RADAR BOGOR – Sop buntut menjadi salah satu kuliner yang lekat dengan Kota Bogor. Di antara sejumlah penjual yang bertahan hingga kini, Sop Buntut Ma Emun memiliki sejarah panjang yang bermula dari sebuah buntut sapi pemberian panitia kurban.
Sop Buntut Ma'Emun yang berada di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 48, Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor disebut telah berjualan sejak sekitar 1970-an. Usaha tersebut berawal dari keluarga Ma'Emun dan kini diteruskan oleh anak, cucu, hingga cicitnya.
Lokasinya berada sedikit di bawah badan jalan sehingga rumah makan ini tak terlalu terlihat dari jalan utama. Namun, kondisi itu tak menyurutkan pelanggan untuk datang silih berganti menikmati sop buntut yang telah dikenal selama puluhan tahun.
Salah satunya Christina yang sengaja datang untuk mencicipi Sop Buntut Ma Emun setelah mendengar cerita tentang rumah makan legendaris tersebut yang sopnya kerap habis hanya dalam waktu singkat.
Baca Juga: Mengenal Sosok Nancy, Perempuan di Balik Aroma Kopi Bah Sipit, Kopi Legendaris dari Bogor
“Pagi-pagi di Bogor paling enak sarapannya sop buntut. Ini aku mau nyobain sop buntut legend yang katanya cuma dua jam sudah habis jualannya," bebernya.
Menurut Christina, sop buntut Ma'Emun memiliki kuah bening dengan rasa kaldu yang kuat. Dagingnya terasa empuk meski berwarna kemerahan, yang menjadi salah satu ciri sop buntut Bogor.
“Dagingnya memang berwarna merah, tipikal sop buntut di Bogor tapi bukan berarti tidak matang, ini benar-benar matang," ungkapnya.
Ia juga menilai kuah sop terasa gurih dan kaya kaldu, sambal yang disediakan turut menambah cita rasa.
“Kuahnya bening tapi berempah, kaldunya terasa, sambalnya pedas dan enak," jelasnya.
Di balik semangkuk sop yang telah dikenal lintas generasi itu, tersimpan perjalanan panjang keluarga Ma'Emun.
Kisah tersebut diceritakan Nuni, cicit Ma'Emun yang kini menjadi penanggung jawab rumah makan.
Nuni menuturkan, usaha itu bermula ketika suami Ma'Emun, yang biasa dipanggil Abah, mendapat buntut sapi dari panitia kurban. Saat itu, keluarga Ma'Emun memiliki lahan kosong di dekat rumah yang kemudian dimanfaatkan untuk mengolah buntut tersebut.
“Suatu hari saat Lebaran Haji, panitia kurban memberikan buntut sapi ke Abah karena kami punya lahan, oleh Abah buntut tersebut diolah dan dijadikan sop buntut," tuturnya.
Sop yang awalnya dibuat dari buntut pemberian itu kemudian dicoba untuk dijual kepada warga. Respons masyarakat ternyata cukup baik, dari percobaan sederhana tersebut, usaha Sop Buntut Ma'Emun perlahan berkembang.
Nama Ma'Emun sendiri diambil dari nama Siti Maimunah, istri Abah, nama tersebut kemudian melekat pada usaha keluarga yang terus diteruskan oleh keturunannya hingga sekarang.
Pada awal berjualan, lokasi usaha belum menetap, warung sempat berpindah-pindah di sekitar Jalan Jenderal Sudirman, salah satunya di lokasi yang kini menjadi kantor JNE.
“Dulu awalnya bukan di sini, tapi di tempat yang sekarang jadi kantor JNE, zaman dulu masih rumah-rumah lama dan warungnya berbentuk gubuk kecil yang agak turun ke bawah," sebutnya.
Kala itu, penjual sop buntut belum banyak, harganya pun masih sangat terjangkau, sekitar Rp1.000 hingga Rp5.000 seporsi.
Seiring waktu Sop Buntut Ma'Emun memiliki pelanggan dari berbagai generasi, sebagian pelanggan senior bahkan masih mengingat rasa sop tersebut sejak mereka kecil, ketika datang bersama orang tua.
Ma'Emun sendiri meninggal sekitar tahun 2000 dalam usia 99 tahun, setelah itu, usaha diteruskan oleh anaknya yang sejak awal ikut membantu berjualan.
Bisnis keluarga kemudian berkembang ketika anak dan cucu Ma'Emun ikut meneruskan usaha tersebut. Beberapa anggota keluarga bahkan membuka tempat usaha masing-masing setelah meminta resep dari Ma'Emun ketika masih hidup.
“Pokoknya kalau ada nama Ma'Emun, itu sudah pasti dari keluarga," jelasnya.
Kini, keluarga Ma'Emun memiliki empat tempat usaha di Bogor dan satu di Bandung. Nuni menegaskan, tempat-tempat tersebut bukan cabang dalam satu jaringan usaha, melainkan dikelola oleh keturunan dan saudara Ma'Emun.
Resep dasarnya tetap berasal dari warisan keluarga, meski begitu, rasa di setiap tempat bisa sedikit berbeda karena proses memasaknya dilakukan oleh orang yang berbeda.
Selain resep, proses memasak juga menjadi tradisi yang terus dipertahankan, buntut sapi biasanya tiba sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah dibersihkan dan diikat, buntut kemudian direbus dan dimasak hingga malam.
Proses tersebut dilanjutkan kembali pada pagi hari, cara memasak yang panjang membuat bumbu lebih meresap dan menyatu dengan kuah serta daging.
“Buntut direbus dan dimasak sampai malam, kemudian besok paginya dimasak lagi hingga makin matang, karena prosesnya panjang, bumbunya benar-benar meresap dan menyatu," jelasnya.
Cara memasak itu berbeda dengan zaman Ma'Emun masih berjualan, dahulu, sop dimasak menggunakan kayu bakar yang menurut keluarga turut memberikan aroma khas pada masakan.
Kini, proses memasak telah beralih menggunakan gas tetapi cita rasa warisan keluarga tetap dipertahankan.
Menu yang ditawarkan pun masih sederhana, selain sop buntut, warung menyediakan nasi dan perkedel sebagai pelengkap.
Saat ini, satu porsi sop buntut dibanderol Rp58.000, belum termasuk nasi seharga Rp8.000 per porsi.
Warung mulai buka sekitar pukul 10.00 WIB, jika sedang ramai, sop bisa habis sekitar pukul 11.30 WIB hingga 12.30 WIB.
Dalam sehari, Sop Buntut Ma'Emun dapat menghabiskan sekitar 150 porsi, bahkan lebih, jumlah tersebut bisa meningkat ketika pelanggan membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang.
Warung buka setiap hari tanpa hari libur tetap, libur dilakukan ketika ada keperluan keluarga, pasokan buntut sapi terbatas, atau saat hari raya seperti Idulfitri dan Iduladha.
Lebih dari lima dekade berlalu sejak buntut sapi pemberian panitia kurban itu pertama kali diolah. Dari lahan kosong di dekat rumah, resep keluarga Ma'Emun tumbuh menjadi usaha yang diwariskan lintas generasi.
Kini, semangkuk sop buntut Ma'Emun bukan sekadar hidangan, ia menjadi jejak perjalanan sebuah keluarga sekaligus bagian dari cerita kuliner Kota Bogor yang terus bertahan di tengah perubahan zaman. (uma)
Editor : Eka Rahmawati