RADAR BOGOR – Di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Sugiono, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia mencapai era baru relasi internasional.
Salah satu langkah konkret yang dicapai dalam tiga bulan ini adalah bergabungnya Indonesia dalam kelompok negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan).
BRICS merupakan salah satu forum penting yang menyatukan negara-negara dengan perekonomian berkembang besar dan memiliki pengaruh signifikan dalam isu-isu global.
Keanggotaan Indonesia di dalamnya membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi diplomatik dan memberikan dampak positif terhadap kebijakan luar negeri yang berorientasi pada perdamaian dan keadilan.
Sugiono mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil dari diplomasi yang matang dan panjang.
Meski ada kekhawatiran hal itu bertentangan dengan semangat politik bebas aktif, baginya yang terjadi justru sebaliknya.
’’Keanggotaan Indonesia di BRICS wujud dari politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif,’’ ujarnya.
Seperti diketahui, BRICS merupakan forum yang dimotori Rusia dan Tiongkok. Organisasi itu kerap dianggap sebagai lawan dari OECD yang dipimpin Amerika Serikat dan Eropa.
Namun, Sugiono menegaskan, keanggotaan Indonesia dalam BRICS bukanlah kebijakan yang terisolasi.
Sebab, sebelumnya Indonesia pun aktif di kelompok yang lain, seperti G20, APEC, IPEF, MIKTA, dan CPTPP.
Saat ini Indonesia juga tengah berupaya untuk masuk ke anggota OECD.
’’Sekarang kita dalam tahap aksesi sebagai anggota OECD,’’ imbuhnya.
Sugiono meyakini, keberhasilan Indonesia bergabung dengan BRICS akan berdampak pada hubungan ekonomi antarnegara.
Keanggotaan itu juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara seperti Tiongkok dan India.
Keduanya merupakan mitra strategis Indonesia di bidang perdagangan dan investasi.
Kemenlu juga aktif menyerukan perdamaian di Palestina.
Sugiono menyambut baik gencatan senjata di Gaza. (far/c6/bay)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim