Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kenapa Dinamakan Ulen Ketan? Ternyata Ini Sejarah Kudapan Khas Tasikmalaya dengan Makna Unik yang Bikin Orang Sunda Nostalgia

Khairunnisa RB • Senin, 11 Agustus 2025 | 15:20 WIB

 

Kuliner tradisional khas Tasikmalaya, Ulen ketan.
Kuliner tradisional khas Tasikmalaya, Ulen ketan.

RADAR BOGOR - Ulen ketan, menjadi kuliner tradisional yang khas dengan orang Sunda, yang menjadi oleh-oleh dari Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ulen ketan, makanan sederhana berbahan dasar beras ketan, yang telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Tasikmalaya, khususnya orang Sunda, sejak zaman dahulu kala.

Ulen ketan, menjadi kuliner yang kerap hadir di momen-momen spesial, terutama saat perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha, khususnya di Tasikmalaya.

Makanan ini khas dengan budaya Sunda.

Katanya, ulen ketan menjadi makanan primadona sejak masa-masa Kerajaan Majapahit.

Pada masa itu, masyarakat memiliki kebiasaan berkumpul untuk menjalin silaturahmi, dan ulen ketan menjadi salah satu hidangan yang selalu hadir sebagai pengikat suasana.

Beras ketan yang menjadi bahan utamanya memiliki sifat lengket.

Inilah yang kemudian diartikan secara filosofis, lengketnya ketan melambangkan eratnya hubungan kekeluargaan dan persaudaraan yang harus dijaga.

Soal nama, ulen ketan diambil dari dua kata. “Ulen” berasal dari kata “pulen” yang berarti lembut atau empuk dalam bahasa Indonesia, sedangkan “ketan” merujuk pada bahan utamanya.

Baca Juga: Gubernur Jawa Barat Minta Orang Tua Berani Laporkan Kepala Sekolah Negeri yang Minta Pungutan, Dedi Mulyadi: Dieureunkeun Ku Aing

Masyarakat Sunda memang memiliki kebiasaan menamai makanan berdasarkan ciri khas atau bahan pembuatnya, sehingga nama ini terasa sederhana namun sarat makna.

Proses pembuatan ulen ketan pun terbilang mudah namun tetap membutuhkan ketelatenan.

Pertama-tama, beras ketan putih direndam selama 2–3 jam, kemudian dikukus sekitar 25 menit hingga warnanya bening.

Baca Juga: Hati-Hati Melintas di Sejumlah Ruas Jalan di Kota Depok Ini, Langganan Banjir Saat Diguyur Hujan

Setelah itu, ketan yang telah matang dimasukkan ke dalam wadah, diberi taburan garam, air secukupnya, dan diaduk rata.

Parutan kelapa ditambahkan untuk memperkaya rasa, lalu adonan didiamkan sejenak agar bumbunya meresap.

Adonan tersebut kemudian dikukus kembali, lalu ditumbuk hingga lembut dan agak lengket.

Lalu dicetak sesuai selera, dan dilanjut dengan membaluri terigu, bisa juga tepung beras, agar ketika digoreng tidak menempel.

Baca Juga: Rencana Penerapan Sistem Parkir Digital di Kota Bogor Hingga Kini Belum Jelas, Dishub Ungkap Alasannya

Ulen ketan bukan sekadar camilan, melainkan warisan kuliner yang membawa pesan persatuan, kebersamaan, dan kenangan manis masa lalu.

Setiap gigitannya seolah mengajak kita kembali ke suasana hangat berkumpul bersama keluarga, di tengah aroma kopi dan teh yang mengepul.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#tasikmalaya #ulen ketan #kuliner