Inovasi SMPN 4 Bogor Ciptakan Pelita, Ubah Limbah Pasar Jadi Pakan Lele

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 06:43 WIB
Pelita adalah inovasi SMPN 4 Bogor yang mengubah limbah jadi pakan lele.
Pelita adalah inovasi SMPN 4 Bogor yang mengubah limbah jadi pakan lele.

RADAR BOGOR - Tumpukan sisa sayuran dan limbah ikan di pasar, kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan. 

Namun bagi SMP Negeri 4 Kota Bogor, bahan yang biasanya berakhir menjadi sampah tersebut justru membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai.

Melalui inovasi bernama PELITA (Optimalisasi Limbah Pasar Menjadi Pakan Lele Mandiri), Sri Koesoemaning Nagari bersama Almira Junna Kemala dan Mawaddah Sakinah mencoba mengolah limbah pasar menjadi bahan pakan ikan lele.

Ide tersebut, berangkat dari dua persoalan yang saling berkaitan, yakni banyaknya limbah pasar serta tingginya biaya pakan dalam budidaya lele.

Baca Juga: Waspada Link Palsu BLT Kesra, Pendamping PKH Ingatkan Modus Penipuan Data Pribadi

Sri Koesoemaning Nagari selaku inovator mengatakan, timnya ingin mencari cara agar limbah yang selama ini dianggap tidak berguna dapat dimanfaatkan kembali sekaligus memberikan nilai ekonomi.

“Kami ingin mengolah limbah sayur dan ikan menjadi pakan lele yang dapat diproduksi secara mandiri. Harapannya, inovasi ini bisa membantu mengurangi limbah pasar sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” ujar Sri dalam keterangannya kepada Bogor Innovation Award.

Berawal dari Persoalan Limbah Pasar

Limbah pasar menjadi perhatian tim PELITA karena sebagian besar berasal dari aktivitas perdagangan sehari-hari, terutama sisa bahan pangan yang sudah tidak digunakan.

Dalam materi penelitian tim, data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2020 menyebutkan pasar tradisional termasuk salah satu penyumbang sampah terbesar di Indonesia.

Kondisi tersebut kemudian mendorong para siswa untuk melihat limbah pasar dari sudut pandang berbeda. 

Alih-alih hanya menjadi sampah, sisa sayuran dan ikan dinilai masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Salah satu produk yang dipilih, pakan lele. 

Pilihan itu tidak lepas dari persoalan biaya dalam budidaya ikan yang salah satunya dipengaruhi oleh harga pakan pabrikan.

Pakan Lele Jadi Tantangan Peternak

Pakan merupakan salah satu komponen penting dalam pertumbuhan ikan lele. 

Namun, harga pakan pabrikan yang relatif tinggi dapat meningkatkan biaya produksi bagi peternak.

Baca Juga: Fe-licious, Cookies Buah Bit Kreasi SMPN 4 Bogor untuk Cegah Anemia

Tim PELITA kemudian mencoba menghadirkan alternatif berupa pakan lele mandiri berbahan dasar limbah pasar.

Menurut Sri, formulasi menjadi bagian penting dalam pembuatan pakan karena kebutuhan nutrisi ikan harus tetap diperhatikan.

“Dalam membuat pakan, kami tidak hanya memanfaatkan limbah. Komposisi bahannya juga kami perhatikan agar kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan lele tetap menjadi pertimbangan,” katanya.

Tim menyusun formulasi dengan komposisi 50 persen bahan berprotein, sedangkan 50 persen lainnya berasal dari sayuran, serat, dan unsur karbohidrat.

Limbah Ikan hingga Sayuran Diolah

Beberapa bahan yang digunakan dalam inovasi PELITA berasal dari limbah ikan dan sayuran. 

Di antaranya limbah pindang tongkol, remahan ikan asin, ampas kelapa kering, serta sayuran caisim.

Dalam penelitian tim, limbah pindang tongkol disebut memiliki kandungan protein hingga 60,59 persen, disertai asam amino, mineral, dan vitamin.

Sementara itu, remahan ikan asin yang digunakan memiliki kandungan protein yang disebut mencapai 16–54 gram per 100 gram sampel.

Bahan lainnya adalah ampas kelapa kering yang mengandung serat, lemak, dan protein. 

Sayuran caisim juga dimanfaatkan karena memiliki kandungan serat kasar, protein, vitamin, dan mineral.

Seluruh bahan tersebut kemudian dirancang menjadi formulasi pakan yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya lele.

Tak Berhenti pada Pembuatan Pakan

Tim PELITA tidak hanya ingin menghasilkan pakan dari limbah pasar. 

Mereka juga menyiapkan serangkaian pengujian untuk mengetahui kualitas dan keamanan produk yang dibuat.

Baca Juga: BLT Kesra 2026 Belum Ada Kepastian Resmi, Ini Penjelasan Pendamping PKH

Pakan tersebut direncanakan menjalani uji proksimat untuk mengetahui kandungan nutrisinya. 

Selain itu, tim juga akan melakukan pengujian terhadap bakteri Escherichia coli dan Salmonella sp. sebagai bagian dari pemeriksaan keamanan produk.

Langkah tersebut dinilai penting, karena pakan yang berasal dari bahan limbah harus melalui proses pengolahan dan pengujian yang tepat sebelum dapat digunakan secara lebih luas.

Tim juga menyoroti praktik pemberian limbah ayam yang tidak layak konsumsi kepada ikan sebagai cara untuk menghemat biaya. 

Menurut mereka, penggunaan bahan semacam itu berisiko karena dapat membawa bakteri patogen.

Dari Sampah Menjadi Peluang Ekonomi

Bagi Sri dan tim, PELITA bukan sekadar eksperimen membuat pakan ikan. 

Inovasi tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak terhadap lingkungan dan perekonomian.

Baca Juga: Sudah Terdaftar PKH atau BPNT, Masih Perlu Daftar Perlinsos? Ini Jawabannya

Pemanfaatan limbah pasar diharapkan dapat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir sebagai limbah, sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan yang sebelumnya tidak bernilai.

“Kami berharap inovasi ini bisa memberikan dampak nyata, mulai dari membantu mewujudkan lingkungan Kota Bogor yang lebih bersih dari limbah pasar hingga meningkatkan potensi ekonomi masyarakat,” ujar Sri.

Melalui PELITA, para siswa SMP Negeri 4 Kota Bogor mencoba menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat melahirkan ide kreatif. 

Limbah yang selama ini dianggap tidak berguna mereka dorong menjadi bahan baku pakan lele mandiri yang masih terus dikembangkan dan diuji.

Editor : Siti Dewi Yanti
PELITA SMP Negeri 4 bogor lele limbah