RADAR BOGOR - Pintu kebaikan saat Ramadhan benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja. Bahkan kebaikan Ramadhan ini juga berlaku untuk mereka yang non muslim.
Hal itu pula yang turut diraskaan Ingram Ahmad, Owner Barokah Cathering sempat merasa nyaman saat ikut sholat taraweh.
sebelum akhirnya menjadi ia seorang mualaf. Ingram Ahmad besar dari keluaga Protestan yang taat beragama.
Dia tidak pernah absen unruk beribadah sebagai nasroni setiap Minggu.
Bahkan ayah dan ibunya sempat menjdi pengurus di salah satu gereja yang berlokasi di Jakarta.
Sejak kecil Ingram sudah dididik untuk taat kepada aturan tuhan. Karena itu meski dirinya seorang non muslim, dia mengaku tidak pernah melakukan praktek perbuatan keji seperti cerita beberapa muallaf lainnya.
Ingram mengaku sebelum bersyahadat dia juga memang sudah dekat dengan orang-orang islam. Teman dan sahabtnya didominisasi oleh seorang muslim.
Sehingga dia tidak aneh dengan berbagai macam praktek peribadatan yang dilakukan oleh kawannya itu.
Satu ketika dia sedang berkunjung ke rumah salah seorang temannya yang berlokasi di Jakarta.
Bertepatan saat Ingram main, rekannya hendak melaksanakan sholat taraweh, sebab momennya sedang Ramadhan.
“Saya juga penasaran dengan sholat taraweh, ko temen saya mau sholat dengan rokaat banyak (23 Rokaat) akhirnya ikutlah sempat dilarang oleh dia cuma saya memaksa,” beber Ingram Pada Radar Bogor.
Sesampaianya dia di salah masjid, Ia pun layaknya seorang muslim. Ikut berhudu walaupun prakteknya tidak mengerti.
Saat Imam membacakan lantunan ayat Al Quran, Ingram mengaku hatinya begitu terenyuh.
Bahkan saat sujud, tidak terasa air matanya mengalir. Ingram menyebut tidak pernah merasa nyaman seperti apa yang dia rasakan malam itu. Bahkan dia juga sampai tidak sadar kalau dirinya seorang nasrani.
“Waktu itu saya ada di umur sekitar SMP, tapi soal perasaan saya, saya tidak ceritakan ke teman, saya malu, karena walau bagaimanapun saya kan seorang Peotestan,” ucapnya.
Selepas bermain, akhirnya Ingram pulang ke rumah. Namun dia juga bertanya tanya soal maksud dan perasaannya itu. Dia juga ngaku belum terbesit untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Rasa bingung terus menyelimuti hari demi hari, namun lagi-lagi Ingram tidak mengindahkannya. Hingga waktu telah menununkan bahwa dia sudah menjadi dewasa sebab telah duduk dibangku SMA.
Saat itu dia justru malah lebib taat sebagai seorang Protestan. Namun satu malam Ingram menjelaskan bahwa dia rindu dengan rasa nyaman yang sempat Ia rasakan beberapa tahun lalu.
“Akhirnya saya baca baca beberapa informasi seputar agama islam, khususnya sholat taraweh, dan benae saya lagi lagi menangis dan tersentuh dengan maknananya,” ujarnya.
Dan diumurnya ke 26 tahun, Ingram akhirnya memantapkan diri untuk bersyahadat. Meski orang tuanya seorang Nasrani namun kata Ingram keduanya tidak marah dengan keputusannya itu.
“Kecewa si sudah paati, cuma tidak marah berkepenjagan, malahan dia bilang harus jadi muslim yang benar, dan harus tanggung jawab dengan keputusan yang diambil,” pungkasnya (rp1)
Editor : Alpin.