Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Lonjakan Kasus Terjadi Tiap Tahun, Tokoh Muslimah Bogor Serukan Aksi Nyata Hadapi Darurat HIV AIDS

Fikri Rahmat Utama • Jumat, 28 November 2025 | 15:45 WIB
Muslimah Peduli Bogor (MPB) saat menggelar Diskusi Tokoh Muslimah Kota Bogor dengan tema Darurat HIV/AIDS, Selamatkan Kota Bogor dari HIV/AIDS.
Muslimah Peduli Bogor (MPB) saat menggelar Diskusi Tokoh Muslimah Kota Bogor dengan tema Darurat HIV/AIDS, Selamatkan Kota Bogor dari HIV/AIDS.

RADAR BOGOR – Muslimah Peduli Bogor (MPB) menggelar Diskusi bersama tokoh muslimah Kota Bogor dengan tema Darurat HIV/AIDS: Selamatkan Kota Bogor dari HIV/AIDS pada Jumat, 28 November 2025.

Acara berlangsung di Adoo Galo Resto, Kedung Jaya, Tanah Sareal, dan dihadiri sekitar 25 tokoh muslimah dari beragam latar belakang, mulai dari praktisi kesehatan, akademisi, hingga pelaku usaha.

Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Yusniar Ritonga, Penasehat PPNI sekaligus mantan Ketua KPA Kota Bogor periode 2019–2024, serta Ustadzah Dedeh Wahidah Achmad, seorang pegiat dan pengamat keluarga dan generasi.

Keduanya menekankan HIV/AIDS di Kota Bogor bukan lagi isu kesehatan semata, melainkan ancaman serius bagi keberlangsungan generasi muda.

Ketua panitia kegiatan, Yuli Kusuma Dewi, mengatakan diskusi ini diadakan bertepatan dengan momentum peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember.

Menurutnya, diperlukan ruang khusus bagi para tokoh muslimah untuk membahas strategi penanganan HIV/AIDS secara mendalam dan terarah.

“Kami melihat lonjakan kasus terjadi dari tahun ke tahun. Ini membutuhkan perhatian dan aksi nyata dari semua elemen, termasuk tokoh muslimah. Diskusi terbatas ini menjadi ruang untuk menyusun langkah bersama,” ujarnya.

Data menunjukkan pada Juli 2023 tercatat lebih dari 5.700 Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Bogor.

Angka tersebut menempatkan Kota Bogor di peringkat ketiga tertinggi kasus HIV/AIDS di Jawa Barat.

Mirisnya, penyebaran terjadi pada semua kelompok usia, mulai dari balita hingga lansia, dengan kasus terbanyak dialami kelompok usia produktif 15–29 tahun.

Maka forum tersebut, para tokoh muslimah yang hadir diharapkan menjadi penyampai informasi di komunitas masing-masing.

"MPB menilai peran tokoh sangat penting karena dapat memperkuat edukasi masyarakat di tingkat keluarga hingga komunitas akar rumput," jelasnya.

Mereka pun menegaskan komitmen untuk terus mengawal isu-isu sosial dan kesehatan di Kota Bogor, termasuk HIV/AIDS.

Usai kegiatan ini, MPB mendorong gagasan, kerja bersama, dan langkah nyata agar Kota Bogor mampu menekan laju penyebaran HIV/AIDS.

"Mencegah penyebaran penyakit ini sekaligus menjaga generasi muda dari ancaman yang semakin mengkhawatirkan tersebut," jelasnya.

Dalam paparannya, Yusniar Ritonga menegaskan pentingnya kolaborasi berkesinambungan dalam penanganan HIV/AIDS.

Ia menjelaskan pendampingan pasien tidak boleh disertai stigma, sekalipun ditemukan kasus atau temuan sensitif di lingkungan tempat tinggal pasien.

“Kita tidak boleh melakukan penilaian atau memberi stigma terhadap keluarga pasien. Yang utama adalah koordinasi lintas sektor agar layanan kesehatan tetap berjalan,” katanya.

Yusniar menerangkan koordinasi penting dilakukan mulai dari Dinas Pendidikan, para camat, Dinas Sosial, rumah sakit, puskesmas, hingga klinik swasta.

Koordinasi ini untuk memastikan keberlanjutan layanan, termasuk penyediaan obat ketika stok di fasilitas kesehatan tertentu habis.

Ia menyebutkan saat ini sudah ada organisasi lintas lembaga yang bertugas mengelola program penanganan HIV/AIDS.

Salah satunya Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang membantu mencegah di masyarakat sekaligus memberikan masukan kebijakan untuk pemerintah daerah.

"Semua masukan terkait HIV/AIDS akan kami tampung kemudian diteruskan kepada Wali Kota Bogor agar kebijakan dapat memperkuatnya lewat kebijakan," jelasnya.

Sementara itu, Ustadzah Dedeh Wahidah Achmad menyoroti sisi moral, sosial, dan spiritual dari meningkatnya kasus HIV/AIDS.

Ia memaparkan faktor penularan terbesar terjadi pada kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), disusul pekerja seks, pengguna NAPZA suntik, serta penularan dari suami kepada istri.

Menurutnya, penularan HIV/AIDS tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup berisiko dan minimnya kontrol sosial.

Kerusakan ini adalah konsekuensi dari gaya hidup yang menyimpang dari aturan Allah.

"Jika masyarakat membuka celah kemaksiatan dan tidak ada kontrol amar ma'ruf nahi munkar, maka penyebaran seperti ini tidak bisa dihindari,” jelasnya.

Ustadzah Dedeh menekankan perlunya solusi komprehensif berbasis Islam, meliputi penguatan iman individu, kontrol sosial masyarakat, hingga kebijakan negara yang menutup semua celah perilaku berisiko.

"Saatnya kita berjuang untuk menegakkan Sistem Islam yang akan melindungi keluarga dan generasi," jelasnya. (uma)

Editor : Alpin.
#kota bogor #hiv aids #muslimah