RADAR BOGOR – Rencana pengurangan jumlah angkutan kota (angkot) di Kota Bogor mendapat respons positif dari sebagian warga.
Kebijakan pengurangan angkot tua di Bogor tersebut dinilai bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurai kepadatan lalu lintas, terutama jika pengurangan menyasar armada yang sudah berusia tua.
Ayu (36), warga Bogor, menilai kebijakan pengurangan angkot dapat dipertimbangkan mengingat kondisi lalu lintas di Kota Bogor yang semakin padat.
Baca Juga: Ini 5 Kebiasaan yang Wajib Dihindari Kalau Nggak Mau Mesin Motor Rusak Diam-diam
“Sebenarnya kalau untuk mengurangi kemacetan, bisa jadi itu bagus. Karena memang Bogor ini sudah lumayan macet,” kata Ayu saat ditemui, Kamis, 3 September 2026.
Meski mendukung, Ayu mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan nasib para sopir angkot. Pengurangan armada secara langsung dikhawatirkan berdampak pada penghasilan pengemudi yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor transportasi tersebut.
“Kalau mengurangi angkot, pasti akan berpengaruh sama sopir-sopir juga, karena dia akan kehilangan mata pencaharian,” ujarnya.
Menurut Ayu, salah satu opsi yang bisa dilakukan pemerintah adalah memprioritaskan armada yang kondisinya sudah tidak layak atau berusia lebih dari 20 tahun untuk diganti dengan kendaraan yang lebih baru.
Baca Juga: Angkot Direduksi, KOPATA Khawatir Pengangguran di Bogor Melonjak: Minta Solusi hingga Buyback
“Kalau memang angkotnya juga sudah kurang bagus kondisinya, memang lebih baik dikurangi. Atau mungkin sebenarnya bukan dikurangi, diganti dengan yang lebih terbaru lagi,” katanya.
Ia juga tidak keberatan jika sebagian layanan angkot nantinya dialihkan atau dilengkapi dengan moda transportasi lain. Baginya, masyarakat dapat menerima perubahan selama kebutuhan mobilitas tetap terpenuhi dan kebijakan tersebut tidak semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah.
“Sebenarnya kalau buat warga, penggunaan transportasi apa saja kita oke-oke saja. Bentuk kebijakan pemerintah asalkan juga tidak memberatkan rakyat kecil,” tuturnya.
Baca Juga: Sering Kena Macet dan Tanjakan? Waspada, Mesin Mobil Anda Diam-diam Tersiksa Setiap Hari
Pendapat serupa disampaikan Leni (40). Ia mengakui jumlah angkot yang terlalu banyak dapat menjadi salah satu faktor yang memperparah kepadatan lalu lintas.
“Iya sih, memang benar. Cuma ya bijaksana aja gimana ngatur yang baik. Jangan terlalu banyak menumpuk angkot juga,” ujar Leni.
Namun, Leni mengingatkan agar pengurangan tidak sampai menghilangkan keberadaan angkot. Menurutnya, moda transportasi tersebut masih dibutuhkan masyarakat, terutama warga yang belum memiliki akses atau belum mampu menggunakan transportasi berbasis aplikasi.
“Kalau untuk pengurangan boleh sih, jangan dihapus. Masih ada. Soalnya meskipun bikin macet, tapi tetap bagi rakyat yang kecil kayak kita, seenggaknya kan masih butuh angkot,” ujarnya.
Leni menilai persoalan kemacetan yang melibatkan angkot tidak hanya dapat diselesaikan dengan mengurangi jumlah armada. Pengawasan dan penertiban di lapangan juga perlu diperkuat, termasuk untuk mencegah angkot berhenti atau berebut penumpang sembarangan.
Baca Juga: Awas Jangan Sepelekan, Ini Arti 10 Lampu Indikator Dashboard Mobil yang Wajib Diketahui Pengendara
“Harus ada penertiban. Sebenarnya enggak saling serobot, ada kebijaksanaan dari pengawas lalu lintas,” katanya.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menemukan formula yang seimbang antara penataan jumlah angkot dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, keberadaan angkot tetap penting meski harus dibarengi dengan moda transportasi lainnya.
“Mending bagi-bagi, sama-sama. Angkot ada, online ada,” pungkas Leni.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga