 2026.
Hingga Senin 14 September 2026, kebakaran telah memasuki hari kedelapan dan belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Baca Juga: International Classic Bike Race 2026 di Sentul Bogor, 150 Bikers Adu Cepat dengan Motor Klasik
Petugas gabungan masih terus melakukan pemadaman di sejumlah titik yang dinilai masih membutuhkan penanganan.
Upaya dilakukan secara nonstop dengan dukungan sistem tiga shift, embung air, mesin alkon, serta alat berat. (***)
Editor : Yosep Awaludin