Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Tukang Tempe Global: Mulai dari Dapur Kecil, Ekspor ke 12 Negara, dan Memberikan Layanan MBG

Yosep Awaludin • Rabu, 19 November 2025 | 10:59 WIB
Direktur PT Azaki Food Internasional Cucup Ruhiat
Direktur PT Azaki Food Internasional Cucup Ruhiat

RADAR BOGOR—Direktur PT Azaki Food Internasional Cucup Ruhiat akhirnya membuktikan bahwa bisnis kecilnya dapat mencapai tingkat global, meskipun sebelumnya dipandang sebelah mata.

Produksi tempe Azaki telah berhasil masuk ke pasar di dua belas negara di Asia dan Eropa. Pabrik tempe beku Azaki di Bogor dan Sukabumi menghasilkan lebih dari 150 ton tempe sebulan.

Produk ini juga dikirim ke Malaysia, Korea Selatan, Arab Saudi, Chile, Australia, dan Inggris.

Cucup baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman perdagangan dengan perusahaan di Arab Saudi dan Chile.

Salah satu tujuan kerja sama adalah mengirim tiga kontainer tempe beku setiap bulan ke Jeddah, Arab Saudi, dan dua belas kontainer setiap tahun ke Chile. "Saya tidak pernah mengira bisa ekspor," katanya.

Cucup mengatakan bahwa ketekunan dan dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan pasar adalah bagian dari kesuksesan mengangkat dapur kecilnya ke panggung global.

Pada tahun 2005, Cucup memulai bisnisnya bersama sang kakak. Agar penjualan dapat meningkat, ia mendorong para pengrajin tempe untuk memperbaiki manajemen dan meningkatkan kualitas produk mereka.

Ia sempat memperluas pasar Azaki ke Kalimantan, tetapi usaha itu berhenti selama hampir sepuluh tahun. Pada tahun 2016, titik balik terjadi.

Cucup memutuskan untuk mulai belajar tentang tempe, cara membuatnya, dan standar industri dari nol.

Ia telah menyelesaikan berbagai sertifikat perizinan, termasuk sertifikat halal dan sertifikat keamanan pangan BPOM, dan ia bahkan berusaha membuat keripik tempe, tetapi produk itu tidak diterima di pasar.

Cucup tetap bergerak, tidak patah semangat. "Dari situ saya tahu, ternyata tempe termasuk superfood, makanan bergizi tinggi yang diakui dunia," katanya.

Ia pun sambil memperluas jaringannya dengan belajar dari produsen tahu kontemporer, Rumah Tempe Indonesia.

Saat pandemi COVID-19 melanda, ada peluang besar. Saat banyak perusahaan bangkit, proses perizinan telah beralih ke sistem digital, yang membuat pengurusan dokumen yang sebelumnya rumit menjadi lebih mudah.

"Pandemi justru membuat semuanya lebih mudah karena semuanya online. Saya sangat terbantu," ujarnya.

Karena permintaan yang tinggi, termasuk dari perusahaan asing, produksi tempe Azaki terus meningkat sejak saat itu.

Akhirnya, UMKM seperti Azaki, yang awalnya hanya mengandalkan dapur kecil, menjadi pemain global. Permintaan tempe untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) meningkatkan pendapatan Cucup.

Ratusan dapur MBG di lebih dari 15 kota di Tanah Air sekarang mendapatkan tempe dari Azaki sebagai sumber protein nabati.

"Kami dapat menyediakan lima hingga lima belas dapur MBG untuk satu rumah produksi," tutur Cucup.

Karena itu, dia percaya bahwa MBG menciptakan rantai nilai baru karena petani kedelai menjadi lebih baik, produsen tempe menjadi lebih baik, tenaga kerja lokal diserap, dan industri pengolahan pangan semakin terlibat dalam kebijakan nasional. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #Mbg #tempe