RADAR BOGOR - Pemkot Bogor terus memperkuat ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah.
Minyak jelantah dikumpulkan untuk didaur ulang, sementara sampah plastik dimanfaatkan kembali melalui sistem guna ulang.
Upaya itu diwujudkan melalui kerja sama Pemkot Bogor bersama PT Greentech Solusi Utama dan Perkumpulan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (Dietplastik Indonesia).
Kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan minyak jelantah dan pengurangan sampah plastik.
CEO PT Greentech Solusi Utama, Al Falaq Arsendatama mengatakan, pihaknya membeli minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat untuk kemudian didaur ulang.
Hingga kini, Greentech telah menghimpun sekitar 22 ton minyak jelantah di Kota Bogor.
Baca Juga: Kawasan Mewah di Lapas Cibinong Bogor Tak Terjangkau CCTV, Ini Penjelasan Kalapas Nonaktif
Menurut Al Falaq, minyak jelantah yang dikumpulkan memiliki nilai ekonomi karena dapat masuk ke proses pengolahan dan dimanfaatkan sebagai bahan baku produk energi terbarukan.
Selama satu tahun terakhir, Greentech juga rutin memberikan edukasi ke sekolah setiap pekan.
Edukasi tersebut menyasar pelajar dan keluarga agar memahami pengelolaan limbah serta penerapan ekonomi sirkular.
Namun, masyarakat masih banyak yang memilih menjual minyak jelantah kepada pengepul.
Minyak tersebut biasanya dijernihkan kembali dan dijual kepada pedagang makanan.
Karena itu, Al Falaq mendorong masyarakat mengumpulkan minyak jelantah melalui jalur pengelolaan yang tepat agar limbah tersebut memiliki pemanfaatan dan nilai ekonomi.
“Yang kami lakukan selama ini memberikan pengetahuan kepada mereka sekaligus mendorong keluarga para siswa untuk memiliki semangat ekonomi sirkular yang menerangkan limbah punya kehidupan baru yang memiliki nilai komersial yang bisa berguna untuk pemilik awal,” katanya.
Pengumpulan minyak jelantah juga dinilai dapat memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat. Hasilnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Hari ini mengumpulkan sampah plastik maupun minyak jelantah, itu akan ada manfaatnya dari sisi ekonomi dan nilai ekonomi. Itulah yang bisa menjadi tambahan untuk keperluan-keperluan, seperti beli alat sekolah, minyak goreng baru, atau beli keperluan rumah tangga lain,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Tirza Nafira mengatakan, pihaknya fokus mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan mendorong sistem guna ulang.
Baca Juga: Kampoeng Koneng Sentul Bogor, Resto Sunda Ramah Anak dengan Suasana Pedesaan dan View Gunung Pancar
Program tersebut telah dijalankan sejak 2018 melalui sejumlah kegiatan pengurangan sampah plastik.
Di Kota Bogor, Dietplastik Indonesia bekerja sama dengan Perumda Pasar Pakuan Jaya melalui program pasar plastik.
Edukasi diberikan kepada pedagang dan pengunjung agar membawa tas belanja sendiri sehingga penggunaan plastik sekali pakai dapat dikurangi.
Dietplastik Indonesia juga menempatkan dropbox tas belanja guna ulang di lima pasar di Kota Bogor.
Tas belanja yang sudah tidak digunakan dan menumpuk di rumah dapat disetorkan ke dropbox untuk kemudian digunakan kembali oleh masyarakat.
“Kalau ada tas belanja di rumah yang cukup banyak dan menumpuk bisa dibawa dan ditempatkan di dropbox pasar Kota Bogor. Bagi yang lupa membawa bisa mengambilnya secara gratis. Jadi kita benar-benar mempraktikkan ekonomi sirkular dan sistem guna ulang,” ujar Tirza.
Tirza menambahkan, pihaknya juga mendampingi sejumlah RW dalam pemilahan dan pengolahan sampah organik.
Menurutnya, pengelolaan sampah dari sumber menjadi bagian penting untuk mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.
Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengatakan, upaya tersebut menjadi bagian dari langkah menuju Kota Bogor bebas sampah plastik sekaligus meningkatkan pemanfaatan minyak jelantah.
Dedie menyarankan adanya kotak khusus atau box pengumpulan agar masyarakat lebih mudah menyetorkan minyak jelantah maupun sampah plastik. Kemudahan tersebut dinilai dapat mendorong lebih banyak warga ikut terlibat.
Baca Juga: Arahan Tegas untuk RT, RW dan Kepala Desa Soal Aturan Desil Bansos, Simak di Sini
“Ujungnya bukan hanya PSEL, tetapi minyak jelantah dan sampah plastik yang memiliki nilai ekonomis bisa diolah dan dimanfaatkan. Untuk plastik yang nilainya rendah tentunya ada treatment-nya, sehingga seluruh rangkaian proses menangani persampahan bisa selesai. Yang utama adalah peran serta masyarakat,” kata Dedie.
Penguatan pengelolaan sampah tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemkot Bogor, PT Greentech Solusi Utama, dan Dietplastik Indonesia di Paseban Suradipati, Balai Kota Bogor, Senin 7 September 2026.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Rudy Mashudi mengatakan, kesepakatan tersebut menjadi legalitas untuk memperkuat dan memasifkan gerakan pengurangan serta pengelolaan sampah di Kota Bogor. (uma)
Editor : Yosep Awaludin