RADAR BOGOR – Pelaksanaan survei lapangan atau groundcheck menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan data desil masyarakat tercatat dengan benar.
Melalui proses ini, pemerintah memiliki kesempatan memperbaiki ketidaksesuaian antara data di sistem dengan kondisi nyata di lapangan.
Hal ini sangat krusial karena desil bukan sekadar angka pengeluaran per kapita, melainkan gambaran menyeluruh tentang kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.
Dengan groundcheck, potret kesejahteraan dapat diperbarui sehingga program bantuan dan kebijakan pembangunan bisa lebih tepat sasaran.
Desil 1
Kelompok masyarakat yang tergolong sangat miskin.
Mereka memiliki pengeluaran kurang dari Rp500 ribu per kapita per bulan.
Kondisi kehidupan kelompok ini sulit karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, tinggal di daerah terpencil dengan rumah tak layak huni, serta rentan mengalami gizi buruk.
Desil 2
Mencerminkan masyarakat miskin dengan pengeluaran sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per kapita per bulan.
Mereka masih mengalami kesulitan dalam mengakses makanan bergizi, umumnya bekerja di sektor informal kasar, dan memiliki keterbatasan dalam pendidikan serta layanan kesehatan.
Desil 3
Dikelompokkan sebagai masyarakat hampir miskin karena rata-rata pengeluaran per kapita per bulan hanya sekitar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu.
Pada lapisan ini, masyarakat mulai bisa mengonsumsi kebutuhan pokok secara rutin meskipun hanya tinggal di rumah sederhana.
Namun, mereka tetap rentan untuk kembali jatuh ke kategori miskin.
Desil 4
Kelompok menengah bawah dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp1,2 juta per kapita per bulan.
Masyarakat pada desil ini sudah mampu melakukan konsumsi lebih beragam, memiliki kendaraan roda dua, dan anak-anak mereka bersekolah di tingkat dasar.
Desil 5
Kelompok masyarakat menengah bawah yang lebih stabil.
Dengan pengeluaran Rp1,3 juta hingga Rp1,5 juta per kapita per bulan, kelompok ini memiliki akses terhadap listrik, air bersih, dan sekolah yang lebih baik.
Mereka juga mulai bisa menyisihkan penghasilan untuk menabung walaupun jumlahnya terbatas.
Desil 6
Masuk dalam kategori menengah dengan pengeluaran Rp1,6 juta hingga Rp1,8 juta per kapita per bulan.
Pada tahap ini, konsumsi nonmakanan mulai meningkat, misalnya transportasi dan pulsa.
Selain itu, mereka umumnya sudah membayar iuran BPJS secara mandiri.
Desil 7
Digolongkan ke dalam kelompok menengah atas, ditandai dengan pengeluaran per orang setiap bulan sekitar Rp2 juta hingga Rp2,3 juta.
Ciri khas mereka adalah kepemilikan kendaraan dan gadget, akses internet, serta memberikan prioritas tinggi pada pendidikan anak.
Desil 8
Tergolong sebagai kelompok mapan.
Dengan pengeluaran Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per kapita per bulan, mereka mampu melakukan investasi kecil seperti emas atau deposito, memiliki kendaraan, serta bisa menyisihkan dana untuk rekreasi.
Desil 9
Kelompok masyarakat kaya dengan pengeluaran Rp3,5 juta hingga Rp4,5 juta per kapita per bulan.
Mereka biasanya tinggal di perkotaan dengan rumah permanen, berwirausaha atau bekerja di bidang profesional, serta memiliki akses terhadap layanan premium.
Desil 10
Kelompok sangat kaya atau elit dengan pengeluaran lebih dari Rp5 juta per kapita per bulan.
Mereka mampu melakukan konsumsi mewah, memiliki aset besar termasuk properti, serta memegang kekuasaan ekonomi melalui investasi besar dan kepemilikan usaha.
Melalui pembagian desil ini, terlihat jelas bagaimana perbedaan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Indonesia.
Dari kelompok sangat miskin hingga elit, setiap lapisan menunjukkan ketimpangan dalam akses kebutuhan dasar, kepemilikan aset, dan peluang ekonomi yang tersedia.
Inilah sebabnya, data desil yang akurat melalui groundcheck sangat dibutuhkan agar kebijakan dan bantuan benar-benar menyentuh masyarakat sesuai kondisi nyata mereka.***
Editor : Eli Kustiyawati