RADAR BOGOR - Kemacetan di Kota Bogor bukan hanya soal padatnya kendaraan di jalan.
Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah angkutan kota atau angkot yang berhenti terlalu lama di sembarang tempat untuk menunggu penumpang.
Kondisi tersebut mendorong Cendikia Prananta Ardian dari SMK Wikrama Bogor menghadirkan sebuah inovasi bernama Si-Uncal (Sistem Unit Navigasi & Catatan Anomali Lintasan).
Nama Si-Uncal sendiri bukan dipilih secara kebetulan.
Baca Juga: 10 Pelaku Usaha di Dramaga Ikuti Pelatihan Business Plan LAZ Rabbani, Dorong Ekonomi Umat
Uncal atau rusa merupakan salah satu ikon yang identik dengan Istana Bogor.
Karakter rusa yang lincah dan gesit, kemudian dijadikan simbol yang berlawanan dengan persoalan angkot yang berhenti sembarangan atau biasa disebut ngetem.
Berawal dari Persoalan Angkot di Kota Bogor
Hingga 2024, tercatat ada sekitar 3.003 unit angkot yang beroperasi di Kota Bogor.
Jumlah armada yang cukup besar tersebut, membuat perilaku berhenti sembarangan di sejumlah titik strategis berpotensi memperparah kepadatan lalu lintas.
Dampaknya bukan hanya dirasakan pengguna jalan.
Waktu yang terbuang akibat kemacetan juga dapat menjadi kerugian ekonomi karena masyarakat kehilangan waktu produktif dalam perjalanan.
Di sisi lain, pengawasan terhadap angkot masih menghadapi tantangan.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor perlu memantau kondisi di lapangan, sementara metode pengawasan manual memiliki keterbatasan dari sisi jangkauan maupun kecepatan memperoleh informasi.
Si-Uncal kemudian menawarkan pendekatan berbeda dengan memanfaatkan teknologi digital.
GPS Mengirim Data Setiap 5 hingga 10 Detik
Sistem ini menggabungkan perangkat Internet of Things (IoT) dengan platform berbasis website.
Pada armada angkot yang dipantau, perangkat GPS Tracker mengirimkan informasi perjalanan secara berkala ke sistem pusat.
Data yang dikirim mencakup posisi kendaraan berdasarkan latitude dan longitude, kecepatan, arah perjalanan, serta waktu pencatatan atau timestamp.
Baca Juga: Dari Sampah Jadi Berkah, Warga Taman Yasmin Kota Bogor Bikin YES
Pengiriman dilakukan setiap 5 hingga 10 detik, sehingga pergerakan armada dapat dipantau dengan lebih rinci.
Seluruh data tersebut kemudian dikirim menuju API Gateway sebelum dikelola dalam sistem basis data PostgreSQL yang dilengkapi PostGIS untuk menangani informasi berbasis lokasi.
Namun, kekuatan utama Si-Uncal bukan sekadar kemampuan melacak posisi angkot.
AI Bekerja Mendeteksi Pelanggaran
Di balik sistem tersebut terdapat AI Rules Engine yang bertugas membaca data telemetri dan mencari pola perjalanan yang dianggap tidak normal.
Data yang masuk diproses menggunakan antrean BullMQ berbasis Redis sehingga sistem dapat melakukan penyaringan secara real-time.
Dari proses tersebut, Si-Uncal dapat mengenali sejumlah kondisi anomali, seperti LOST_SIGNAL ketika sinyal kendaraan hilang, OFF_ROUTE ketika angkot keluar dari radius trayek resmi, hingga NGETEM ketika kendaraan berhenti di luar halte atau stasiun yang telah ditentukan.
Dengan mekanisme otomatis tersebut, petugas tidak harus terus-menerus memeriksa seluruh pergerakan kendaraan secara manual.
Sistem akan membantu menandai kejadian yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Setiap Pelanggaran Punya Skor Risiko
Salah satu fitur yang menjadi pembeda Si-Uncal adalah penerapan Risk Scoring atau penilaian risiko.
Setiap armada memiliki skor dalam rentang 0 hingga 100.
Baca Juga: Pemerintah Naikkan Tukin bagi Guru 3T hingga Finalisasi Pengangkatan PPPK Paruh Waktu
Konsepnya menyerupai sistem skor kredit, tetapi diterapkan untuk menggambarkan tingkat risiko pelanggaran operasional angkot.
Ketika terjadi anomali, skor risiko akan bertambah.
Pelanggaran NGETEM menambah 8 poin, OFF_ROUTE menambah 12 poin, sedangkan OVERSPEED atau kecepatan berlebih menambah 6 poin.
Menariknya, sistem tersebut tidak hanya memberikan konsekuensi ketika terjadi pelanggaran.
Si-Uncal juga menerapkan mekanisme Daily Decay.
Jika sebuah angkot mampu beroperasi tanpa anomali selama 24 jam penuh, skor risikonya akan dikurangi sebesar 5 persen.
Konsep tersebut membuat sistem tidak hanya berorientasi pada pencatatan kesalahan, tetapi juga memberikan ruang bagi armada untuk memperbaiki tingkat kepatuhannya.
Dishub Bisa Memantau Lewat Dashboard
Seluruh informasi yang telah diproses kemudian ditampilkan melalui Dashboard Operator berbasis web menggunakan Next.js.
Melalui dashboard tersebut, operator Dishub dapat melihat visualisasi data sekaligus rancangan atau draf insiden yang terdeteksi sistem secara waktu nyata.
Dengan begitu, informasi mengenai kondisi armada tidak lagi hanya bergantung pada laporan setelah kejadian berlangsung.
Data perjalanan dapat menjadi dasar untuk membantu petugas menentukan tindakan secara lebih cepat dan terukur.
Warga Ikut Mengawasi Angkot
Si-Uncal juga tidak menempatkan masyarakat hanya sebagai pengguna transportasi.
Warga diberikan ruang untuk ikut berperan melalui Passenger Mobile, aplikasi berbasis React Native Expo yang memungkinkan pengguna melaporkan dugaan pelanggaran angkot secara real-time.
Laporan dapat dilengkapi dengan foto sebagai bukti pendukung.
Menariknya, laporan masyarakat tersebut tidak langsung dianggap benar begitu saja. Si-Uncal memiliki fitur Automated Public Report Review berbasis AI untuk membantu melakukan verifikasi.
Sistem akan mencocokkan koordinat lokasi yang dikirim pelapor dengan data posisi angkot pada waktu yang sama.
Jika koordinat laporan sesuai dengan keberadaan kendaraan yang terpantau sistem, laporan dapat ditandai sebagai CONFIRMED atau terverifikasi.
Baca Juga: Mitsubishi Pajero 2026 Terbaru Muncul, SUV Legendaris Kembali dengan Gaya Makin Gagah
Dengan mekanisme tersebut, laporan warga berpotensi menjadi data pendukung bagi otoritas dalam menentukan tindakan atau sanksi secara lebih objektif.
Teknologi dan Warga Jadi Satu Sistem
Si-Uncal pada akhirnya mencoba membangun pola pengawasan yang tidak hanya mengandalkan satu sumber informasi.
GPS menjadi sensor yang merekam pergerakan kendaraan, AI membantu membaca anomali, dashboard memberikan informasi kepada operator, sementara masyarakat berperan sebagai mata tambahan di lapangan.
Perpaduan tersebut membuat pengawasan transportasi publik dapat dilakukan secara lebih responsif dan berbasis data.
Bagi Kota Bogor, inovasi ini menawarkan peluang untuk menghadapi persoalan klasik angkot dengan pendekatan yang lebih modern.
Bukan sekadar mengetahui di mana angkot berada, Si-Uncal mencoba menjawab pertanyaan yang lebih penting: bagaimana memastikan angkot tetap berada di jalurnya, berhenti di tempat semestinya, dan beroperasi dengan lebih tertib.
Melalui perpaduan IoT, AI, sistem navigasi, serta partisipasi masyarakat, Si-Uncal menjadi salah satu gagasan yang membawa pengawasan angkutan kota ke arah yang lebih digital, transparan, dan responsif. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti