Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Buku dan Pameran Kartu Pos Bergambar Buitenzorg Diluncurkan, Ungkap Sejarah Bogor Lewat Filateli

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 13 Maret 2025 | 20:02 WIB
Peluncuran buku dan Pameran Buitenzorg pada Sekeping Kartu Pos.
Peluncuran buku dan Pameran Buitenzorg pada Sekeping Kartu Pos.

RADAR BOGOR - Museum Balai Kirti, Galeri Kebangsaan di kompleks Istana Bogor, menjadi tempat peluncuran buku Buitenzorg (Bogor saat Hindia Belanda) pada Sekeping Kartu Pos. Peluncuran buku ini disertai pameran kartu pos, Kamis (13/3/2025).

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, buku Buitenzorg ini menghadirkan 179 kartu pos bergambar dari tahun 1890-an hingga 1930-an. Kartu pos itu merekam perkembangan geografis dan sosial-kultural Bogor pada masa kolonial.

Kartu pos Buitenzorg yang dikumpulkan menggambarkan berbagai lanskap Bogor Kota maupun Kabupaten. Mulai dari kawasan Istana Bogor, Kabupaten Bogor, hingga daerah Puncak.

"Selain sebagai koleksi filateli, kartu pos ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi di masanya, memberikan gambaran suatu tempat kepada orang terdekat," ungkapnya.

Peluncuran buku ini turut menghadirkan pameran kartu pos asli serta karya dari komunitas pos crossing, filateli kreatif, dan Perkumpulan Filatelis Indonesia. Acara ini menjadi ajang apresiasi bagi para pecinta filateli sekaligus membuka wawasan generasi muda tentang sejarah Bogor.

"Kita ingin melalui benda-benda pos bersejarah anak muda bisa menjadi tahu soal sejarah," ujarnya.

Sekjen PFI, Mahpudi Sulaiman, menekankan filateli bukan hanya sekadar koleksi, tetapi juga alat edukasi yang mampu memperkenalkan sejarah kepada generasi muda.

Pameran ini harapnya menginspirasi dunia pendidikan agar kartu pos digunakan sebagai alat pembelajaran.

"Ini bisa menjadi cara baru bagi siswa untuk memahami sejarah melalui benda-benda filateli," ujarnya.

Mahpudi juga menyebut filateli adalah cikal bakal media sosial. Pada masanya, kartu pos digunakan untuk menyampaikan kabar singkat kepada keluarga atau sahabat, serupa dengan cara orang saat ini berkomunikasi melalui media sosial.

"Filateli adalah alat komunikasi lintas zaman. Dengan memahami sejarahnya, kita bisa melihat bagaimana masyarakat berkomunikasi dan menyebarkan informasi di masa lalu," tambahnya.

Kolektor perangko Said Faisal Basymeleh mengungkap bahwa istilah "Bogor" mulai digunakan pada 1930-an karena penduduk lokal mengalami kesulitan dalam mengucapkan Buitenzorg. Buitenzorg sendiri adalah istilah Belanda yang berarti tempat yang damai dan indah.

Ia juga menjelaskan kartu pos bergambar awalnya kurang populer di Indonesia pada 1890-an. Tetapi mulai banyak digunakan pada 1910-an dan masuk ke Bogor.

"Masuknya ke Bogor karena seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap benda filateli ini," ungkapnya.

Menurutnya, benda filateli tidak hanya sekadar benda koleksi, tetapi juga menyimpan informasi berharga tentang masa lalu. Dari benda itu bisa mengenal banyak hal, mulai dari jenis flora hingga kehidupan sehari-hari masyarakat di era kolonial.

"Ini adalah cara unik untuk melihat sejarah dari perspektif yang berbeda," katanya.

Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), Sumardiansyah Perdana Kusuma, menilai buku ini tidak hanya menggambarkan sejarah Bogor. Tetapi juga menunjukkan bagaimana kota ini memiliki peran penting dalam sejarah kolonial.

Fadli Zon sendiri memilih Bogor sebagai tema buku karena memiliki kedekatan pribadi dengan kota ini. Serta menyadari nilai historis yang kuat di dalam masyarakat maupun penjajah.

Baca Juga: Orang Kaya yang Dilahirkan di sekitar Industri Diajak Investasi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi: Jangan Terus Nambah Istri dan Rumah di Tempat Lain

"Buku ini bisa menjadi jembatan bagi anak muda untuk memahami sejarah Bogor melalui filateli. Sesuai dengan tren saat ini, filateli bisa dijadikan sebagai cara generasi muda menghubungkan masa lalu dengan keadaan sekarang," ujarnya.

Lebih lanjut, Sumardiansyah mendorong agar filateli masuk dalam kurikulum pendidikan. Menurutnya, benda filateli seperti kartu pos dan perangko dapat menjadi alat bantu bagi siswa untuk memahami sejarah secara lebih visual dan interaktif.

"Filateli bukan sekadar koleksi, tapi juga sarana pembelajaran. Dengan menjadikannya bagian dari kurikulum, kita bisa memastikan bahwa sejarah tetap hidup di tengah generasi muda," tutupnya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #Kartu Pos #Buitenzorg