RADAR BOGOR - Banjir musiman masih menjadi persoalan di Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di RT 04 RW 09 Kedung Badak, karena genangan dapat mengganggu akses warga menuju fasilitas pelayanan publik.
Lurah Kedung Badak Ahnim Sutangyat mengatakan, lokasi tersebut menjadi perhatian karena berada di jalur menuju sejumlah fasilitas publik, termasuk sarana pendidikan dan Puskesmas Kedung Badak.
“Banjir di lokasi tersebut menjadi perhatian serius, terutama saat curah hujan tinggi. Kami sudah bergerak melakukan normalisasi saluran air dan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta Kementerian Pekerjaan Umum,” ujar Ahnim, Selasa 28 Juli 2026.
Penanganan tidak hanya dilakukan melalui normalisasi saluran. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Bogor bersama instansi terkait juga telah merencanakan pembangunan saluran drainase baru.
Drainase tersebut akan dibuat dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan kawasan.
Baca Juga: Chelsea Incar Gelandang Gaek Timnas Inggris, Xabi Alonso Jelaskan Alasannya
Pembangunan diharapkan dapat memperlancar aliran air dan mengurangi genangan saat hujan dengan intensitas tinggi.
Selain drainase, pembuatan Dinding Penahan Tanah (DPT) juga mulai dilakukan di sejumlah titik yang rawan longsor dan luapan air.
Ahnim menyebut penanganan banjir menjadi salah satu bagian dari pemetaan persoalan lingkungan di Kedung Badak.
Wilayah tersebut memiliki luas sekitar 2,40 kilometer persegi dan dihuni lebih dari 30.000 jiwa.
Kondisi tersebut membuat Kedung Badak menghadapi persoalan khas kawasan perkotaan.
Selain banjir, kelurahan juga tengah menangani persoalan sampah di sejumlah titik, termasuk TPS RT 08 RW 01 dan TPS RW 08.
Pihak kelurahan mengedukasi warga untuk memilah sampah organik dan anorganik.
Pengangkutan sampah juga dilakukan secara berkala bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor dan instansi terkait.
“Kami imbau warga disiplin tidak membuang sampah ke aliran kali. Pengangkutan sampah liar, seperti bekas kasur atau puing bangunan, kita tindak lanjuti secara intensif melalui kerja bakti dan jadwal pengangkutan teratur,” kata Ahnim.
Camat Tanah Sareal Rokib mengatakan karakter Kedung Badak berbeda dengan sejumlah kelurahan lain.
Baca Juga: IPB University Himpun Peneliti dari 12 Negara, Bahas Masa Depan Kota Metropolitan
Sekitar 70 hingga 80 persen wilayahnya merupakan kawasan perkotaan dengan aktivitas ekonomi dan permukiman yang padat.
Karena itu, pemerintah kecamatan mendorong pemetaan persoalan dilakukan langsung di lapangan agar program pembangunan lebih sesuai dengan kebutuhan warga.
“Potensi, masalah, dan kondisi di masing-masing wilayah tentu berbeda. Kedung Badak ini wilayahnya besar dan sekitar 70 hingga 80 persen didominasi kawasan perkotaan,” ujar Rokib.
Selain persoalan lingkungan, pemerintah kelurahan juga menyiapkan rencana pemekaran RT untuk meningkatkan efektivitas pelayanan administrasi. Di RW 10, terdapat satu RT yang menampung sekitar 60 kepala keluarga.
“Warga merasa lingkungannya terlalu gemuk, sehingga berencana kita mekarkan agar pelayanan kependudukan lebih efektif,” tambah Ahnim.
Pemetaan persoalan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah menata Kedung Badak yang terus berkembang.
Penanganan banjir, sampah, pelayanan administrasi, hingga pengawasan usaha menjadi sejumlah persoalan yang disiapkan untuk ditangani secara bertahap. (uma)
Editor : Yosep Awaludin