RADAR BOGOR - Anggota DPRD Kota Bogor Dedi Mulyono menyoroti insiden mual hingga sakit perut massal usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di Kota Bogor di wilayah Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
Dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyono, ia mengungkapkan peristiwa ini menimbulkan keprihatinan mendalam karena terjadi di tengah desakan percepatan Sertifikasi Laik Higienis Sanitasi (SLHS) untuk seluruh penyelenggara penyedia pangan gizi (SPPG).
Dari total 55 SPPG yang telah beroperasi, baru lima yang berhasil memperoleh SLHS. Situasi ini dinilai berbahaya dan berpotensi memicu insiden serupa di kemudian hari.
Peringatan tentang risiko ini sebelumnya telah disampaikan dalam rapat bersama Badan Anggaran dan Dinas Kesehatan, tetapi kejadian serupa kembali terulang.
Pihak legislatif mempertanyakan lambannya penerbitan SLHS dan menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat.
Mereka juga meminta kejelasan mengenai kewenangan Inspektorat dalam mengawasi proses sertifikasi higienitas agar tidak terjadi kasus serupa.
Inspektorat menjelaskan bahwa pengawasan langsung terhadap program makan bergizi gratis bukan termasuk kewenangannya karena program tersebut bersumber dari anggaran pusat.
Meski begitu, koordinasi dengan Dinas Kesehatan tetap dilakukan untuk mengingatkan pentingnya percepatan verifikasi seluruh penyelenggara MBG sesuai perintah wali kota.
Dalam pembahasan lain, DPRD juga meminta pembaruan terkait rencana audit pendapatan asli daerah (PAD).
Kajian PAD yang telah dilakukan bersama IPB telah dipaparkan sebelumnya, namun progres audit lanjutan belum ditampilkan.
Inspektorat memastikan audit PAD akan masuk dalam rencana kerja 2026 melalui program kerja pengawasan tahunan (PKPT).
Terkait efisiensi anggaran, Inspektorat menyebut bahwa sejumlah kegiatan memang tidak dianggarkan, namun memastikan bahwa pemantauan dan evaluasi atas tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK tetap berjalan.
Pemerintah daerah diharapkan segera mempercepat penerbitan SLHS bagi seluruh SPPG untuk menjamin keamanan pangan dan mencegah terulangnya kasus keracunan di masa mendatang.***
Editor : Eli Kustiyawati