RADAR BOGOR – Kota Bogor terus mempersiapkan diri menghadapi penilaian Swasti Saba Wistara 2027 setelah berhasil meraih predikat Swasti Saba Wiwerda 2025.
Namun, keberhasilan meraih penghargaan tertinggi dalam program Kabupaten/Kota Sehat dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kelengkapan administrasi, melainkan membutuhkan sinergi nyata hingga tingkat kelurahan.
Penguatan tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Penguatan Kelembagaan Pokja Kelurahan dan Forum Kecamatan Sehat yang digelar di Aula Kecamatan Bogor Barat, Rabu 22 Juli 2026.
Pertemuan itu mempertemukan Forum Kota Sehat, unsur kecamatan, puskesmas, serta perwakilan dari 16 kelurahan guna menyusun strategi menghadapi penilaian Kabupaten/Kota Sehat tahun 2027.
Selain membahas kesiapan menghadapi evaluasi, forum juga mengkaji upaya menyelaraskan peran Kelurahan Siaga dengan Pokja Kelurahan Sehat agar pelaksanaan program di lapangan semakin efektif dan tidak tumpang tindih.
Penghargaan Bukan Tujuan Akhir
Capaian Swasti Saba Wiwerda 2025 dinilai menjadi modal penting bagi Kota Bogor untuk melangkah menuju kategori Swasti Saba Wistara pada 2027.
Baca Juga: Bergeraklah Anakku: Jangan Biarkan Layar Mencuri Masa Depanmu
Meski demikian, penghargaan tersebut dipandang sebagai indikator keberhasilan tata kelola, bukan tujuan utama pembangunan.
Esensi program Kabupaten/Kota Sehat adalah menciptakan lingkungan yang bersih, aman, nyaman, sehat, inklusif, serta berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.
Dalam sistem penilaian Kabupaten/Kota Sehat, terdapat sembilan tatanan dengan 136 indikator yang harus dipenuhi.
Penilaiannya mencakup berbagai sektor, mulai dari kehidupan masyarakat sehat mandiri, permukiman, fasilitas umum, sekolah, pasar, kawasan industri, pariwisata, transportasi, perlindungan sosial hingga penanggulangan bencana.
Karena cakupannya sangat luas, keberhasilan program tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh perangkat daerah, kecamatan, kelurahan, puskesmas, perguruan tinggi, dunia usaha, media, hingga masyarakat.
Fokus Perbaikan pada Tiga Bidang Prioritas
Hasil evaluasi menunjukkan masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat menjelang penilaian 2027.
Tiga bidang yang menjadi perhatian utama meliputi penanggulangan bencana, kehidupan masyarakat sehat mandiri, serta permukiman dan fasilitas umum.
Ketiga sektor tersebut dinilai berhubungan langsung dengan kualitas hidup masyarakat, ketahanan wilayah, serta kondisi lingkungan sehari-hari.
Karena itu, peningkatan kualitas tidak cukup hanya dilakukan melalui penyusunan dokumen administrasi, tetapi harus diwujudkan dalam program yang berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi warga.
Pokja Kelurahan Harus Aktif, Bukan Sekadar Ada di Atas Kertas
Dalam penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat, pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu pilar utama.
Baca Juga: Warga Bogor Keluhkan Biaya Parkir di Stadion Pakansari Naik Jadi Rp5 Ribu
Keberadaan surat keputusan, struktur organisasi, sekretariat, rencana kerja hingga laporan kegiatan memang menjadi syarat penting. Namun, seluruh perangkat tersebut hanya akan bermakna apabila organisasi benar-benar menjalankan fungsinya.
Pokja Kelurahan yang aktif ditandai dengan koordinasi rutin, pembahasan persoalan berdasarkan data, pembagian tugas yang jelas, tindak lanjut yang terukur, serta keterlibatan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi maupun kebutuhan di wilayahnya.
Di Kecamatan Bogor Barat, kesiapan seluruh 16 kelurahan menjadi faktor penting karena capaian satu kelurahan akan memengaruhi penilaian tingkat kecamatan hingga kota.
Kelurahan Siaga dan Pokja Kelurahan Sehat Perlu Bersinergi
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas besarnya kesamaan fungsi antara Kelurahan Siaga dan Pokja Kelurahan Sehat.
Kedua wadah sama-sama menjalankan program pemberdayaan masyarakat, promosi perilaku hidup bersih dan sehat, pengendalian penyakit, kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi, sanitasi lingkungan, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Kesamaan tersebut dipandang sebagai peluang untuk memperkuat koordinasi, bukan menimbulkan tumpang tindih kewenangan.
Kelurahan Siaga dapat difokuskan sebagai penggerak kegiatan masyarakat, sedangkan Pokja Kelurahan Sehat menjalankan fungsi koordinasi lintas sektor.
Melalui pembagian tugas yang lebih jelas, rapat yang berulang, permintaan data ganda, serta beban administrasi diharapkan dapat diminimalkan.
Data Menjadi Kunci Penilaian Swasti Saba 2027
Dokumentasi kegiatan menjadi salah satu unsur penting dalam proses evaluasi Kabupaten/Kota Sehat.
Penilaian tahun 2027 akan menggunakan data pelaksanaan program selama 2025 hingga 2026.
Baca Juga: Ledakan Gas Memicu Runtuhnya Terowongan di India, 10 Orang Meninggal, 17 Lainnya Hilang
Karena itu, setiap kegiatan perlu didukung dokumen yang lengkap, mulai dari tujuan, waktu pelaksanaan, daftar peserta, sumber pendanaan, hasil kegiatan, kendala, tindak lanjut, daftar hadir, notulen hingga dokumentasi foto.
Data yang tersusun dengan baik tidak hanya berfungsi sebagai syarat administrasi, tetapi juga menjadi dasar dalam mengevaluasi efektivitas program pelayanan kepada masyarakat.
Pelaporan kegiatan disepakati dilakukan secara berjenjang, dimulai dari kelurahan menuju Forum Kecamatan Sehat, kemudian diteruskan ke Forum Kota Sehat.
Dalam mekanisme tersebut, puskesmas berperan sebagai pendamping teknis, sedangkan Forum Kecamatan Sehat bertugas melakukan koordinasi sekaligus verifikasi awal terhadap kelengkapan laporan.
Kota Sehat Harus Terasa oleh Masyarakat
Target meraih Swasti Saba Wistara 2027 diharapkan tidak berhenti pada pencapaian penghargaan semata.
Keberhasilan program seharusnya tercermin dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Seperti lingkungan yang lebih bersih, pelayanan publik yang semakin mudah diakses, meningkatnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, lalu lintas yang lebih tertib, perlindungan terhadap kelompok rentan, hingga semakin luasnya partisipasi warga dalam pembangunan.
Baca Juga: FAA Percepat Hadirnya Taksi Udara dan Pesawat Supersonik, Ubah Masa Depan Penerbangan
Bogor Barat diharapkan mampu menjadi contoh bahwa pembangunan kota sehat dimulai dari tata kelola yang kuat di tingkat kelurahan.
Kolaborasi antara kelurahan, kecamatan, puskesmas, perangkat daerah, serta Forum Kota Sehat diyakini akan memperkuat implementasi program sehingga dokumen penilaian tidak sekadar menjadi berkas administrasi, tetapi menjadi bukti nyata perubahan di lapangan.
Pada akhirnya, keberhasilan Kota Bogor sebagai kota sehat tidak hanya diukur dari penghargaan yang diraih, melainkan dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat yang lebih sehat, aman, nyaman, dan bermartabat. (***)
Oleh: Andreanda Nasution, S.K.M., M.Kes.
Editor : Yosep Awaludin