RADAR BOGOR - Kepedulian terhadap bencana di Aceh dan Sumatera datang dari warung kecil Mie Aceh Semeru, Kota Bogor.
Pemilik Warung Mie Aceh menggeratiskan semua menu yang dijual untuk mahasiswa berasal dari wilayah terdampak bencana.
Langkah kecil itu dilakukan Warung Mie Aceh Semeru, yakni program bantuan yang sudah berlangsung sejak tiga hari lalu.
Program ini tidak akan berhenti sampai semua kondisi wilayah terdampak bencana Sumatera kembali pulih.
Pemilik Warung Mie Aceh Semeru, Rahmat mengatakan banjir yang menimpa Aceh dan Sumatera turut berdampak pada mahasiswa yang tengah merantau. Sebab biaya untuk kebutuhan yang diberikan juga terhenti.
“Karena orang tuanya tidak ngirim uang ditambah ini akhir bulan, jadi memang uang jajanya mereka habis. Jadi alahmdulillah responnya positif,” jelas Rahmat saat ditemui Radar Bogor di warung miliknya.
Dalam sehari ada tiga sampai lima mahasiswa yang datang ke warungnya. Menariknya gerakan sosial ini juga tidak hanya berlaku bagi mereka yang merangtau ke Bogor. Rahmat membuka gerakan ini seluas luasnya.
Hanya saja bentuk bantuannya berbeda. Bagi mereka yang tinggal di luar Bogor, Rahmat turut memberikan uang jajan untuk mahasiswa tersebut.
Besarannya memang tidak banyak, tapi cukup untuk bekal mereka jajan.
“Yang jauh-jauh biasanya mereka kami kirimkan donasi saya kasih dari range Rp200 sampai Rp250 ribu. Kemarin juga ada mahasiswa yang minta bahan pokok jadi kamj kasih juga,” ujar Rahmat.
Rahmat berkeinginan, warung kecilnya itu dapat memberikan nilai manfaat untuk banyak orang.
Informasi makan gratis ini terus ia sebarkan baik dari mulut ke mulut maupun media sosial.
“Saya juga dulu perantau saya lulusan IPB University. Saya merasakan betul gimana sulitnya ketika bantuan dari kampung terlambat. Jadi sekarang selagi ada rezeki kenapa tidak kita yang memberikan bantuan,” terang Rahmat.
Bantuan ini turut diberi respon positif oleh penerima manfaatnya. Hal itu seperti diutarakan oleh Ainul Atikah, mahasiwa IPB University. Dia merantau jauh dari yang dari Padang Panjang.
“Alhamdulillah terbantu dengan adanya bantaun ini. Saya juga coba share ke temen temen yang juga terdampak. Saya sendiri sangat terbantu, jadi bisa lebih hemat,” terang Ainul, Rabu 3 Desember 2025.
Ainul menerangkan sudah sepekan bantuan dari orang tuanya tak kunjung diterima. Mata pencaharian ayah dan ibunya hilang sebab akses tranportasi yang digunakan juga terputus.
“Biasnaya saya dikirimin beras dari kampung tapi karena jalan putus, keadannya jadi tidak bisa,” terang Ainul
Untuk bertahan hidup diperantauan Ainul harus menghemat sisa sisa kiriman dari orang tuanya.
Sementara untuk jajan dirinya hanya mengandalkan uang pemberian dari beasiswanya.
“Jadi saya sangat terbantu. Bisa lebih hemat uang juga. Saya tau informasi ini dari media sosial. Semoga warungnya terus diberikan kelancaran dan keberkahan,” pungkasnya.(bay)
Editor : Alpin.