RADAR BOGOR - Burnout bukan hal asing lagi bagi anak-anak muda, kondisi ini acap kali dikeluhkan oleh mereka, yang merasa jenuh dengan aktivitasnya.
Burnout merupakan stress yang berkepanjangan, situasi ini kerap membuat pengidapnya merasa lelah fisik, mental dan emosional ekstream.
“Sehingga mengganggu akvitas sehari-hari mereka, karena stresnya berkepanjangan dan tidak tertangani,” kata Psikolog Klinis Personal Growth Talissa Carmelia.
Terdapat tiga tanda seseorang sedang burnout, satu di antaranya, kemampuan menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya berkurang.
“Kemudian munculnya jarak emosional dan rasa bersikap apatis terhadap pekerjaan dan orang-orang di sekitar,” terang Talissa kepada Radar Bogor.
Anak-anak muda sering merasa buronut karena beberapa faktor. Pertama, mereka biasanya punya ekspektasi yang tinggi tanpa melihat situasi dan kondisi.
Berikutnya karena terjebak dengan budaya Hustle Culture. Kondisi ini itu akhirnya memaksa mereka untuk selalu produktif sampai mengorbankan waktu istirahat.
“Semua dilakukan demi sebuah pencapaian. Kemudian adanya keinginan untuk tampil sempurna akhirnya mereka harus jadi orang lain,” ucap Talisa.
Burnout dan lelah biasa punya perbedaan yang cukup signifikan, kalau lelah biasa rentan waktunya sebentar dan bisa sembuh jika tidur atau berlibur.
“Kalau burnout, disebabkan oleh akumulasi stres kronis dalam jangka waktu yang lama, kondisinya juga tidak bisa dipulihkan dengan cepat,” jelas Talisa.
Butuh strategi jitu untuk bisa sembuh dari burount, langkah ini bisa dilakukan dengan cara mengenali sumber masalah yang membuat kamu kelelahan.
Biasanya terjadi dari lingkungan pekerjaan, keluarga, pasangan atau pertemanan, stratgei berikutnya yakni menggunakan teknik boundary.
“Kenali batas pekerjaan yang bisa dilakukan, misalnya durasi kerja, matikan notifikasi kerja di luar jam kantor atau balas chat yang penting saja,” terangnya.
Yang tidak kalah penting manfaatkan waktu istirahat dengan maksimal dan tidak memikirkan hal-hal yang membuat lelah fikiran.
“Lakukan Selfcare, misalnya olahraga, menjaga nutrisi dan kualitas tidur, melakukan hobi, melakukan relaksasi pernafasan,” ujar Talisa.
Talisa menerangkan sebetulnya Burnout bisa dicegah, caranya dengan mengevaluasi ekspektasi, nikmati dan hargai setiap keberhasilan.
“Atau yang paling mudah, punya hobi bebas tekanan dan menghabiskan waktu dengan orang terdekat, jalani aktivitas yang murni untuk kesenangan tanpa target pencapai,” ujarnya.
Pada prinsipnya gejala atau penyebab burnout sendiri tidak bisa berbeda tiap orang, jadi dalam beberapa situasi tetap harus konsultasi baik dengan psikolog atau psikiater. (bay)
Editor : Eka Rahmawati