RADAR BOGOR - Saat ini, berbagai media sosial diramaikan dengan beredarnya berbagai foto maupun video yang bernarasi para anggota DPR RI ke luar negeri ketika ada aksi demonstrasi.
Salah satunya, video yang memperlihatkan Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa bersama sejumlah anggota DPR seperti Gulam Mohamad Sharon, Asep Wahyuwijaya dan yang lainnya kini dinarasikan sedang ada di luar negeri.
Dalam video tersebut, tampak Saan Mustopa bersama anggota DPR lainnya bersama berjalan kaki di trotoar hingga menyeberang jalan di luar negeri.
Menanggapi video viral tersebut, Anggota DPR RI Asep Wahyuwijaya menegaskan, video tersebut sudah lama bahkan sebelum adanya peristiwa demontrasi.
Menurut Asep Wahyuwijaya, video yang beredar tersebut adalah saat pihaknya kunjungan kerja ke Melbourne, Australia pada bulan lalu.
Pihaknya berharap, masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan video maupun gambar yang bernarasi tidak benar sehingga dapat memperkeruh suasana.
"Saat ini, saya sedang ada di tanah air, tidak kemana-mana. Kang Saan pun sebagai Waketum DPP Partai NasDem sedang mengikuti acara Rakerwil DPW Partai NasDem Jawa Barat di Bandung," ucap Asep Wahyuwijaya saat dikonfirmasi Radar Bogor, Sabtu 30 Agustus 2025.
Lebih lanjut ia mengatakan, kunjungan kerja ke Australia tersebut dilakukan untuk membahas peluang peningkatan dagang Indonesia ke Australia sebagai akibat dari Kebijakan Donald Trump yang meningkatkan tarif bea masuk barang Indonesia yang diekspor ke Amerika.
Peningkatan dan perluasan pasar ekspor penting kita lakukan agar perekenomian di Indonesia terus tumbuh, imbuh salah seorang Ketua DPP Partai NasDem ini.
Asep Wahyuwijaya mengungkapkan, hubungan perekonomian Indonesia dan Australia sangat erat dan saat ini masih berlaku Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia–Australia atau Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
Perjanjian ini merupakan perjanjian bilateral antara Australia dan Indonesia yang mencakup kesepakatan perdagangan bebas antara kedua negara dengan menghapuskan bea masuk hampir semua produk yang diperdagangkan antara kedua negara.
"Kebijakan Trump saat ini kan menaikan tarif bea masuk barang kita ke negaranya, sementara kalau ke Australia, barang kita bebas bea masuk, jadi barang kita kalau bisa dijual di Australia, bisa lebih kompetitif," jelas politisi asal Bogor ini.
"Dalam pertemuan itu kita membahas dan menerima banyak masukan untuk bahan pengambilan kebijakan di dalam negeri kita agar potensi dagang kita ke Australia bisa lebih ditingkatkan," sambungnya.
"Saya kira penting juga untuk diketahui semuanya jika neraca perdagangan Indonesia dengan Australia hingga saat ini masih mengalami defisit," kata Asep Wahyuwijaya.
Artinya, kata dia, secara terus menerus Australia masih jauh lebih banyak mengekspor barangnya ke Indonesia, ketimbang barang Indonesia yang dijual ke Australia.
"Impor kita dari Australia seperti daging sapi, susu dan yang lainnya masih tinggi," tutur pria yang biasa disapa kang AW tersebut.
Salah satu faktornya, sambung kang AW, karena Australia bisa memanfaatkan secara maksimal perjanjian dagang itu.
"Dalam konteks itu, kita datang menemui stakeholders kita di Australia untuk mendalami hal tersebut dan berdiskusi lebih dalam tentang hal apa saja yang harus dilakukan oleh Indonesia agar neraca perdagangannya meningkat, barang dari Indonesia termasuk dari UMKM pun bisa lebih banyak lagi dikirimkan ke Australia," tutur Asep Wahyuwijaya.
"Hal apa saja yang telah dilakukan pihak Australia dengan perjanjian itu sehingga mereka bisa berdagang lebih banyak lalu apakah masih ada hambatan yang dirasakan para eksportir Indonesa sehingga barang kita susah masuk. Kita mendiskusikan banyak hal terkait masalah ini, yang pada intinya kita tentu berharap dengan kunjungan ini bisa menjadi ikhtiar meningkatkan perekonomian di negara kita," pungkas Asep Wahyuwijaya. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim