RADAR BOGOR – Pencegahan stunting harus dimulai sejak awal kehidupan anak, salah satunya melalui pemberian air susu ibu (ASI) secara optimal. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam Seminar World Breastfeeding Week 2026 Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Bogor.
Seminar soal ASI dan mencegah stunting dari AIMI Bogor ini, diselenggarakan di Function Room Lantai 6 Mayapada Hospital Bogor, Minggu, 2 Agustus 2026.
Mengusung tema ASI untuk Negeri: Fondasi Utama Generasi Emas Indonesia Bebas Stunting, seminar ini merupakan bagian dari peringatan Pekan Menyusui Dunia yang berlangsung setiap 1–7 Agustus.
Baca Juga: Menang Telak! Eryko Bakti Irianto Nahkodai FK LPM Kota Bogor Periode 2026–2031
Sebanyak 120 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, pasangan muda, tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga komunitas pemerhati kesehatan ibu dan anak.
Ketua Pelaksana AIMI Bogor, Novita, mengatakan seminar tahunan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya ASI sebagai fondasi tumbuh kembang anak sekaligus langkah efektif mencegah stunting.
"Tahun ini kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa ASI memiliki peran besar dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat dan bebas stunting. Kami berharap semakin banyak keluarga yang mendukung ibu menyusui," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, AIMI Bogor berkolaborasi dengan Mayapada Hospital Bogor dengan menghadirkan dokter spesialis anak, dr. Kristian Wongso Giamto, serta pakar gizi dr. Tan Shot Yen sebagai narasumber.
Selain membahas manfaat ASI, peserta juga mendapatkan materi mengenai pemantauan tumbuh kembang anak, cara mengenali tanda bahaya (red flags) pada bayi, hingga pentingnya dukungan keluarga dalam keberhasilan proses menyusui.
Novita menjelaskan, peserta seminar berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat umum hingga tenaga kesehatan, kader posyandu, komunitas, serta perwakilan AIMI dari sejumlah daerah di Jawa Barat.
Sementara itu, dr. Kristian Wongso Giamto mengungkapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ASI eksklusif terus menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, cakupan bayi di bawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif naik dari 44 persen pada 2015 menjadi 72 persen pada 2023.
"Ini menunjukkan literasi masyarakat semakin baik. Semakin banyak orang tua yang memahami pentingnya ASI eksklusif bagi bayi," katanya.
Baca Juga: Trisno Pas Band Meninggal Dunia, Sandi Ungkap Perjuangan Terakhir Sang Bassis
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan susu formula tetap memiliki tempat dalam kondisi medis tertentu.
Menurutnya, keputusan pemberian susu formula harus didasarkan pada indikasi medis, bukan semata-mata karena anggapan produksi ASI kurang.
"ASI tetap merupakan pilihan terbaik. Namun jika ada indikasi medis, susu formula bisa menjadi solusi. Yang harus dihindari adalah pemberian susu formula tanpa alasan medis ketika ibu sebenarnya mampu menyusui," jelasnya.
Baca Juga: Syarat Penerima Bansos PKH Tahap 3 2026 dan Kriteria yang Wajib Dipenuhi KPM
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak langsung menyimpulkan produksi ASI menjadi penyebab ketika berat badan bayi tidak mengalami kenaikan.
"Kalau berat badan anak kurang, penyebabnya harus dicari terlebih dahulu karena pertumbuhan dipengaruhi banyak faktor, bukan hanya produksi ASI," ujarnya.
Melalui seminar ini, AIMI Bogor berharap semakin banyak keluarga memahami pentingnya ASI eksklusif, mampu melakukan deteksi dini gangguan tumbuh kembang, serta membangun lingkungan yang mendukung ibu menyusui demi menciptakan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan bebas stunting.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga