RADAR BOGOR – Sebanyak 150 anggota Tim Ekspedisi Patriot 2026 IPB University resmi diberangkatkan untuk mendampingi pembangunan di berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia.
Program kolaborasi antara Kementerian Transmigrasi dan IPB University ini diharapkan mampu mempercepat pengembangan wilayah melalui riset, inovasi, serta pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah.
Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot 2026 berlangsung di Auditorium FMIPA IPB University, Selasa 21 Juli 2026.
Tim Ekspedisi Patriot 2026 IPB University dilepas oleh Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, didampingi Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet, Kepala LPA2I IPB University Dr. Handian Purwawangsa, serta para pimpinan IPB University.
Dalam sambutannya, Wamen Transmigrais Viva Yoga Mauladi menjelaskan bahwa Ekspedisi Patriot 2026 merupakan program nasional Kementerian Transmigrasi yang melibatkan 1.458 generasi muda.
Terdiri atas 246 ketua tim dan 1.230 anggota, untuk melaksanakan penelitian, kajian, sekaligus pendampingan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Baca Juga: Roku Ramen, Kuliner Mewah khas Jepang dengan Harga Terjangkau di Blok M
Program tersebut menggandeng 10 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, di antaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan IPB University.
Para peserta akan menjalankan masa pengabdian selama empat bulan di wilayah non-Papua, sementara penugasan khusus di kawasan Papua berlangsung selama satu tahun.
Mereka akan ditempatkan di 156 pusat pertumbuhan baru yang tersebar di berbagai daerah untuk mendukung pengembangan sektor pertanian, perikanan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat setempat.
Viva Yoga mengatakan kerja sama antara Kementerian Transmigrasi dan IPB University telah berjalan selama dua tahun.
Menurutnya, orientasi program transmigrasi kini tidak lagi hanya berfokus pada pemerataan penduduk, melainkan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan masyarakat.
"Kami berharap kolaborasi bersama IPB University dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi. Saya juga mengajak seluruh peserta untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik selama menjalankan penugasan," ujar Viva Yoga.
Sementara itu, Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship IPB University, Dr. Hadian Purwangsa, menjelaskan bahwa keikutsertaan Tim Ekspedisi Patriot bertujuan mendukung percepatan pembangunan kawasan transmigrasi melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dari total 150 peserta yang diberangkatkan, terdiri atas 25 ketua tim dan 125 anggota.
Komposisi ketua tim meliputi tiga profesor, 18 doktor, dan empat magister, sedangkan anggota tim terdiri atas 24 magister, 77 sarjana, serta 24 sarjana terapan.
Mereka akan menjalankan tugas di sejumlah kawasan transmigrasi yang berada di Papua Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
Baca Juga: Gemoy Coin: Cheese Coin Viral dengan Keju Meleleh yang Bikin Susah Berhenti Makan
Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh peserta telah mengikuti pembekalan yang mencakup kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi, strategi pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan ekonomi.
Kemudian pengembangan ekosistem bisnis berbasis One Village One CEO, pengembangan komoditas unggulan, tata kelola administrasi keuangan, pelaporan, manajemen risiko, komunikasi sosial, hingga etika bermasyarakat.
Hadian berpesan agar seluruh peserta menjaga nama baik almamater selama menjalankan tugas serta menghormati nilai-nilai budaya masyarakat di lokasi penugasan.
"Kami berharap seluruh peserta tetap menjunjung profesionalisme, menghargai kearifan lokal, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain itu, kesehatan dan keselamatan selama bertugas harus menjadi prioritas utama dengan mematuhi seluruh prosedur yang telah ditetapkan," katanya.
Di kesempatan yang sama, Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet menilai Ekspedisi Patriot bukan sekadar program pengabdian masyarakat, melainkan wadah untuk membangun ekosistem pembangunan kawasan transmigrasi secara lebih terintegrasi.
Menurutnya, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas masyarakat, tetapi juga memperkuat kelembagaan, memperluas akses pasar, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kawasan transmigrasi.
Alim juga menilai kegiatan tersebut menjadi ruang belajar yang berharga bagi para mahasiswa karena mereka akan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan nyata di masyarakat.
Ia mengingatkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menyebut bahwa setiap tempat dapat menjadi ruang belajar dan setiap orang dapat menjadi guru.
Baca Juga: Penyidikan Korupsi RSUD Bogor Utara Terus Bergulir, Kejari Isyaratkan Tersangka Bisa Bertambah
"Mahasiswa akan memperoleh pengalaman langsung dari masyarakat, baik petani, pekebun, nelayan, perangkat desa, maupun pelaku usaha lokal. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting yang tidak selalu didapatkan di ruang kuliah," ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya aktivitas atau laporan yang dihasilkan, melainkan dari besarnya manfaat yang mampu dirasakan masyarakat di kawasan transmigrasi.
"Yang terpenting adalah bagaimana kehadiran Tim Ekspedisi Patriot benar-benar memberikan dampak positif, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, serta menghasilkan manfaat yang berkelanjutan bagi daerah tempat mereka mengabdi," tutup Alim. (***)
Editor : Yosep Awaludin