Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Penumpang Biskita Tembus 1,5 Juta, DPRD Kota Bogor Dorong Skema Subsidi Berbasis Penumpang

Fikri Rahmat Utama • Jumat, 17 Juli 2026 | 15:41 WIB
BisKita Trans Pakuan saat berada di Terminal Bubulak Kota Bogor.(Sofiansyah/Radar Bogor)
BisKita Trans Pakuan saat berada di Terminal Bubulak Kota Bogor. (Sofiansyah/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Kinerja operasional Biskita Transpakuan Kota Bogor menunjukkan tren positif sepanjang Semester I 2026.

Jumlah pengguna layanan transportasi publik ini mencapai 1.5 juta penumpang periode Januari-Juni 2026, dengan rata-rata load factor 60,49 persen.

Capaian tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan Pertanggungjawaban Pelaksanaan (PP) APBD Tahun Anggaran 2025.

DPRD Kota Bogor mendorong evaluasi skema pembiayaan operasional Biskita agar subsidi lebih efisien dan sesuai manfaat yang diterima masyarakat.

Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Rusli Prihatevy, mengatakan pola subsidi tidak cukup hanya dihitung berdasarkan jarak tempuh bus, tetapi perlu mempertimbangkan jumlah penumpang yang dilayani.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Arif Budiman, Seorang Tunanetra yang Kini Jadi Pejabat Pemkab Bogor

"Kami menyepakati pelayanan ini harus mengefektifkan jumlah penumpang dan memaksimalkan pelayanan, karena anggarannya dibebankan pada APBD. Ke depan, perhitungan tidak lagi berdasarkan kilometer pergerakan bus, tetapi harus lebih efektif berdasarkan jumlah penumpang," ujar Rusli, Jumat, 16 Juli 2026.

Subsidi Berbasis Kinerja Layanan

Konsep tersebut mengarah pada perubahan dari subsidi berbasis kilometer menuju subsidi berbasis kinerja layanan.

Artinya, dukungan anggaran akan lebih mempertimbangkan tingkat pemanfaatan bus oleh masyarakat, bukan hanya jumlah perjalanan armada.

Sebagai gambaran, jika subsidi operasional sebesar Rp25 miliar dibagi berdasarkan kontribusi penumpang Semester I 2026, maka koridor dengan jumlah pengguna terbesar akan mendapat porsi lebih besar.

Koridor 2 Bubulak-Ciawi yang melayani sekitar 688 ribu penumpang atau 44 persen dari total pengguna dapat menjadi penerima alokasi terbesar, disusul Koridor 1 Bubulak-Cidangiang dengan sekitar 430 ribu penumpang.

Namun, skema tersebut tidak berarti koridor dengan jumlah penumpang rendah langsung dihentikan. Koridor seperti 5 dan 6 tetap dapat memperoleh subsidi karena memiliki fungsi pelayanan publik dan membuka akses transportasi bagi masyarakat di wilayah tertentu.

Dari sisi kinerja, jumlah penumpang Biskita meningkat dari 182.065 orang pada Januari menjadi 313.605 orang pada Juni 2026 atau tumbuh sekitar 72 persen. Tingkat keterisian bus juga naik dari 42,51 persen menjadi 70,17 persen.

Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Bogor Dody Wahyudin mengatakan usulan perubahan skema subsidi masih dalam pembahasan. Pemerintah daerah memastikan peningkatan kualitas layanan tetap menjadi prioritas.

"Berdasarkan laporan, terjadi kenaikan load factor dan pendapatan. Ini periode Januari hingga Juni 2026," kata Dody.

Menurutnya, peningkatan kinerja tersebut turut dipengaruhi penambahan 35 titik henti (bus stop) sejak 4 Mei 2026 yang memperluas akses masyarakat terhadap layanan Biskita.

Dari sisi pendapatan, Biskita Transpakuan mencatat penerimaan Rp6,11 miliar selama Semester I 2026. Pendapatan bulanan meningkat dari Rp610,9 juta pada Januari menjadi Rp1,25 miliar pada Juni atau tumbuh 105,3 persen.

Koridor 2 Bubulak-Ciawi menjadi koridor dengan performa tertinggi. Tingkat keterisian bus bahkan mencapai lebih dari 100 persen sejak Maret hingga Juni karena tingginya perputaran penumpang sepanjang jalur tersebut.

Untuk 2027, Dishub Kota Bogor menyiapkan strategi pengembangan enam koridor dengan penataan ulang subsidi.

Koridor yang sudah memiliki tingkat permintaan tinggi seperti Koridor 1 dan Koridor 2 diarahkan menuju operasional yang lebih mandiri, sementara dukungan APBD dapat difokuskan untuk koridor yang masih membutuhkan subsidi.

Dengan kebutuhan 68 bus operasional dan enam unit cadangan, Pemerintah Kota Bogor menargetkan Biskita Transpakuan semakin efisien, menjangkau lebih banyak masyarakat, dan menjadi moda transportasi publik yang berkelanjutan. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
bogor Biskita dprd