RADAR BOGOR - Bagi pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit, kantong infus yang hampir kosong bisa menjadi sumber kekhawatiran tersendiri.
Pasien maupun keluarga, biasanya harus menunggu tenaga medis datang untuk memastikan cairan infus masih mencukupi.
Di sisi lain, perawat harus memantau banyak pasien dalam waktu bersamaan.
Baca Juga: Data Bayar Bansos PKH BPNT September 2026 Validasi Keluar, Status KKS Baru Siap Cair
Kondisi tersebut, menjadi salah satu persoalan yang mendorong Ammar Abdul Malik selaku inovator Smart Infus Monitoring System, mengembangkan sistem pemantauan infus berbasis Internet of Things (IoT).
Inovasi tersebut, dirancang untuk mengubah pemantauan cairan infus yang selama ini dilakukan secara konvensional menjadi sistem digital yang dapat dipantau secara terpusat.
Infus Dipantau dari Satu Dashboard
Smart Infus Monitoring System, menggunakan perangkat berukuran ringkas yang dipasang pada tiang infus pasien.
Perangkat tersebut, dilengkapi sejumlah sensor untuk membaca kondisi cairan secara real-time.
Salah satunya, sensor berat atau load cell yang digunakan untuk mengetahui sisa cairan dalam kantong infus.
Selain itu, terdapat sensor inframerah yang berfungsi menghitung jumlah tetesan infus per menit.
Data dari kedua sensor kemudian diproses menggunakan mikrokontroler ESP32.
Informasi tersebut, dikirim secara nirkabel melalui jaringan WiFi menuju server sehingga dapat ditampilkan pada sistem pemantauan.
Bagi tenaga medis, konsep ini memungkinkan kondisi infus sejumlah pasien dalam satu bangsal ditampilkan melalui dashboard web di ruang jaga atau nurse station.
Dengan sistem tersebut, petugas tidak harus mengandalkan pemeriksaan manual secara berkala untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi setiap kantong infus.
Ada Peringatan Saat Cairan Infus Menipis
Salah satu fitur yang dikembangkan dalam sistem ini adalah peringatan dini ketika volume cairan infus memasuki batas tertentu.
Ketika sisa cairan berada pada level 20 persen atau lebih rendah, sistem akan memberikan notifikasi.
Baca Juga: CPNS Dibuka Lagi? Jangan Cuma Tunggu Pengumuman, Ini yang Perlu Disiapkan Calon ASN
Alarm suara dapat aktif di kamar pasien, sementara tanda peringatan visual muncul pada dashboard di ruang jaga.
Peringatan tersebut, dirancang agar tenaga medis dapat mengetahui kondisi yang membutuhkan perhatian tanpa harus menunggu pasien atau keluarga menyampaikan laporan.
Konsep ini juga ditujukan, untuk membantu mengurangi risiko keterlambatan penanganan akibat cairan infus yang habis.
Dalam kondisi tertentu, keterlambatan penggantian infus dapat berkaitan dengan risiko seperti aliran darah balik ke selang atau blood backflow.
Tombol Panggilan Perawat Jadi Satu Perangkat
Menariknya, Smart Infus Monitoring System tidak hanya berfungsi sebagai pemantau cairan.
Ammar juga mengintegrasikan fitur nurse call atau tombol panggilan perawat ke dalam perangkat yang sama.
Fitur ini memungkinkan pasien meminta bantuan ketika membutuhkan perhatian tenaga medis.
Saat tombol ditekan, sistem akan mengirimkan notifikasi ke ruang jaga.
Informasi yang disampaikan mencakup identitas pasien dan lokasi kamar sehingga petugas dapat mengetahui dari mana panggilan berasal.
Penggabungan kedua fungsi tersebut membuat perangkat tidak hanya berfokus pada pemantauan infus, tetapi juga menjadi sarana komunikasi sederhana antara pasien dan tenaga medis.
Dirancang sebagai Teknologi Tepat Guna
Pengembangan Smart Infus Monitoring System juga mempertimbangkan aspek biaya.
Ammar Abdul Malik merancang inovasi tersebut, agar dapat diproduksi dengan biaya yang relatif terjangkau.
Baca Juga: One Day Trip ke Pulau Seribu Naik Transportasi Umum, Jelajahi Tiga Pulau Bersejarah
Konsep tersebut, membuka peluang pemanfaatan teknologi serupa di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit maupun puskesmas, dengan tetap menyesuaikan kebutuhan dan standar keselamatan perangkat medis yang berlaku.
Bagi tenaga medis, sistem digital semacam ini berpotensi membantu efisiensi pemantauan.
Sementara bagi pasien dan keluarga, adanya informasi serta peringatan otomatis dapat memberikan tambahan kepastian bahwa kondisi infus dapat terpantau.
Meski demikian, sistem seperti ini tetap berfungsi sebagai alat bantu pemantauan dan tidak menggantikan penilaian maupun tindakan tenaga kesehatan.
Membawa Pemantauan Infus ke Era Digital
Berangkat dari persoalan sederhana di ruang rawat inap, Ammar Abdul Malik mencoba menghadirkan pendekatan teknologi untuk membantu menjawab kebutuhan pemantauan infus.
Perpaduan sensor berat, sensor inframerah, ESP32, koneksi WiFi, dashboard pemantauan, serta fitur nurse call menjadi bagian dari satu ekosistem yang dirancang untuk mendukung aktivitas tenaga medis.
Baca Juga: Gaji ASN Bisa Naik Lagi? Ini yang Perlu Diketahui, Ada Hal Penting di Baliknya
Smart Infus Monitoring System pada akhirnya, menunjukkan bagaimana teknologi IoT dapat diterapkan pada persoalan sehari-hari di fasilitas kesehatan.
Dengan pengembangan dan pengujian yang tepat, inovasi tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif teknologi pendukung dalam pemantauan pasien di ruang rawat inap.
Inovasi Smart Infus Monitoring System ini, juga ikut dalam Bogor Innovation Award. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti