RADAR BOGOR - Limbah batang pohon rambutan dan kulit nanas yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa buangan, ternyata dapat dimanfaatkan menjadi bahan bernilai guna.
Berangkat dari gagasan tersebut, tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMA PGRI 1 Kota Bogor mengembangkan inovasi material ramah lingkungan bernama P'Day Build Activator.
Inovasi yang digagas oleh Cory Nur Utami sebagai inovator ini, memanfaatkan arang batang pohon rambutan dan kulit nanas sebagai bahan dasar aktivator karbon aktif.
Baca Juga: Resep Dots Cake, Kue Viral ala US dengan Cream Cheese Frosting dan Sprinkle
Produk tersebut, dikembangkan untuk mendukung material bangunan sekaligus membantu menjaga kestabilan suhu di dalam ruangan.
Cory mengembangkan inovasi ini bersama tim yang terdiri dari Maiyani Hartono dan Akrima sebagai pembimbing, serta Ajeng Diah Agustina, Aida Syabilla Purnama Puteri, Adilla Aprillea Priatna, Zelia Putri Ramadhani, Anindya Al Zahira, Muhamad Hidir Ramadan, Ilham Akda Andriana, dan Fabian Nizar Pratama.
Berawal dari Limbah yang Belum Banyak Dimanfaatkan
Gagasan P'Day Build Activator berangkat dari persoalan sederhana, bagaimana mengubah limbah organik menjadi sesuatu yang memiliki manfaat lebih besar.
Batang pohon rambutan dan kulit nanas dipilih sebagai bahan karena keduanya merupakan sumber bahan organik yang berpotensi diolah.
Batang rambutan terlebih dahulu dijadikan arang, sementara kulit nanas dimanfaatkan sebagai bagian dari bahan karbon yang kemudian diproses untuk menghasilkan karbon aktif.
Melalui pengolahan tersebut, tim berupaya mengubah material yang biasanya berakhir sebagai limbah menjadi bahan pendukung untuk kebutuhan material bangunan.
Pendekatan ini sekaligus membawa misi pemanfaatan sumber daya lokal.
Bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar tidak sekadar dibuang, tetapi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi mendukung konsep pembangunan yang lebih ramah lingkungan.
Tak Sekadar untuk Material Bangunan
P'Day Build Activator dirancang untuk memiliki sejumlah fungsi dalam aplikasi material bangunan.
Karbon aktif yang dihasilkan dari bahan tersebut dikembangkan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan perekat batako maupun material dinding.
Tim juga mengembangkan pemanfaatannya untuk membantu menghasilkan permukaan dinding yang lebih halus serta memberikan fungsi tambahan pada material bangunan.
Baca Juga: Ban Mobil Anda Habis Sebelah? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya
Selain itu, produk ini ditujukan untuk membantu mengurangi panas yang masuk ke ruangan dan menghambat kebocoran air pada dinding.
Dengan karakter tersebut, inovasi ini diarahkan tidak hanya pada kualitas material, tetapi juga pada kenyamanan ruang di dalam bangunan.
Diuji pada Miniatur Bangunan
Untuk melihat kemampuan produk dalam membantu kestabilan suhu, tim melakukan pengujian menggunakan simulasi miniatur bangunan rumah.
Hasil pengukuran menunjukkan adanya perbedaan antara suhu di luar dan suhu di dalam miniatur bangunan.
Pada pagi hari, suhu awal tercatat sekitar 35 derajat Celsius, sedangkan suhu di dalam bangunan dengan pintu terbuka berada di kisaran 33 derajat Celsius.
Saat siang hari, ketika suhu luar mencapai sekitar 41 derajat Celsius, suhu rata-rata di dalam ruangan dengan kondisi pintu terbuka tercatat sekitar 36 derajat Celsius.
Pengujian juga dilakukan pada malam hari.
Ketika suhu luar berada di sekitar 27 derajat Celsius, suhu di dalam miniatur bangunan tercatat sekitar 20 derajat Celsius.
Dalam pengamatan selanjutnya, suhu di dalam ruangan disebut tidak terus mengalami penurunan hingga menjelang subuh dan berada di kisaran 26 derajat Celsius.
Data tersebut menjadi bagian dari pengujian awal tim untuk melihat potensi karbon aktif P'Day Build Activator dalam membantu menjaga kondisi suhu di dalam ruang.
Menawarkan Konsep Material Bangunan Berbasis Limbah
Bagi tim KIR SMA PGRI 1 Kota Bogor, inovasi ini bukan hanya tentang menciptakan material baru.
Lebih dari itu, P'Day Build Activator menjadi upaya untuk melihat kembali potensi limbah organik yang masih dapat dimanfaatkan.
Baca Juga: Goldang Corndog dan Topokki, Spot Jajan Korea di Tebet dengan Menu Kekinian
Pemanfaatan batang rambutan dan kulit nanas memberikan nilai tambah terhadap bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
Di sisi lain, inovasi tersebut juga memperkenalkan gagasan bahwa material pembangunan dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan ketersediaan sumber daya lokal.
Melalui pengembangan P'Day Build Activator, Cory Nur Utami dan tim berharap inovasi berbasis karbon aktif tersebut dapat terus dikembangkan dan diuji lebih lanjut sehingga pemanfaatannya sebagai material pendukung bangunan dapat semakin optimal.
Inovasi ini pun menjadi salah satu contoh kreativitas pelajar dalam mencari solusi dari persoalan di sekitar, sekaligus memadukan pemanfaatan limbah organik dengan kebutuhan material bangunan yang lebih berkelanjutan. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti