Katasropik termasuk kelompok penyakit tidak menular berat, tetapi butuh pengobatan dengan biaya yang cukup tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Erna Nuraena menjelaskan penyakit katasropik perlu diwaspadai, virusnya bukan hanya mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.
“Tetapi juga memengaruhi kualitas hidup keluarga, produktivitas masyarakat, serta beban pembiayaan pelayanan kesehatan,” ujar Erna kepada Radar Bogor.
Baca Juga: Setelah Bappenda dan BKPSDM, KPK Geledah Kantor Disdik Kabupaten Bogor
Secara nasional, BPJS Kesehatan melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat sekitar 59,94 juta kasus layanan penyakit katastropik.
“Total pembiayaan mencapai Rp50,28 triliun, jantung, gagal ginjal, kanker, dan stroke menjadi kelompok penyakit dengan pembiayaan terbesar,” ungkapnya.
Di Kota Bogor pengidap penyakit jantung sendiri terbilang cukup tinggi. Pada tahun 2024 totalnya mencapai 7 ribu lebih dengan total kasus kematian 309 orang.
“Sebanyak 4.084 kasus stroke dengan 221 kematian, serta 2.014 kasus penyakit ginjal kronis. Untuk penyakit ginjal kronis kasusnya meningkat terus,” ujarnya.
Penyakit Katasropik sebetulnya bisa dicegah, salah satunya dengan mengurangi rokok, menjaga pola makan, serta meningkatkan aktivitas fisik.
“Karena itu, pengendaliannya perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif,” terangnya
Masyarakat disebut Erna perlu memahami bahwa penyakit katastropik tidak selalu datang secara tiba- tiba, tetapi sering berkembang secara perlahan.
“Maka Dinkes mengajak masyarakat unruk menjaga pola hidup sehat, serta memanfaatkan layanan deteksi dini yang sudah ada di tiap-tiap Faskes,” pungkasnya. (bay)
Editor : Eka Rahmawati