Dari 18 Kg Jadi 1,3 Ton, Kisah Nurita Menggerakkan Warga Kedung Jaya Kota Bogor Memilah Sampah

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:31 WIB
Sosok Nurita Eryani (tengah), Ketua Bank Sampah Bersih Istiqomah yang jadi pejuang lingkungan di Kedung Jaya. (Foto: Fikri/Radar Bogor)
Sosok Nurita Eryani (tengah), Ketua Bank Sampah Bersih Istiqomah yang jadi pejuang lingkungan di Kedung Jaya. (Foto: Fikri/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Sebanyak 18 kilogram sampah menjadi awal perjalanan Bank Sampah Bersih Istiqomah di Pelita Jaya, RT 03 RW 08, Kelurahan Kedung Jaya, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

Dari jumlah tersebut, gerakan yang digagas Nurita Eryani perlahan berkembang hingga mampu menampung 1,3 ton sampah dalam sekali penimbangan.

Nurita mulai menggagas gerakan pengelolaan sampah saat menjabat sebagai Ketua RW 08 pada 2019.

Ia melihat persoalan sampah di lingkungan warga semakin perlu ditangani, terutama kebiasaan membuang sampah sembarangan dan membakar sampah.

“Waktu itu saya melihat masalah yang perlu dibenahi adalah kebiasaan anak-anak sekolah dan warga yang membuang sampah bungkus jajanan sembarangan. Mereka belum teredukasi,” kata Nurita.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari banyaknya aktivitas masyarakat di sekitar RW 08.

Baca Juga: Konsisten Rangkul Pemuda, Desa Cilebut Barat Kabupaten Bogor Diguyur Penghargaan

Kawasan itu dikelilingi permukiman, perumahan, sekolah, warung, hingga pedagang makanan.

Nurita kemudian mengajak warga membahas persoalan lingkungan. Dari sekitar 550 kepala keluarga yang diundang, hanya 18 orang yang hadir dalam pertemuan awal.

Dari pertemuan itu, muncul gagasan untuk mulai memilah sampah dari rumah. Namun, jumlah warga yang terlibat kembali menyusut pada pertemuan berikutnya. Hanya 12 orang yang hadir.

Karena masih minim pengetahuan soal pengelolaan sampah, Nurita bersama warga kemudian berkonsultasi dengan pengelola bank sampah yang lebih dulu berjalan di Kota Bogor. Mereka juga mendapat arahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Dari proses tersebut, Bank Sampah Bersih Istiqomah resmi dibentuk pada 2019 dengan delapan orang sebagai pengurus operasional. Kegiatan kemudian dimulai dengan sosialisasi dari rumah ke rumah.

Pengurus juga menggelar gerakan pengumpulan sampah di lingkungan RW 08. Sosialisasi dilakukan ke 11 sekolah untuk mengenalkan kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.

Penimbangan pertama pada 1 Oktober 2019 menghasilkan 18 kilogram sampah. Sebulan kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 112 kilogram.

Perjalanan itu sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Aktivitas fisik dihentikan karena adanya larangan berkegiatan, tetapi Nurita dan pengurus tetap melakukan edukasi melalui media sosial dan grup WhatsApp.

Saat warga lebih banyak beraktivitas di rumah, edukasi tersebut justru mendapat respons positif. Masyarakat mulai belajar memilah sampah dari rumah masing-masing.

Pada Juli 2020, Bank Sampah Bersih Istiqomah kembali membuka penimbangan. Sampah yang terkumpul mencapai 1,3 ton.

Baca Juga: Bansos PKH BPNT Tahap 3 Bisa Batal Cair Gara-Gara Saldo E-Wallet? Cek Faktanya

Jumlah tersebut membuat pengurus kewalahan. Mereka kemudian berkoordinasi dengan pihak sekolah yang memiliki lahan di sebelah lokasi bank sampah untuk meminjamkan tempat sebagai lokasi penampungan sementara.

“Masya Allah, luar biasa, sampah yang datang mencapai 1,3 ton. Kami betul-betul kewalahan,” ujar Nurita.

Bagi Nurita, peningkatan jumlah sampah yang terkumpul menjadi bukti bahwa edukasi pemilahan mulai diterima masyarakat. Ia pun ingin gerakan tersebut terus berkembang dan berjalan secara berkelanjutan.

Saat ini, Bank Sampah Bersih Istiqomah fokus mengedukasi warga tentang pemilahan sampah, menampung sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi, serta mengurangi kebiasaan membakar dan menimbun sampah.

Namun, pengelola masih menghadapi keterbatasan sarana. Salah satunya kebutuhan lahan khusus untuk menampung dan mengelola sampah anorganik.

“Dari sampah itu bisa jadi uang. Jangan memikirkan bahwa sampah itu sudah dibuang begitu saja, tapi ternyata dari sampah ataupun dari minyak jelantah pun bisa jadi uang,” katanya.

Nurita berharap ada dukungan dari berbagai pihak melalui pelatihan, bimbingan teknis hingga bantuan sarana seperti gerobak sampah.

Dengan dukungan tersebut, kegiatan bank sampah diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan menjangkau lebih banyak warga. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
kota bogor Kedung Jaya sampah