RADAR BOGOR - Kota Bogor masih jadi salah satu wilayah yang kerap dilanda banjir. Kondisi ini disinyalir akibat buruknya sistem drainase yang ada di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko mengatakan sepanjang bulan Agustus, bencana banjir sudah terjadi 5 kali.
Mayoritas yang terdampak adalah mereka yang tinggal di Tanah Sareal. Pertama banjir melanda ke Kampung Rawajati Kecamatan Tanah Sareal.
Kemudian Jalan Pool Binamarga, berlanjut ke Kencana dan terakhir luapan air terjadi di Kampung Sumurwangi yang berada du Kelurahan Kayumanis.
“Di Bubulak, Bogor Barat juga pernah, tapi itu hanya banjir lintasan. Secara umum, banjir rata-rata terjadi akibat dari luapan air drainase, serta curah hujan yang tinggi,” kata Dimas pada Radar Bogor, Selasa 19 Agustus 2025.
Jika dihitung dari awal tahun, Dimas mencatat banjir di Kota Bogor sudah terjadi sebanyak 17 kali. Data ini dihimpun dari bulan Januari hingga 16 Agustus 2025 lalu.
BPBD disebut Dimas menghimbau kepada seluruh warga Kota Bogor untuk selalu waspada. Apalagi yang tinggal di dekat bantaran sungai. Jika ada kejadian, segera menghubungi BPBD Kota Bogor.
“Di kondisi cuaca yang kerap kali berubah dan tidak menentu. Tetap tenang dan wasapda hubungi petugas di nomor kedaruratan. Bila mana terjadi situasi yang membutuhkan bantuan,” ucap Dimas.
Bencana banjir yang kerap melanda Kota Bogor juga sempat disinggung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Hal ini dia sampaikan saat melangsungkan program Nganjang Ka Warga beberapa waktu lalu.
Dedi menegaskan bahwa kedepan selokan mesti dimuliakan bukan dihinakan. Artinya seluruh masyarakat diminta Dedi harus rajin membersihkan saluran air yang kerap dinilai menjijikan itu.
Jika langkah itu dilakukan secara massif, maka Kota Bogor disebut Dedi tidak lagi difitnah sebagai sumber utama penyebab banjir yang kerap melanda wilayah lain. Dedi menggaransi dirinya siap menjadi motor perubahan.
“Mari kita buka kesadaran. Kalau tidak mau ada banjir, harus dikembalikan seperti semula lingkungannya. tidak boleh ada yang buang limbah ke selokan. Selokan harus dimuliakan jangan dihinakan,” jelas Dedi.
Dalam kesempatan tersebut Dedi pun turut menyinggung para pengusaha yang membuat proyek pembangunan tanpa memiliki izin resmi.
Bagi Dedi orang-orang yang seperti itu hanya bisa mengerti untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan kondisi sekitar.
Oleh karena itu, Dedi meminta kepada warga Kota Bogor untuk berani memberikan contoh kepada oknum pengusaha tersebut. Caranya dengan tidak mendirikan bangunan di bantaran sungai.
“Dibantaran Sungai Ciliwung tidak boleh ada bangunan. Kita haris silih asah, silih asih, silih asuh. Hidup tidak boleh saling menyalahkan. Mari kita buat perubahan dengan kesadaran,” pungkasnya.(rp1)