Dampak Sungai Cileungsi Bogor Menghitam, Warga Keluhkan Bau hingga Sesak Napas

Muhammad Ali • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 21:32 WIB
Kondisi aliran Sungai Cileungsi di kawasan Curug Parigi, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Senin 14 September 2026. (Azis/Radar Bogor)
Kondisi aliran Sungai Cileungsi di kawasan Curug Parigi, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Senin 14 September 2026. (Azis/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Air Sungai Cileungsi yang menghitam dan mengeluarkan bau menyengat mulai mengganggu masyarakat yang tinggal di sepanjang alirannya, Senin, 14 September 2026.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman, mengatakan keluhan warga muncul karena aroma dari sungai semakin kuat, terutama pada malam hari, kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan beristirahat.

“Ini dampak terhadap masyarakat luar biasa ya, yang pertama adalah sepanjang aliran Sungai Cileungsi, masyarakat malam itu tidak bisa tidur, baunya luar biasa, termasuk saya,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Menurutnya, rumah-rumah yang berada lebih dekat dengan sungai turut terdampak karena aroma tersebut dapat masuk ke dalam rumah.

Baca Juga: Kebakaran di Bondongan Bogor, 2 Rumah Ludes Dilalap Api hingga Rusak Berat

“Rumah saya dari Sungai Cileungsi jaraknya lebih kurang sekitar 80 meter, itu pun kalau malam baunya luar biasa, bahkan ada saudara kita di atas ini (bantaran sungai) rumah-rumahnya, itu mereka pakai AC, pada nempel limbah-limbah Sungai Cileungsi di situ (AC),” katanya.

Tak hanya persoalan bau, kondisi Sungai Cileungsi yang menghitam juga dikeluhkan warga karena menimbulkan gangguan pernapasan.

“Banyak yang mengeluh bau, sesak napas, dan semacam,” lanjutnya.

Dampak pencemaran tersebut kemudian dikhawatirkan meluas ke wilayah hilir, Sungai Cileungsi mengalir hingga bertemu dengan Sungai Cikeas dan selanjutnya menjadi Kali Bekasi.

Kondisi itu menjadi perhatian karena Kali Bekasi dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat di wilayah Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi.

Puarman menyebut, PDAM Kota Bekasi, Perumda Tirta Patriot, dan PDAM Kabupaten Bekasi, Perumda Tirta Bhagasasi, melayani sekitar 172 ribu pelanggan.

“Dampak yang paling parah adalah ini tidak bisa digunakan sebagai air baku yang minum, di hilirnya. Padahal inilah sumber utama air minum saudara-saudara kita di Bekasi,” ungkapnya.

Selain mengancam pemanfaatan air di wilayah hilir, kondisi Sungai Cileungsi juga berdampak terhadap kehidupan di dalam sungai, sejumlah ikan telah ditemukan mati dan populasinya terus menurun.

“Ikan-ikan selain sapu-sapu, sudah pada mati, sudah hampir punah, ikan sapu-sapu pun sebagian sudah mulai berkurang,” ucapnya.

Ia menambahkan, berkurangnya ikan sapu-sapu justru menjadi tanda yang memprihatinkan. Sebab, ikan tersebut dikenal cukup mampu bertahan di lingkungan perairan yang keruh.

“Jadi tidak hanya manusia, ikan sapu-sapu pun yang sudah terbiasa di hidup air keruh, sudah nyerah dia lihat Sungai Cileungsi,” tandasnya. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
bogor sungai cileungsi