RADAR BOGOR - Ada satu kebiasaan, yang barangkali masih sering kita temukan di tengah masyarakat.
Ya, meragukan kemampuan anak muda sebelum memberi mereka kesempatan membuktikannya.
Usianya masih muda.
Pengalamannya dianggap belum cukup.
Mentalnya dinilai belum teruji.
Bahkan, tak sedikit yang buru-buru menyematkan label bahwa anak muda adalah generasi yang mudah menyerah, sulit menghadapi tekanan, dan kurang memiliki daya juang.
Baca Juga: 5 Sensor Mobil Injeksi yang Wajib Dirawat, Bisa Picu Mesin Mogok Mendadak Jika Rusak
Benarkah demikian?
Satu arena olahraga di Bogor, Sabtu 31 Oktober 2026 memberikan gambaran yang menarik untuk direnungkan.
Di Nako Arena Kota Bogor, ratusan petarung berkumpul dalam ajang B2 UNLEASHED SPORTS KOMBAT.
Ada 250 petarung dari berbagai daerah hadir.
Lebih dari 1.000 pengunjung turut memadati lokasi.
Seluruh rangkaian kegiatan harus berlangsung dalam satu hari, dengan berbagai dinamika yang menuntut kesiapan penyelenggara.
Di balik hiruk-pikuk pertandingan, ada pekerjaan besar yang tidak selalu terlihat oleh penonton.
Mengatur peserta, memastikan kebutuhan teknis, membangun koordinasi, menjaga alur acara, hingga mengantisipasi berbagai kemungkinan di lapangan.
Semua itu bukan pekerjaan ringan.
Baca Juga: Akses Rancabungur-Leuwiliang Bogor ke Jakarta Disiapkan
Menariknya, salah satu pihak yang berada di balik penyelenggaraan tersebut adalah AIRA PRO, yang digerakkan anak-anak muda Bogor dengan pengawasan langsung dari ISKA.
Di sinilah cerita ini menjadi penting.
Anak-anak muda, yang selama ini mungkin masih dipandang sebelah mata justru mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kapasitasnya.
Mereka tidak sekadar berbicara tentang ide, kreativitas, atau semangat anak muda.
Mereka berhadapan langsung dengan tanggung jawab yang menuntut hasil.
Sebab, menggelar sebuah event bukan hanya perkara membuat acara terlihat meriah.
Ya, ada kepercayaan banyak orang yang harus dijaga.
Ada peserta yang menggantungkan harapan.
Ada penonton yang menginginkan pengalaman terbaik.
Baca Juga: Motor Warga Bogor Sering Overheat? Waspadai 5 Hal Ini
Ada pula reputasi penyelenggara yang dipertaruhkan.
Dan, semua itu membutuhkan profesionalisme.
Kehadiran sang promotor B2 Unleashed, Harlan Bengardi, yang terus mengawal sekaligus memberikan arahan dan pengalaman, juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas generasi.
Sebab, generasi muda tak harus berjalan sendirian.
Energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi anak muda akan semakin kuat, ketika bertemu dengan pengalaman, kebijaksanaan, dan pendampingan generasi yang lebih senior.
Inilah pola regenerasi yang seharusnya terus dibangun.
Bukan saling meragukan, apalagi saling meniadakan.
Generasi senior memberikan ruang dan kepercayaan.
Generasi muda menjawabnya dengan kerja nyata dan tanggung jawab.
Profesionalisme Tak Kenal Batas Generasi
Kita sering kali terjebak pada penilaian berdasarkan usia.
Seolah-olah kematangan hanya bisa diperoleh, setelah seseorang melewati puluhan tahun kehidupan.
Seolah-olah kemampuan memimpin, harus selalu datang bersama jabatan dan pengalaman panjang.
Padahal, profesionalisme tidak bekerja dengan cara demikian.
Profesionalisme lahir dari kesungguhan menjalankan tanggung jawab, kedisiplinan memenuhi komitmen, kemampuan bekerja sama, serta keberanian mengambil keputusan ketika menghadapi persoalan.
Usia memang bisa memberikan pengalaman.
Namun, pengalaman tidak otomatis membuat seseorang profesional.
Sebaliknya, usia muda juga bukan alasan untuk meragukan kapasitas seseorang.
Baca Juga: Tol Depok-Antasari segera Tersambung hingga Rancabungur Bogor
Apa yang ditunjukkan AIRA PRO, setidaknya menjadi contoh bahwa generasi muda Bogor memiliki ruang dan kemampuan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Respons positif dari berbagai pihak, termasuk ISKA Indonesia, para petarung, dan keluarga yang hadir, menjadi bagian dari apresiasi terhadap penyelenggaraan tersebut.
Tentu, satu kegiatan yang berjalan baik tidak serta-merta menjadi gambaran seluruh Generasi Z.
Tetapi, pengalaman ini cukup menjadi pengingat bahwa menghakimi satu generasi dengan generalisasi adalah cara pandang yang tidak adil.
Setiap generasi memiliki karakter, tantangan, dan cara kerja berbeda.
Gen Z tumbuh bersama teknologi, informasi yang bergerak cepat, dan perubahan yang nyaris tanpa jeda.
Mereka mungkin memiliki pendekatan yang tidak selalu sama dengan generasi sebelumnya.
Namun, perbedaan bukan berarti kelemahan.
Justru, ketika energi dan kreativitas anak muda bertemu dengan pengalaman, arahan, serta kedisiplinan generasi yang lebih senior, lahirlah peluang untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar.
Bogor Jangan Hanya Menjadi Penonton Kreativitas Anak Muda
Ada pesan lain yang patut ditangkap dari peristiwa ini.
Baca Juga: Sudah Liburan Tapi Masih Lelah? Awas, Ini 5 Tanda Kamu Mengalami Emotional Burnout
Bogor membutuhkan lebih banyak ruang bagi anak muda untuk tumbuh dan membuktikan kemampuannya.
Jangan sampai generasi muda hanya menjadi objek pembicaraan dalam seminar, slogan pembangunan, atau kampanye kreativitas.
Mereka perlu dilibatkan secara nyata.
Diberi kepercayaan, tanggung jawab, sekaligus ruang untuk belajar dari kesalahan.
Sebab, kemampuan tidak akan tumbuh jika kesempatan selalu ditutup oleh prasangka.
Pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, dan berbagai organisasi di Bogor semestinya melihat potensi ini sebagai modal pembangunan.
Anak-anak muda bukan sekadar kelompok usia produktif yang kelak akan mengambil alih estafet kepemimpinan. Mereka adalah bagian dari kekuatan kota hari ini.
Namun, kesempatan juga harus diimbangi kesiapan.
Anak muda perlu membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan bukan sekadar fasilitas, melainkan amanah yang harus dijaga.
Baca Juga: Setir Mobil Bunyi 'Kriet-kriet' Saat Belok? Ini Penyebabnya
Keberhasilan satu event bukanlah garis akhir.
Konsistensi, evaluasi, kemampuan memperbaiki kekurangan, dan menjaga kualitas kerja justru menjadi ujian berikutnya.
Di situlah profesionalisme sesungguhnya dibangun.
Kita tentu tidak sedang mengatakan, semua anak muda pasti hebat.
Sama halnya dengan tidak semua generasi yang lebih tua otomatis lebih berpengalaman dalam setiap bidang.
Yang perlu diubah adalah kebiasaan menilai seseorang berdasarkan label generasinya, bukan berdasarkan kapasitas dan hasil kerjanya.
Pada akhirnya, pertanyaan apakah anak muda merupakan generasi yang rapuh, seharusnya tidak dijawab dengan perdebatan tanpa ujung.
Biarkan tanggung jawab, kerja keras, dan karya nyata yang menjawabnya.
Dari sebuah arena olahraga di Bogor, AIRA PRO memberikan satu gambaran bahwa anak muda mampu mengambil peran, mengelola tantangan, dan membangun kepercayaan.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Telat Ganti Oli, Mesin Mobil Bisa Alamin Masalah Ini
Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya, apakah anak muda sudah cukup dewasa untuk diberi kesempatan.
Sebaliknya, mulailah bertanya, sudah cukupkah kita memberikan ruang bagi mereka untuk membuktikan kemampuannya?
Sebab, masa depan Bogor tidak dibangun dengan meragukan generasi mudanya.
Masa depan itu dibangun ketika setiap generasi saling percaya, saling belajar, dan bersama-sama mengambil tanggung jawab.
Profesionalisme tak ditentukan oleh berapa usia seseorang.
Tapi, ditentukan oleh seberapa besar kesungguhan seseorang menjaga kepercayaan. (*)
Lucky Lukman Nul Hakim
Pemred radarbogor.jawapos.com