Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

KPAID Kota Bogor Ungkap Fakta di Balik Kasus Kekerasan Terhadap Anak hingga Hadirkan Program Duta Ayah dan Duta Bunda

Muhammad Ali • Sabtu, 15 November 2025 | 08:17 WIB
Ketua KPAD Kota Bogor sekaligus Ketua PC Fatayat NU Kota Bogor, Dede Siti Amanah saat berdiskusi dalam forum OBSESI (Obrolan Serius untuk Mencari Solusi) yang digelar Radar Bogor.
Ketua KPAD Kota Bogor sekaligus Ketua PC Fatayat NU Kota Bogor, Dede Siti Amanah saat berdiskusi dalam forum OBSESI (Obrolan Serius untuk Mencari Solusi) yang digelar Radar Bogor.

RADAR BOGOR — Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Bogor menunjukkan tren peningkatan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor mengungkapkan sejumlah temuan serius terkait pola, pelaku, hingga lemahnya pendampingan keluarga.

Ketua KPAD Kota Bogor sekaligus Ketua PC Fatayat NU Kota Bogor, Dede Siti Amanah Hal itu dalam forum Obsesi (Obrolan Serius untuk Mencari Solusi) yang digelar Radar Bogor di Graha Pena, Jumat, 14 November 2025 menyatakan bahwa kekerasan anak kini tidak lagi menjadi isu tersembunyi, melainkan persoalan nyata yang kerap terjadi di lingkungan terdekat.

Ia mengutip rilis pengawasan KPAI tahun 2024 yang mencatat peningkatan angka meninggalnya anak dan tiga penyebab utamanya ialah kecelakaan, sakit, dan anak yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Dari kategori terakhir tersebut kata Dede, penyebab terbesar yakni bullying, fisik, maupun verbal.

“Angkanya terus meningkat dan ini sangat memprihatinkan, bullying menjadi faktor dominan yang memicu anak mengambil keputusan ekstrem,” ujar Dede Jumat, 14 November 2025.

Dede memaparkan bahwa usia pelaku terhadap anak sangat bervariasi, pada 2024, pelaku tertua tercatat berusia 70 tahun, sementara yang termuda adalah 8 tahun.

Dari data pengaduan, mayoritas pelaku merupakan orang yang dikenal korban. Dede menegaskan bahwa kepercayaan menjadi pintu masuk utama terjadinya tindakan tersebut.

“Mulai dari memanggil anak masuk ruangan sendirian hingga meminta datang malam hari, itu terjadi karena ada hubungan dekat dan rasa percaya,” katanya.

Dede juga menyoroti minimnya peran ayah dalam mendampingi anak, baik dalam proses pelaporan maupun penanganan kasus dan hampir seluruh proses pendampingan dilakukan oleh ibu.

“Ayah tidak perlu banyak bicara, hadir saja sudah bisa menguatkan anak. Namun kenyataannya, kehadiran ayah sangat minim,” tegasnya.

Untuk menjawab fenomena tersebut, KPAID Kota Bogor telah menjalankan program duta selama tiga tahun terakhir, termasuk menghadirkan Duta Ayah dan Duta Bunda sebagai upaya memperkuat peran orang tua dalam perlindungan anak.

“Fenomena fatherless ini nyata, karena itu kami menghadirkan duta yang fokus pada penguatan peran ayah dan ibu,” tutupnya. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #kpaid #anak